MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Saling Sindir


__ADS_3

"Jadden? Itukah kau?" Jarvis memandang lekat Jadden dari kaki hingga kepala, tidak menyangka perubahan kakaknya.


"Siapa lagi?" respon pendek Jadden sembari berdiri dan berhadapan dengan Jarvis dan Floretta.


"Kau sangat berubah," ujar Jarvis  masih tercengang.


Jadden mendadak menarik Jarvis dalam pelukannya. Pegangan tangan Floretta di lengan Jarvis terlepas bahkan ia tersendeng sampai beberapa langkah ke belakang. Untung saja, keseimbangan Floretta masih baik sehingga tidak berakhir di rerumputan taman.


Jadden sebenarnya menyaksikan semuanya dari belakang punggung Jarvis. Sayangnya, ia membiarkan saja Floretta yang kaku sembari memeluk lengannya sendiri.


Awal Floretta mendengar kabar dari Stephanie kalau Jadden akan kembali ia merasa senang. Floretta dengan percaya diri mengatakan akan hadir ke acara jamuan makan keluarga Meyer.


Sudah hanpir sepuluh tahun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, begitu pikiran Floretta.


Namun, begitu melihat Jadden,  berada dalam jarak dekat lalu mendengar suaranya, Floretta malah berubah m muram.


Jarvis cepat mengurai pelukan Jadden. Selama ini dan masa lalu mereka tidak begitu akrab sebagai saudara, pelukan mendadak Jadden membuat Jarvis sedikit risih.


Jarvis tersadar kalau Floretta tidak lagi di sampingnya. Ia menoleh ke belakang dan menghampiri istrinya. Jarvis tidak menyadari apapun, ia hanya senang sebab Floretta duluan yang menyentuh lengannya tadi.


Floretta dirangkul oleh Jarvis mendekat ke arah Jadden.


"Jadden, kau melakukan operasi plastik?" Jarvis melanjutkan kalimatnya dengan pertanyaan yang mendapat respon tawa dari Jadden.


"Tentu saja tidak. Aku hanya melasik mata, mengganti gaya rambut dan berpakaian, berolahraga membentuk tubuh. Ya, inilah aku," jelasnya sambil merentangkan tangan. Sesekali matanya melirik istri adiknya sendiri.


Floretta tidak tertarik dengan cerita Jadden. Kepalanya hanya menunduk. Ia ingin pergi sesegera mungkin dari sana.


"Pantas saja 10 tahun menjauh, mengubahmu drastis."


Penilaian Jarvis itu membuat Jadden tertawa terbahak.


"Tidak semua di masa lalu pantas untuk dipertahankan."


Floretta membuat gerakan menarik jas casual hitam yang juga dikenakan oleh Jarvis. Pria itu seperti mengetahui keinginan istrinya.


"Oke Jadden, Floretta sepertinya tidak tahan dengan udara yang semakin dingin." Jarvis bisa merasakan kalau tubuh Floretta yang tidak tertutupi busana terasa dingin, ia mengusap lengan Floretta perlahan.

__ADS_1


Mereka meninggalkan Jadden yang menatap pasangan suami istri itu masuk ke dalam rumah.


"Kau tidak apa-apa? Wajahmu memucat," tanya Jarvis begitu mendudukkan Floretta di sebuah bangku di ruang keluarga.


Floretta menggeleng, ia menggerakkan bahunya, menandakan agar Jarvis melepaskan rangkulannya.


Jarvis melakukannya, dia malah berlutut di hadapan Floretta ingin melihat langsung wajah Floretta dari depan.


Floretta menundukkan wajahnya, suasana hatinya kurang baik. Namun, berkat Jarvis ia bisa bernafas lega kini.


Jarvis mengangkat dagu Floretta dengan jarinya. "Kau bersedih?"


Floretta menggeleng.


"Atau kau marah padaku karena aku ingkar janji untuk datang tepat waktu?"


Floretta mengangguk. Itu jawaban terbaik menurut Floretta.


Jarvis terkekeh. Ia memegang jemari Floretta lalu menggenggamnya. "Maafkan aku tidak mengabari, ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan." Jarvis menyentuh lembut wajah istrinya.


Floretta tidak berontak seperti biasa, meskipun ia hanya diam. Otaknya seolah-olah terhipnotis akan kehadiran Jarvis.


Jadden tidak menyangka kalau Jarvis yang dulu menolak mentah-mentah Floretta, kini sangat akur dan romantis dengan istrinya.


"Halo semua anggota keluarga Meyer, mohon perhatian." Stephanie menepuk tangannya. Semua perhatian mengarah padanya. Stephanie meminta semua berkumpul di ruang keluarga.


"Malam hari ini kita bergembira karena Jadden Meyer telah kembali ke kota Heligore." Stephanie mengawali sambutannya dengan perasaan senang dengan ukas senyum manis.


