
Stephanie saling berpandangan dengan Mandy.
"Siapa yang ingin memarahi kakak?"
Jarvis tetap tidak tertarik, ia masih bersembunyi di balik selimut rumah sakit.
"Alleta melakukan tayangan langsung, menyampaikan anaknya sebagai anak kakak, bahkan dengan percaya diri menyebut kakak tidak pernah mencintai kak Floretta."
Mandy tidak sabar untuk mengungkap apa yang tadi ia tonton. Belum selesai tayangan, Mandy putuskan tidak lagi menontonnya.
Jarvis membuka matanya, ia teringat dengan Floretta dan ekspresi pilunya malam lalu.
"Perempuan itu masih cari masalah denganku," ujar Jarvis dengan gejolak perasaan tidak menentu.
"Apa yang dikatakan Mandy, benar, Jarvis?" tanya Stephanie yang begitu sedih melihat anak keduanya dirundung banyak masalah.
"Tidak, Ma."
"Lalu, bagaimana dia bisa sepercaya diri itu mengungkap di depan publik?" tanya Stephanie heran.
"Apa kakak yakin bukan anak kakak, sementara perselingkuhan itu benar terjadi?" Mandy turut bertanya hal lain.
"Apa kau tidak melakukan sesuatu untuk menghentikan omongannya di media?" Stephanie melanjutkan dengan rasa geram tertahan.
Jarvis berdecak, Stephanie dan Mandy membesuknya dengan mencecar pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya pusing.
"Orangku sedang menyelidikinya, apakah ada keterlibatan pihak lain yang ingin menghancurkan. Anak itu juga masih disembunyikan entah di mana oleh Alleta. Aku tidak bisa gegabah bertindak." Jarvis berusaha menerangkan masalah yang tengah diurainya satu per satu.
"Dan untuk perselingkuhan... ya... aku akui itu kesalahanku. Hanya saja mohon dipahami pada saat itu aku terpaksa menikahi Floretta. Mama tidak lupa 'kan sebagai pihak yang turut mendesak agar Floretta menjadi menantu mama," ingat Jarvis pada mamanya.
Mandy mengernyitkan keningnya heran, cukup terperangah mendengarkan ucapan Jarvis.
"Apakah ada yang tidak ku ketahui tentang masa lalu?" tanya Mandy menagih jawaban.
"Itu hanya masa lalu, Mandy," seloroh Stephanie. "Jangan terlalu dipikirkan," sambung Stephanie menenangkan Mandy yang begitu penasaran dengan masa lalu kakaknya, Jarvis. Stephanie menyorot ke arah Jarvis agar tidak melanjutkan ucapannya tentang masa lalu.
Mandy meneruskan rasa penasarannya. "Mengapa kakak tidak pernah akur dengan kak Jadden sedari dulu?" Mandy ingin mengaitkan kejadian hari ini dengan masa lalu untuk mendapatkan jawaban.
Sebagai adik, Mandy berkepentingan mengetahui penyebab kedua kakaknya mengapa kerap berselisih. Posisi Mandy menjadi salah bila ia dekat dengan Jarvis di mata Jadden, padahal selama ini Mandy akur dengan Jarvis.
__ADS_1
Sewaktu Jarvis akan menjawab yang sebenar-benarnya, Stephanie menjeda. "Itu hanya masalah adik kakak, Mandy. Bukan perkara yang perlu dibesar-besarkan."
Stephanie selalu menjadi penengah, sayangnya setiap kali ada masalah diantara keduanya baik Jarish dan Stephanie tidak pernah benar-benar serius membicarakannya dengan kedua anak laki-lakinya.
Itulah sebabnya, Jarvis dan Jadden tidak pernah bisa terkoneksi dengan baik. Begitu sering pengabaian pada masalah dilakukan sejak kecil, alhasil penumpukan masalah berlangsung hingga dewasa.
"Mandy, kakakmu harus istirahat. Sebaiknya kita pulang," ajak Stephanie menggandeng tangan Mandy.
Mandy sebenarnya masih ingin menggali keterangan dari kakaknya. Namun, seretan Stephanie mengencang di tangannya sehingga mau tidak mau Mandy turut keluar dari ruang rawat Jarvis.
Setelah ditinggal sendiri, Jarvis langsung meraih ponselnya di atas nakas lalu menelepon orang yang ditugaskan mencari tahu informasi tentang Alleta.
"Kabar sementara, Alleta membutuhkan dana untuk pengobatan anaknya yang menderita kanker darah kronis. Ia membuka rahasia ke publik dengan tujuan menebus rasa bersalahnya atas kondisi putrinya."
"Anda perlu berhati-hati Tuan, salah satu dari orang dekat Anda mengenal Alleta. Saya mendapati seseorang dengan kendaraan berlambang keluarga Meyer menghampiri kediaman Alleta, sayangnya saat akan masuk ia menyadari ada yang menguntit dan langsung meninggalkan tempat."
Jarvis terhenyak mendengar fakta baru. "Apa kau mengenali wajahnya?" tanya Jarvis dengan rasa penasaran tinggi.
"Tidak, Tuan. Penampilannya di balut trench overcoat, masih sulit mengenalinya."
