MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Penculikan


__ADS_3

"Tidak akan ada maaf untukmu bila sesuatu terjadi pada nyonya Floretta!" hardik Jarvis membuat tubuh Rayya dan Gaby gemetaran dengan kepala menunduk. Jarvis marah dengan keadaan seharusnya Floretta berdiam diri di rumah untuk pemulihan gangguan mentalnya.


"Maafkan saya, Tuan," tangis Rayya sampai berlutut bermohon di kaki Jarvis. Tangan Jarvis mengepal kuat ingin menghantam apa saja di dekatnya.


"Kalian berdua pergi menjauh dari hadapanku bila tidak ingin habis di tanganku!"


Jarvis tersulut emosi, amarah menyelimuti dirinya saat ini. Rayya dan Gaby pergi terbirit-birit ke ruangan belakang rumah.


Tidak lama kemudian, sejumlah kendaraan bertulis Filaneey Polis memasuki pekarangan.


"Selamat malam, kami mencari seseorang bernama Walden yang terlibat pembunuhan seorang wanita bernama Alleta Nicoline. Ini surat penangkapannya."


Beberapa anggota polis berbaju biru dongker berkumpul membentuk barisan horizontal, lengkap dengan senjata di tangan mereka.


Kazem yang biasanya mampu bersikap tenang, sekarang tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Ia mundur sampai menyender ke dinding dengan lutut bergetar dan telapak tangan basah. Kazem selalu takut kalau berurusan dengan Polis.


"Walden tidak ada di sini," jawab Jarvis tenang. Informasi yang diperoleh mengenai Walden lebih dulu setidaknya membuat Jarvis tidak terkejut berlebihan.


"Anda bisa menggeledah kediaman saya," tawar Jarvis bergeser membuka pintu besar rumahnya.


Anggota polis gegas masuk dan mencari ke segala penjuru.


"Minta Rayya dan Gaby memberi kesaksian tentang Walden yang pergi membawa nyonya Floretta," suruh Jarvis pada Kazem.


Di tempat lain, Walden memarkirkan kendaraannya di sebuah pondok semi permanen milik keluarganya. Saat ini mereka berada di perbatasan kota Heligore dengan pedesaan tempat Walden lahir dan dibesarkan.


Walden tidak lagi memiliki keluarga, ayah dan ibunya telah lama meninggalkan dirinya. Dulu ia diasuh oleh neneknya. Walden hanya diberi tahu kalau ibunya menjadi tenaga kerja asing di sebuah negara, tetapi baru beberapa bulan bekerja, tidak lagi ada kabar dari ibu.


Pondok ini diserahkan neneknya pada Walden sebelum meninggal. Terlihat berdebu sebab Walden pun jarang mengunjunginya.


Ia bersihkan sedikit kamar untuk membaringkan Floretta yang tidak sadarkan diri karena diberi obat penenang pada sapu tangan.


Walden tersenyum saat melihat Floretta yang lelap.


"Lama aku menantikan hari ini," ucapnya mengusapi wajah Floretta. "Hanya bisa melihatmu dari kejauhan, melihatmu terluka karena sikap suamimu yang dingin. Sungguh dia memang tidak berguna," sambung Walden lalu menjauhkan tangannya dari Floretta.


Walden harus menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Dia melangkah keluar kamar lalu mengunci dari luar.


Ponselnya diaktifkan kembali, banyak notifikasi masuk.

__ADS_1


Pesan umpatan dari Rayya menunjukkan kalau posisi Walden saat ini sedang terancam. Rayya menunjukkan kemarahannya dengan meminta Walden pulang, memberitahu kalau Walden telah bertindak di luar standar kerja. Bila Floretta keluar rumah seharusnya Rayya juga ikut sebagai asisten pribadi.


Ada puluhan kali Rayya menghubungi dari siang sampai sore hari, tetapi Walden sengaja mematikan data selulernya saat bersama Floretta.


Notifikasi dari media online berisi berita terkini juga masuk ke ponsel Walden. Nama Alleta Nicoline diangkat kembali ke permukaan, mulai dibahas kembali.


"Brengsek!!"


Walden kesal semuanya terjadi bersamaan dengan kesempatannya untuk membawa Floretta, dia merasa harus segera bertindak bila ia tidak mau berakhir di balik jeruji besi.


Walden memeriksa tas di dalam mobil yang telah dipersiapkannya sedari merencanakan kejadian hari ini. Keinginannya untuk mencari makanan diurungkan sebab waktunya sempit.


Floretta masih mulai sadarkan diri di kamar, kepalanya terasa pening dan berputar.


Ia terbangun dan terkejut mendapati keadaan ruangan aneh penuh debu, tidak dikenalinya. Floretta menggelengkan kepalanya mencoba mengingat-ingat peristiwa apa yang terjadi.


Deritan pintu membuat perhatian Floretta tertuju ke sana. Kedatangan Walden membuat Floretta senang, ada orang yang dikenalnya.


