
"Tuan," Walden menundukkan kepalanya sedikit. Jarvis memandang Walden tajam. "Nyonya tersandung saat berlari, cidera pergelangan kaki serta lutut berdarah." Walden berusaha menjelaskan kejadian tadi.
Jarvis melihat celana panjang Floretta tersingkap hingga ke atas lutut memperlihatkan luka memar terbuka di kaki kiri.
Floretta memandang Jarvis yang hanya diam tanpa memberi reaksi dan respon apapun.
"Walden, ayo. Lukaku harus segera diobati," ujar Floretta menoleh pada Walden dan menggoyangkan kakinya.
Walden agak ragu melangkah. "Walden, kau dengar aku?" tanya Floretta mengawai tangannya di depan wajah Walden.
"Permi--"
"Berikan Floretta padaku," ucap Jarvis menghentikan kelanjutan perkataan Walden.
Floretta memandang Jarvis seksama, mengamati setelan rapi suaminya. "Bukannya kau ingin ke kantor? Biar Walden saja yang membopongku ke dalam rumah," sanggah Floretta tanpa merasa canggung dan bersalah.
Tanpa banyak bicara Jarvis menarik tubuh Floretta ke gendongannya. "Aww... pelan-pelan, pakaianmu mengenai lukaku." Kaki kiri Floretta berada dekat dengan kain lengan Jarvis berbeda dengan kondisi saat dibopong Walden.
Jarvis melangkah lebar menuju pintu utama. Di ruang tamu, mereka berpapasan dengan Rayya yang membawa kotak obat.
"Bawa obatnya, Rayya," perintah Jarvis. Rayya bertubuh mungil berlari kecil mengikuti langkah Jarvis menuju kamar pribadi mereka.
Jarvis membaringkan Floretta di sofa, ia mengambil kotak obat dari tangan Rayya, wajah Rayya melongo dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi ucapan Jarvis selanjutnya menghentikan niat Rayya berbicara.
"Kau pergilah, biar aku yang mengobati."
Rayya menatap Floretta yang memberi anggukan samar. "Permisi Tuan dan Nyonya." Setelah itu, Rayya keluar lalu menutup pintu kamar.
Jarvis pergi ke kamar kecil, ia mengambil dari dalam laci wadah kemudian diisi dengan air bersih dari wastafel.
Floretta melihat Jarvis menaruh wadah itu di atas meja, selanjutnya ia membuka jas yang membungkus tubuhnya lalu berlutut di hadapan Floretta.
"Mengapa kau seteledor ini?"
"Awh... bisakah kau lebih lembut mengusap lukaku? Kalau kau menjadi terganggu ke kantor, mengapa tidak membiarkan Rayya yang membantuku," gerutu Floretta sembari menarik kaki kirinya menjauh dari kapas yang dibasahi air.
Mata Floretta berkaca-kaca dan bibirnya persis seperti Rosalie bila ingin menangis.
"Kau seperti seorang anak kecil, tahanlah sejenak. Namanya luka yang ingin diobati, pasti sakit."
Jarvis meraih kaki Floretta, meletakkan kembali seperti awal direbahkan. Jarvis menduga Edithlah yang ada dalam diri istrinya kini.
__ADS_1
Luka Floretta dibersihkan menggunakan alkohol, Jarvis mengembusinya untuk mengurangi rasa sakit. Floretta bisa melihat suaminya telaten membersihkan lukanya hingga membubuhi cairan antiseptik.
"Jarvis," lirih Floretta. Jarvis yang sibuk membersihkan cairan yang bergulir di sekitar luka, mengabaikan panggilan itu.
Floretta diam wajahnya memucat menatapi Jarvis seolah-olah lama dirinya tidak berjumpa dengan Jarvis.
Tubuh Floretta bergetar, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha untuk menghilangkan kenangan buruk tiba-tiba melintas dalam pikirannya.
Tugas Jarvis selesai, ia mendongak melihat istrinya yang sedang bertingkah aneh sulit diartikan. "Kau mengapa?"
Nafas Floretta bergerak cepat terlihat dari pundaknya yang naik turun. "Flo, apa ada masalah lain? Sakit lain?"
Jarvis meraup kedua tangan Floretta, berusaha menjauhkan dari wajah istrinya. Floretta menggelangkan kepalanya menunjukkan keberatan terhadap tindakan Jarvis.
Jarvis tidak ingin hal buruk terjadi pada istrinya, ia harus menjadi orang pertama yang mengetahui masalah pada Floretta.
Wajah Floretta basah oleh air mata saat tangannya berhasil dijauhkan Jarvis dari paras cantiknya. Sorot ketakutan sekaligus marah dan kecewa seolah-olah memancar sebagai terjemahan kedia manik Floretta.
Mereka berdua bergeming dalam kondisi bertatapan. Jarvis dengan dugaan-dugaannya, sementara Floretta tengah dalam usaha menenangkan dirinya yang melemah.
"Tolong, tinggalkan aku sendiri," pinta Floretta yang mengalihkan pandangan pada lukanya.
Jarvis seakan-akan yakin saat ini kepribadian Floretta aslilah yang mengendalikan tubuh istrinya. Jarvis sangat senang, bertolak belakang dengan Floretta yang mengalami guncangan.
"Tolong tinggalkan aku sendiri, aku... merasa... tidak nyaman bersamamu." Tanpa Floretta tahu isi hati Jarvis bahagia saat ini. Floretta tidak bersedia memandang suami yang sedang berlutut di hadapannya.