Jarvis memaklumi usaha pengintaian bukanlah perkara mudah karena harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. "Kau juga harus mengerahkan orangmu untuk mencari tahu di mana keberadaan putri Alleta," perintah Jarvis. "Aku menduga ia tidak tinggal di kota ini melainkan dirawat di tempat lain."
"Baik, Tuan. Segera laksanakan."
Sayangnya, pada panggilan ketiga, Floretta tidak kunjung merespon panggilannya. Pikiran buruk berkecamuk dalam otaknya.
Malam lalu usai Floretta mengungkapkan isi hatinya, tidak ada tanggapan dari Jarvis atas apa yang dirasakan Floretta selama menikah dengannya.
Jarvis yang telah terbiasa bertahun-tahun bersikap dingin terhadap Floretta tidak menyangka kalau istrinya itu menganggap dia tidak diinginkan dan tidak dicintai Jarvis.
Jarvis merasa miris dengan pernikahannya, berhenti menjalin hubungan dengan Alleta setelah pernikahan berusia dua tahun, memiliki anak hampir tiga orang, berjuang secara finansial sebagai kepala keluarga, tidaklah cukup membuka mata istrinya tentang bagaimana perasaan Jarvis sesungguhnya.
Kesibukan pekerjaan lebih pada kamuflase perasaan Jarvis. Dikhianati Alleta membuat Jarvis tidak mudah menyatakan perasaan cinta pada siapapun. Belakangan Jarvis menyadari pembalikan keadaan dialaminya.
"Isi kepala perempuan memang rumit," ujar Jarvis pada dirinya sendiri.
Kata cerai yang diungkapkan Jarvis lebih pada desakan Floretta yang terus-terusan menginginkan perpisahan darinya. Jarvis merasa menjadi suami yang buruk karena tidak memenuhi permintaan Floretta.
Apalagi laporan Mandy tentang tayangan langsung Alleta yang memang pernah diungkapnya masa silam adalah sebuah kebenaran. Namun, saat itu kondisinya Jarvis memang benar belum mencintai Floretta.
__ADS_1
Jarvis merasa pening dengan masalah yang menderanya. Jarvis merasa hati Floretta semakin jauh darinya, perubahan demi perubahan dapat dirasakannya dari Floretta.
Tidak mungkin Jarvis merasa Floretta berubah kalau Jarvis tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap istrinya itu.
"Flo, kau lebih rumit dibanding mengurus perusahaanku," ucap Jarvis kembali sambil menggenggam tangannya kuat-kuat.
Tidak lama kemudian, seorang perawat dan dokter memasuki ruang rawat Jarvis lalu melakukan pemeriksaan keadaan fisik.
"Bagaimana dokter, kapan saya bisa pulang?"
"Anda sepertinya tidak sabaran ingin kembali," kekeh sang dokter. "Untuk kondisi tulang rusuknya sendiri masih perlu perawatan bisa dilakukan rawat jalan. Tidak ada yang mengkhawatirkan selama Anda mengikuti petunjuk perawatan dokter."
"Besok sudah bisa pulang, saya perlu menyampaikan beberapa hal penting pada istri atau orang yang merawat Anda selanjutnya."
Jarvis bergeming saat dokter menyinggung tentang istri. Hari ini tidak lagi sama dengan lalu.
"Dokter bisa mengatakan langsung pada saya, istri saya tidak akan datang ke sini."
Dokter merasa heran mendengar ucapan Jarvis sebab kehadiran Floretta semalam menunjukkan betapa perhatiannya Floretta sebagai istri. Bukan merasa urusannya, dokter hanya mengangguk menerima perkataan Jarvis.
"Ibu... ayah kemana? Aku tidak melihat kemarin." Dael yang baru saja dijemput dari sekolah merasa gelisah menanyakan keberadaan ayahnya.
"Ayah... pergi ke luar kota."
Dael menghela nafas panjang seperti ditimpa rasa lelah. "Apakah ayah kembali sibuk seperti dulu?" Wajah Dael menyiratkan kesedihan.
"Aku kecewa dengan ayah, lebih memilih sibuk dengan pekerjaan. Aku senang bila melihat ayah di rumah."
Floretta tidak tahu harus menjawab seperti apa atas pertanyaan kecil dari Dael. Kebohongannya membuat Jarvis dipandang sebagai ayah yang tidak peduli oleh Dael.
Bagaimana nanti Floretta menjelaskan tentang perceraian ayah dan ibunya, bila saat sekarang Dael kecewa dengan ayahnya.
Bisa jadi Dael pun akan menganggap buruk orang tuanya karena tidak bisa mempertahankan biduk rumah tangga.
"Bila ke depan ayah semakin jarang tinggal di rumah, bagaimana menurutmu?" Floretta mencoba menggali pandangan seorang anak.
"Aku sedih, ku rasa Rosalie juga. Aku akan marah, ku rasa Rosalie juga."
"Ayah harus bekerja. Mungkin... ibu juga akan bekerja, demi masa depan kalian."
__ADS_1
Dael yang duduk bersebelahan dengan Floretta menatap ibunya. Dael mengerti bekerja harus dilakukan orang dewasa, tetapi pekerjaan akan membuat dirinya akan jauh dari ayah ibunya.
"Aku tidak suka mendengarnya," ucap Dael sembari bersidekap dan mengubah posisi duduknya membelakangi Floretta.