MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Rumah Sakit


__ADS_3

Floretta kini terbaring di ranjang sebuah rumah sakit di kota Heligore. Jarvis memesan kamar rawat eksekutif untuk istrinya. Di tangan Floretta terpasang selang infus, dia masih tidak sadarkan diri.


Kejadian Floretta pingsan di kamar kecil membuat Jarvis sangat panik. Ia segera menghubungi para asisten rumah tangga untuk membantunya di dalam kamar.


Ada yang bertugas mengganti pakaian Floretta dan juga menyiapkan kendaraan. Jarvis memutuskan membawa istrinya ke unit gawat darurat rumah sakit.


Jarvis terpaksa meninggalkan buah hatinya di rumah bersama pengasuh. Sewaktu ia menggendong Floretta dari dalam kamar menuju kendaraan roda empat miliknya, Jarvis meminta para pengasuh tidak dulu menceritakan apa yang sedang menimpa ibunya.


Jarvis berdiri memandangi wajah istrinya, kelopak matanya terlihat sembab akibat luapan emosi Floretta tadi. Malam ini Floretta harus menginap di rumah sakit, Jarvis memilih menemaninya.


Floretta termasuk orang yang jarang menghuni kamar rumah sakit. Hanya saat melahirkan Dael dan juga Rosalie, Floretta menginap di rumah sakit.


Dulu, saat melahirkan Dael, keluarga Florettalah yang berjaga di rumah sakit. Berbeda saat Rosalie dilahirkan, Jarvis menyewa jasa perawat home care.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi tidak tampak tanda-tanda Floretta akan bangun. Jarvis menyenderkan tubuhnya di sofa besar, dari sana ia masih bisa mengamati istrinya yang terlelap.


Sewaktu kelopak mata Jarvis akan menutup karena kantuk yang menderanya, terlihat olehnya pergerakan ringan dari ranjang pasien. Kantuknya hilang, Jarvis menegakkan tubuh lalu menghampiri Floretta.


"Haus."


Gegas Jarvis memberikan sedotan ke dalam gelas berisi air lalu menyodorkannya pada Floretta. Floretta berusaha bangkit mengangkat kepalanya, Jarvis yang tidak cekatan merawat orang sakit, bingung harus melakukan apa.


"Awh...," Floretta meringis karena darah naik ke selang infus ditangannya. Gerakannya membuat selangnya menjadi terlipat.


Jarvis nanap dan panik, ia menaruh kembali gelas di nakas. "Aku akan memanggil perawat," ucap Jarvis hendak meninggalkam ruangan.


"Tidak usah." Ucapan Floretta menghentikan langkah Jarvis. "Aku harus duduk. Ada tombol di remote kontrol sebelah kiri untuk mengangkat kepala ranjang ini," sambungnya.


Jarvis merutuki dirinya, ia sama sekali tidak mengerti seluk beluk peralatan rumah sakit, sampai- sampai tidak tahu harus seperti apa menangani pasien. Pria itu menyeberangi tempat tidur untuk mendapati apa hang dimaksud Floretta.

__ADS_1


Usai memberikan minum pada Floretta, Jarvis menawarkan makanan. Ia yakin kalau Floretta sudah lapar sebab malam tadi belum mengisi perutnya.


"Tidak mau," tolak Floretta. Ia tidak merasa nafsu makan. "Aku ingin tidur kembali," ucapnya menyatakan keberatan, ditambah lagi melihat wajah Jarvis membuat Floretta benar-benar ingin segera menutup matanya.


"Kau harus makan demi kesehatanmu." Jarvis mendesak Floretta seperti tidak ingin ada penolakan. Harapan Jarvis sederhana, Floretta bisa lekas pulih dan pulang ke rumah.


Floretta menoleh pada Jarvis, meskipun secara fisik, saat ini, dirinya lemah, tetapi keinginan untuk mendebat suaminya membubung.


"Apa pedulimu? Aku pikir kau tinggal memanggil dan menyewa seseorang untuk merawat ku. Mengapa kali ini kau merepotkan dirimu sendiri?"


Mendengar ucapan ketus istrinya, Jarvis hanya diam dengan ekspresi datar. Hal yang patut disadarinya adalah Floretta sedang sakit dan butuh bantuan.


"Malam ini kau belum makan, bila kau ingin dibantu, aku... aku... akan menyuapimu," tawar Jarvis sedikit tergagap saat menunjukkan kekhawatirannya pada Floretta, ia terus berusaha membujuk istrinya makan.


Sayangnya, Floretta tidak mengerti isi hati Jarvis. Floretta menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pulanglah, tidak perlu repot mengurusku. Aku ingin tidur," Floretta memiringkan tubuhnya berlawanan dengan tempat Jarvis berdiri. Ia menaikkan selimut hingga ke kepala dan menutup kedua matanya.