"Bagi kami, ayah kalian dan aku, ini momen yang sangat ditunggu-tunggu, mengingat kami semakin sepuh dan ingin melihat anak-anak berada di dekat kami."


"Selama ini Jadden tinggal di negara Kowabuda menjadi seorang dosen jurusan informatika, tepatnya pada Universitas Gomahyt yang berada di kota Monortef."


"Mari kita sambut Jadden, anak tertua keluarga Meyer." Anggota keluarga bertepuk tangan, Jadden berjalan menuju samping Stephanie.


"Berikan sambutanmu Jadden," bisik Stephanie lalu bergeser ke arah Jarish dan berdiri di sampingnya.


"Terima kasih telah menyambutku pulang. Semua telah berbeda dari sepuluh tahun yang lalu, termasuk aku." Mata Jadden memandang satu per satu anggota keluarganya.

__ADS_1


"Jarvis bahkan telah memiliki dua orang anak lucu-lucu bersama Floretta." Tatapannya berhenti pada Floretta yang sontak beralih memandang objek lain.


"Aku meninggalkan tugas sebagai dosen di universitas Gomahyt. Di sini aku mengembangkan perusahaan konsultan informasi teknologi yang semula aku rintis di kota Monortef."


"Aku tidak berbakat mengurusi wajah perempuan seperti Jarvis dengan skincare-nya". Semua tertawa mendnegarnya, tidak termasuk Floretta.


"Tadi pagi, aku telah mengunjungi makam ibu yang telah melahirkanku. Ia berpulang dalam tubuh yang diserang rasa sakit. Di sana aku berjanji akan menjadi Jadden Meyer yang jaya dan berhasil. Bukan dibantu oleh kekayaan siapa-siapa," lontar Jadden berapi-api, ucapannya seolah-olah menyindir seseorang.


Ia mengangkat gelas yang berisi alkohol yang biasa diminum bila ada pesta keluarga. "Mari bersulang demi keluarga Meyer."


Semua ikut mengangkat gelas masing-masing lalu meminumnya dengan suasana hati yang gembira. Floretta mengikuti juga cara itu, meskipun gelasnya hanya berisi air mineral hangat.


Usai Jadden memberi sambutan yang dihadiahi tepuk tangan anggota keluarga yang meriah, Jarvis memiliki ide untuk menyampaikan berita gembira dari keluarga kecilnya.


"Aku akan mengumumkan kehamilanmu," bisiknya pada Floretta, begitu Jadden berpelukan dengan Stephanie dan Jarish.


"Tidak perlu," Floretta terlihat keberatan dengan ide suaminya.


"Apa masalahnya?"


"Kehamilan ku masih muda, nanti saja kita umumkan." Floretta sampai menggeleng dan menarik-narik jas kasual Jarvis agar tidak pergi ke tempat Jadden dan Stephanie tadi berdiri.


"Tenanglah Flo, sekarang dan nanti tetap sama, kau akan melahirkan keturunan Meyer lagi." Jarvis mengusap pipi Floretta, mengabaikan permintaan istrinya.


Bagi Jarvis memiliki anak ketiga adalah kegembiraan baginya, terlebih ada rasa berbeda di dalam batinnya dibandingkan pengalaman sewaktu Dael dan Rosalie di dalam kandungan.


"Mohon perhatiannya," ucap Jarvis menyita perhatian anggota keluarga.


"Selamat datang kembali ke rumah untuk kakak ku, Jadden." Jarvis menyempatkan diri mengucapkannya.


"Bagiku perusahaan skincare bukan hanya soal wajah wanita, tetapi juga secara pribadi aku mengapresiasi wanita dengan jenis kulit dan warna kulit apa saja. Pepatah lama mengatakan 'wanita ingin dimengerti', maka perusahaanku akan terus berkembang di bidang itu."


Jadden tersenyum mendengarnya, ia menolehkan pandangan pada Floretta yang sedang duduk menatap datar ke arah Jarvis.


"Dalam kesempatan ini, aku juga ingin mengabarkan berita gembira: istriku, Floretta, saat ini tengah mengandung cucu ketiga keluarga Meyer. Mohon dukungan keluarga." Sontak seisi rumah bersorak dan bertepuk tangan gembira. Floretta membalas dengan senyum sumringah pula.


"Sebagai adik, aku harap Jadden menemukan pasangan yang sepadan agar bisa merasakan menjadi ayah dan suami, tidak sendirian merasakan kejayaan," lontar Jarvis membalas sindiran Jadden.

__ADS_1


Anggota keluarga tertawa mendengarnya, mereka menilai Jarvis dan Jadden saling melempar canda. Sementara itu, bagi kedua keturunan Meyer, mereka seperti berkompetisi akan kisah hidup masing-masing.


Floretta mengamati kedua kakak beradik itu dari jarak jauh, mereka saling melepaskan tatapan tajam, meskipun bibir tersenyum.


__ADS_2