"Walden, kita ada di mana?" tanya Floretta dengan nada yang membuat Walden was-was.


Mengapa Floretta terlihat tenang? Senjata yang telah dipersiapkan Walden untuk menakuti Floretta disembunyikan di belakang pinggangnya.


Kening Floretta mengerut heran, berpikir kuat, sayangnya tidak mendapat jawaban apa-apa.


Floretta mencoba berdiri dengan menumpu pada dinding.


"Kalau begitu mari kita pulang."


Walden lebih merasa heran dengan keadaan Floretta yang seolah semuanya baik-baik saja. Apakah nyonya Floretta mengidap kelainan?


Walden menghempas pertanyaan asing yang melintasi pikirannya.


"Tidak. Tidak bisa. Nyonya bersama saya sekarang dan... ke depan."


Floretta sangat bingung dengan jawaban Walden yang terdengar memaksa. Biasanya Walden yang dikenal Floretta adalah pekerja baik yang penurut. Floretta seperti mendapat kesan ada sesuatu di balik komunikasi Walden.


"Kalau begitu, aku saja, bila kau tidak mau."


Floretta berjalan menuju arah pintu, saat tubuhnya sejajar Walden, lengannya langsung dicekal dan mendadak berhadapan dengan Walden.

__ADS_1


Floretta tercengang dengan sikap Walden yang kasar dan mencerminkan tidak hormat pada orang yang seharusnya dihargai. Floretta mencoba melepaskan lengannya, sayangnya Walden mencengkram kuat-kuat.


Floretta mendapati signal keadaan tidak baik saat ini. Kepanikan melandanya.


"Walden, apa yang kau lakukan. Kau tidak sopan!" sembur Floretta dengan tatapan marah dan merasa direndahkan.


Tangan kanan Walden menyambar senjata di balik punggungnya.


"Diam!" bentaknya membuat Floretta terhenyak. Ada masalah apa Walden hingga ingin mencelakai dirinya?


"Jangan banyak bicara, sekarang kita akan menyeberang ke negara sebelah. Kau akan hidup bersamaku di sana. Tanpa ada suamimu yang bodoh itu."


Floretta menggigil dengan ancaman senjata dan rencana Walden untuk pergi ke negara lain. Melintas wajah Jarvis suaminya, manik Floretta berkaca-kaca, ia teringat pula dengan anak-anaknya. Floretta rasanya rindu dengan mereka semua. Namun, apakah Jarvis merindukannya atau malah tidak peduli akan kehilangan dirinya?


"Walden, tolong... aku tidak bisa pergi dari Heligore. Hidupku bersama keluargaku." Floretta memohon dengan linangan air mata.


Sejenak Walden merasa kasihan, mengingat usaha hari ini telah direncanakan jauh-jauh hari, Walden akhirnya memilih tidak peduli.


"Mengapa kau menginginkan aku harus ikut denganmu?" Floretta butuh jawaban untuk ini semua.


Senyum miring Walden mengintimidasi Floretta, ia sampai menundukkan kepalanya, khawatir Walden akan berbuat nekat.


"Apa kau tahu Flo, selama ini aku mengamati hubunganmu dengan si bodoh Jarvis, ia mengabaikanmu setiap hari. Aku melihat kau perempuan tulus yang setia terus berusaha agar suamimu berpaling padamu, tetapi kau tidak mendapat apapun."


Walden menghela nafas, ia mengangkat dagu Floretta dengan pinggiran senjatanya, membuat Floretta gemetar ketakutan.


"Malah kau membuatku jatuh cinta, Flo. Entah bagaimana, kau memiliki daya tarik yang kuat. Semua pria pasti akan setuju, kecuali si bodoh." Walden menggerakkan senjatanya menyusuri wajah Floretta.


Bukannya merasa bangga, Floretta menyesal tidak menyadari penyimpangan perasaan hormat Walden padanya. Floretta memejamkan matanya dibarengi air mata.


"Buka matamu, Sayang. Tatap aku."


Floretta menolak melakukannya. Walden menjadi tidak sabar lalu mengecup wajah Floretta dengan paksaan, membuat Floretta meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Mendapat serangan membabi buta dari Floretta, Walden terjatuh hingga senjatanya masuk ke kolong lemari pakaian yang menyebabkan banyak kecoa dan binatang sejenisnya keluar dari sana. Walden terhalang sebentar untuk mengambil senjatanya.


Pada kesempatan itu, Floretta melarikan diri menuju pintu keluar yang tidak terkunci lalu sekencang-kencangnya berlari menerabas hutan.


Walden tersadar Floretta tidak lagi di tempat, tidak kalah panik ia berlari menyusul Floretta. Meskipun tidak lagi melihat arah lari Floretta, Walden yakin kalau dengan mudah Floretta akan ditemukannya.

__ADS_1


Walden melangkah mengendus jejak Floretta.


__ADS_2