Kalimat Floretta itu menghancurkan rasa positif yang menguat dalam diri Jarvis. Dia sadar kalau Floretta asli yang muncul, pastinya menolak kehadiran Jarvis seperti kepribadian Dolly Gobber, meskipun host tidaklah sekasar dan semenakutkan Dolly.
Dengan terpaksa dan berat hati, Jarvis berdiri dan perlahan menjauh membawa jas kerja. Walaupun tindakannya melawan keinginan hati sendiri, Jarvis berusaha tegar menerima keputusan host yang tidak sedang menginginkan kehadiran dirinya ada di dekat sana.
Jarvis menoleh ke belakang, entah kapan lagi dia akan berjumpa langsung dengan host. Bagi Jarvis, saat ini seperti mukjizat yang nyata sebab kerinduan telah menguasai hati dan pikirannya.
"Flo... aku merindukanmu," Jarvis memberanikan diri menyampaikan ucapan terakhirnya di pagi itu. Matanya pun berkaca-kaca sambil menutup pintu kamar.
Floretta yang menegang sedari tadi, menangis tersedu di sofa. Dugaan Jarvis tidak salah, host-lah yang kini tampil pada diri Floretta.
Kenangan lama langsung menyongsong Floretta, mencabik-cabik perasaannya, bukan hanya tentang pernikahannya saja, tetapi juga masa kecil ditinggal ibunya tercinta.
Kematian ibu tercinta adalah awal masa kelam hidup Floretta. Dia makin jauh dari yang namanya dicintai dan dikasihi.
Ayahnya memiliki waktu bersama banyak perempuan berbeda semenjak kematian ibunya. Floretta tidak pernah suka dengan itu. Begitu juga dengan kakak laki-lakinya yang sibuk berteman dengan pria yang berorientasi homoseksual dan obat-obatan terlarang.
__ADS_1
Tidak ada lagi cinta menurut Floretta. Itulah yang menyebabkan Floretta berani memutuskan meminta bagian harta warisan saat ia yakin bersama Jarvis hidupnya nanti akan bahagia meskipun Floretta memaksa menikah dengan adik teman laki-lakinya itu.
Kelebat kenangan akan pernikahan tanpa cinta dan cinta sendiri menyerang nervous system Floretta. Dia menjerit-jerit sampai menendang meja hingga terjatuhlah semua perlengkapan untuk membersihkan lukanya.
Suami yang tidak pernah menunjukkan kepedulian dan menyiraminya dengan cinta membuat Floretta merasa sangat tidak berharga menjadi seorang manusia. Pengorbanan yang telah ia persembahkan agar perusahaan suaminya bertahan, tidak menunjukkan ada harganya.
Tangis Floretta begitu terdengar pilu, tanpa ada seorang pun yang menjadi teman di dekatnya. Nafas yang berpacu membuat Floretta merasa sesak dan sulit bernafas.
Kepalanya juga terasa mau pecah, Floretta seakan-akan ingin memukul apa saja saat ini untuk melampiaskan perasaan tidak berharganya. Tubuhnya ingin bertahan dengan jalan kekerasan untuk menunjukkan kekuatan diri.
Namun, pikiran Floretta lebih mendominasi pada signal tubuhnya akan berpisah dari nafas.
Dengan kekuatan yang terbatas Floretta pergi menuju pintu, ia harus meminta bantuan seseorang untuk menolongnya mengatasi kekusutan jalan nafas, pikiran dan hatinya.
Tubuhnya terseok-seok hingga tiba di pintu. Nyeri di dada lebih sakit dibandingkan pergelangan kakinya saat ini.
Meskipun merasa tidak berharga, Floretta ingin berusaha bertahan dan tidak menginginkan lagi kematian sebagai jalan memutus kenangan buruk yang dialaminya.
Floretta berhasil keluar dari kamar dengan menyeret tubuhnya yang tidak nyaman dengan isi pikirannya. Floretta tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikirannya sehingga ia butuh bantuan lain untuk bertahan.
"Tolong...," lirih Floretta lalu terjatuh tidak tahan dengan rasa nyeri pergelangan kaki. Dia menggeser tubuhnya menuju tempat yang dimungkinkan ada orang di sana.
Sekali lagi Floretta mengucap kata minta tolong, hingga benar-benar kehilangan kekuatan lalu rebah di lantai tanpa kesadaran.
"Nyonya."
Seseorang menemukannya dalam kondisi tidak sadarkan diri lagi. Dia membopong Floretta sebagai pertolongan pertama lalu melangkah secepat mungkin menuju pintu utama.
"Rayya, Nyonya tidak sadarkan diri," teriak Walden menciptakan kepanikan di seisi kediaman Jarvis.
Rayya yang sedang memeriksa jadwal pemeriksaan kesehatan Floretta menjerit terkejut begitu pula dengan Gaby yang belakangan datang menemukan Floretta dalam kondisi awut-awutan.
"Di mana Tuan?" tanya Walden.
"Sudah berangkat ke kantor."
"Kita bawa Nyonya ke rumah sakit," lontar Walden membawa menuju kendaraan.
Di bangku belakang, Floretta didampingi oleh Gaby. Sementara di bangku depan, ada Rayya dan Walden.
"Aku akan beri tahu Tuan keadaan Nyonya," ucap Rayya dalam keadaan hati was-was. Ia meraih ponsel dari kantongnya.
__ADS_1
"Tidak perlu," sanggah Walden menurunkan tangan Rayya yang telah menggenggam ponsel bersiap menghubungi Jarvis.
Seketika Rayya menatap Walden aneh. "Maksudku jangan sekarang, tunggu setiba di rumah sakit," kelit Walden dengan tetap fokus berkendara.