MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Hemoglobin Rendah


__ADS_3

Emosi begitu menguasai diri Floretta, sampai-sampai gelap mata ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Melihat pisau di lemari pajangan, ia menyeret diri untuk mengambil dan ingin merasakan tajamnya mata pisau di kulitnya.


Pedih rasa hati Floretta mengetahui fakta bahwa Jarvis berhubungan terlalu dalam sampai memiliki anak dari perempuan selingkuhannya dari tahun awal pernikahan mereka.


Floretta semakin merasa tidak berharga di mata Jarvis, suami yang selama ini dicintainya dengan tulus. Selama sembilan tahun pernikahan, Floretta selalu menerima Jarvis dengan sikap dingin dan kurang perhatian pada dirinya.


Floretta optimis suatu hari akan memenangkan hati Jarvis. Pria itu akan berbalik menginginkan Floretta sampai menjadi budak cinta seperti dalam kisah novel yang sering dibacanya di sela waktu senggang.


Nyatanya, kesabaran Floretta ada batasnya. Batinnya menyerukan kepayahan dan kelelahan yang berat, selama ini ada beban bertumpuk yang tidak ia sadari telah membebani jiwanya. Mungkin inilah yang disebut jerat ekspektasi, impian cinta dan kekecewaan terhadap Jarvis tidak terkendali.


Floretta sampai melupakan kebahagiaan lain yakni Dael dan Rosalie, sosok yang menempatkan dirinya sebagai malaikat tak bersayap. Dael seringkali mengungkapkan kalau hati ibunya sangat cantik seperti kembang di taman kediaman mereka, bahkan ia pernah mengatakan pada Rosalie, sewaktu mereka bermain, bila dewasa jadilah secantik ibu mereka.


Floretta dibawa oleh Jarvis ke rumah sakit tempat dirinya dirawat beberapa waktu lalu, Maureen Dobby dokter yang menangani kesehatannya.


Perempuan itu terkejut mendapati kondisi Floretta yang tidak baik-baik saja, dengan kondisi pingsan. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan darah, diketahui kalau Floretta mengalami anemia karena kadar hemoglobinnya 9,5 gr/dL pada trimester kedua kehamilannya.


"Floretta akan dirujuk ke ahli hematologi, spesialis darah, untuk memastikan penyebabnya dan pengendalian anemianya seperti apa."


"Apakah dia akan baik-baik saja Maureen?" tanya Jarvis. Saat ini mereka sedang berada di ruang rawat eksklusif Floretta. Sementara itu, Floretta berbaring lelap di ranjang pasien.


Maureen mengajak Jarvis bicara ke ruang dokter, suara mereka bisa saja menganggu Floretta dan pasien hamil lain yang membutuhkan istirahat.


Maureen mempersilakan Jarvis duduk. "Apakah kau selalu cek bagaimana nutrisi istrimu sehari-hari?" tanya Maureen begitu ia duduk di bangkunya setelah menggantungkan jas periksa pasiennya.


Jarvis terdiam, tentu saja ia tidak punya waktu banyak untuk mengetahui jenis makanan apa saja yang disantap oleh Floretta sehari-hari. Jarvis mengira apa yang dilahapnya, bisa jadi dikonsumsi pula oleh Floretta sebab sarapan mereka selalu bersama di ruang makan.


"Aku... tidak tahu banyak Maureen. Maklumlah aku orang yang sibuk," kilah Jarvis.


"Aku lihat di data pasien, ini anak ketiga kalian, apakah di kehamilan anak pertama dan kedua kau melihat perbedaan nutrisi dengan kehamilannya kali ini?" Maureen terus ingin menggali seberapa baik support Jarvis sebagai seorang suami. Menerangkan sepanjang-panjangnya masalah kesehatan seorang istri pada suami yang tidak perhatian, bisa tetap berakhir sia-sia, batin Maureen.


Jarvis malahan mengendikkan bahunya, ia sama sekali tidak memiliki pengalaman mendampingi istri yang sedang hamil. Jarvis mendadak mengumpati dirinya sendiri yang absen di kehamilan pertama dan kedua istrinya. Kau memang pantas diceraikan, Jarvis Meyer!!

__ADS_1


"Maureen kau tidak harus menggali kehamilan sebelumnya, sebaiknya katakan saja apakah Floretta akan baik-baik saja dengan kondisinya seperti saat ini?" Jarvis balik menegur Maureen, menutupi kekurangannya sendiri.


Maureen menggelengkan kepalanya. "Aku seorang dokter kandungan dan sekaligus temanmu, Jarvis. Masa lalu kita sangat baik sehingga aku merasa perlu memperingatkan sesuatu padamu. Pasienku bukan hanya Floretta yang memiliki suami pengusaha, banyak sekali yang punya kasus seperti Floretta ini. Namun, aku tidak pernah memperingatkan para suami seperti padamu karena kita teman."


Jarvis merasa tidak enak mendengar perhatian Maureen pada Floretta dan dirinya. Ternyata Maureen ingin yang terbaik bagi mereka.


"Maafkan aku, Maureen." lirih Jarvis.


"Ya, aku sudah memaafkanmu. Aku biasa dibentak dan dimarahi oleh kaum pengusaha yang merasa aku membuang-buang waktu mereka bila menerangkan panjang lebar tentang komplikasi kehamilan, pre eklampsia, dan lainnya yang dialami istri pada si suami. Mereka hanya siap membuat anak, tetapi tidak sungguh-sungguh merawat istri mereka yang mengalami gangguan kehamilan." Maureen menutup matanya lalu menarik nafas panjang. "Maafkan aku, jadi emosional karena hal ini."


Jarvis menganggukkan kepalanya menerima ucapan Maureen.


"Kita akan mengetahui bagaimana profil darah istrimu. Yang perlu kau ketahui, anemia pada ibu hamil memiliki resiko persalinan prematur, perdarahan, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, berat badan lahir rendah ...."


Melihat kening Jarvis mengernyit dan meringis membuat Maureen menghentikan ucapannya.


"Ada masalah denganmu?" tanya Maureen.


"Ya, apalagi kalau tergolong berat, kematian ibu dan anak adalah akibat paling fatal."


Mata Jarvis sampai membeliak dengan mulut menganga. Ia tidak menyangka efek anemia yang timbul bisa separah itu.


"Jadi, apa yang seharusnya dilakukan, Maureen?"


"Pengobatan medis oleh dokter dan tugas seorang suami memberi perhatian pada istrinya. Sebenarnya sebelum hal ini terjadi, kau bisa melihat beberapa gejala yang muncul pada Floretta," jelas Maureen. "Pada dokter kandungan mana Floretta memeriksa kandungannya sebelum kejadian darurat datang kepadaku?" tanya dokter Maureen lagi.


Jarvis gelagapan menjawab pertanyaan Maureen. Ia tidak pernah tahu ke dokter mana sang istri pergi memeriksakan diri. Floretta tidak pernah memintanya untuk menemani mengunjungi dokter kandungan.


Jarvis berjanji pada dirinya untuk bertanya nanti pada Rayya dan Walden.


"Ya, kau tidak perlu menjawab, Jarvis." Maureen seolah-olah telah mengetahui jawaban pastinya dari gelagat gelisah tubuh Jarvis.

__ADS_1


Jarvis keluar dari ruangan Maureen, ia melangkah menuju kamar rawat Floretta. Namun, sebelum mendapati lokasi, Walden yang ada di dekat ruang rawat berjalan cepat menghampirinya.


"Tuan, maafkan saya... ada yang ingin saya sampaikan," ucap Walden setelah membungkukkan tubuhnya di hadapan Jarvis.


"Ada apa Walden?"


"Saya mendapat laporan dari Rayya bahwa ada media ingin menghubungi nyonya untuk mendapat tanggapan atas klarifikasi pernyataan Nona Alleta Nicoline yang terbaru, Tuan."


Jarvis mendadak kaku mendengar nama perempuan yang sedang berusaha merusak nama baik dan hubungan pernikahannya. Jarvis sama sekali belum mengikuti perkembangan sebab begitu fokus pada perusahaannya.


"Katakan pernyataan apa?" desak Jarvis.


"Nona Alleta menyebut... maaf Tuan... Tuan memiliki seorang anak perempuan bersamanya."


Bagai disambar petir Jarvis terdiam sembari mengepalkan tangannya di samping tubuh. Jarvis membeku sekalian terbakar. "Alleta, kau cari mati rupanya!" geramnya dnegan suara tertahan.


Kilat amarah Jarvis membuat Walden menundukkan kepalanya. Pria itu tidak pernah melihat Jarvis semarah itu pada seseorang.


Sepengetahuan Walden, Jarvis memiliki pengendalian emosi yang baik. Itulah sebabnya, keretakan hubungannya dengan Floretta bisa disembunyikan selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, Walden adalah pekerja yang peka selama melayani Jarvis dan Floretta.


Jarvis diminta Walden untuk memanggil Rayya dan meminta dibawakan ponsel Floretta padanya.


Selang beberapa waktu Rayya datang tergesa-gesa ke rumah sakit.


"Ini, Tuan."


Jarvis melihat isi pesan dan daftar panggilan Floretta. Di sana ia mendapati pesan dari Alice yang berisi tautan pernyataan Alleta.


Amarah Jarvis benar-benar tepat di atas kepalanya, sebaliknya ia harus menenangkan diri agar tidak kalap dan salah bertindak.


Jarvis meminta agar Walden menjagai Floretta selama belum siuman, sementara Rayya diminta kembali pulang untuk memperhatikan Dael dan Rosalie bersama pengasuh mereka. Ayah dua anak itu melangkah keluar rumah sakit untuk menemui Alleta yang berani menabuh genderang perang dengannya.

__ADS_1


Jarvis baru menyadari kalau kejadian hari ini ada kaitannya dengan pemberitaan dan pernyataan Alleta di media sosial.


__ADS_2