Bak disambar petir, Floretta membeku di dalam selimut. Ia mencerna ucapan suaminya.


Mengandung?


Hamil?


Seketika tubuhnya terasa panas dan bergetar, Floretta menangis sembari menyentuh perutnya. Ia mencengkram pakaian yang menutupi perutnya yang saat ini masih datar.


Kehamilannya 7 minggu, waktu itu Floretta masih menjadi istri yang berseri, sebelum peristiwa podcast yang menyerang mentalnya sebagai seorang perempuan yang memiliki peranĀ  sentral dalam rumah tangga, yakni istri dan ibu.


Jarvis bisa melihat kalau selimut putih bergerak turun naik, ada suara isakan. Jarvis hanya tidak mengerti maksud tangisan itu apa?

__ADS_1


Apakah Floretta tidak senang? Jarvis membuang cepat-cepat pikiran itu.


Jarvis tidak ingin membuat Floretta tambah marah padanya, jadilah pria itu hanya diam menatap Floretta yang tertutup selimut. Ia tidak pula mampu memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.


Nahasnya, kenyataan setelahnya membuka mata Jarvis kalau Floretta benar-benar berubah.


Floretta membuang kasar selimut ke lantai menggunakan tangan yang tidak terpasang infus. Ia tidur terlentang, lalu memukul-mukuli perutnya.


"Aku tidak ingin anak ini! Aku tidak ingin hamil! Aku tidak mau!" Racauan demi racauan disertai kegeraman dan air mata keluar dari bibir Floretta. Kepahitan hidup rumah tangganya membuat secara emosional Floretta lemah, bukan hanya fisiknya saja.


"Flo, hentikan! Kau bisa membunuhnya." Jarvis cepat menahan tangan Floretta yang membabi buta menyakiti perutnya sendiri. Floretta berusaha melawan dengan menarik tangannya dari Jarvis. Lagi-lagi pria itu lebih bertenaga dari Floretta.


"Flo, sadarlah... aku ada di sini, menemanimu," bisik Jarvis mendekap tubuh depan istrinya, menjauhkan kedua tangan Floretta dari perutnya. Darah kembali naik melalui selang infus.


Jarvis merasakan tubuh itu begitu ringkih, ia mengangkat tubuhnya sendiri mengamati wajah Floretta yang menangis dari dekat. Jarvis memberi kecupan ringan di kening dan pipi Floretta.


"Jangan seperti ini, Flo. Kembalilah seperti dulu," lirih Jarvis sedih, tetapi tanpa air mata.


Dengan sisa tenaga dan matanya yang kembali sembab, Floretta berujar lirih, "Floretta Conie yang dulu sudah mati."


Kembali kegelapan menghampiri Floretta.


Melihat itu Jarvis pergi ke luar memanggil perawat, padahal sebenarnya ia bisa memencet tombol emergency. Namun, otaknya benar-benar sudah panik duluan melihat kondisi Floretta.


Setelah dilakukan pemeriksaan kembali oleh dokter spesialis kandungan yang tidak lain teman sekolah menengah Jarvis dulu, ia mengatakan kalau janin Floretta lemah. Lebih lanjut, hal itu bisa menyebabkan keguguran.


"Saat datang mata istrimu sembab, tadi saat memeriksanya, aku lihat juga sembab. Apa yang terjadi?" tanya dokter Maureen Dobby diselimuti rasa penasaran yang tinggi.


Jarvis memilih terbuka pada Maureen dengan mengatakan mereka ada sedikit masalah rumah tangga. Sebenarnya Maureen sendiri sudah tahu kalau ada isu yang merebak tentang masa lalu Jarvis. Namun, ia masih punya batasan untuk tidak ikut campur terlalu dalam menguliti masalah rumah tangga temannya itu.

__ADS_1


"Aku sarankan, kalian nantinya bisa mengunjungi ahli dalam masalah mental. Bila dibiarkan bisa jadi berdampak pada berat badan bayi lahir rendah atau lahir prematur," terang Maureen. "Tambahan lagi, kau harus siaga di samping istrimu, entah apa masalah di antara kalian. Ya, itu pun kalau kau memang menginginkan istri dan calon anakmu sehat. Aku pun pernah menjadi seorang istri dan ibu yang kehilangan bayi, sangat berat, sampai hari ini pun masih suka terkenang kejadian itu."


Usai Maureen memeriksa Floretta, ucapan itu terngiang di benak Jarvis. Dael dan Rosalie kelahirannya diinginkan dan diperjuangkan istrinya, malangnya calon bayi mereka tidak diinginkan oleh ibunya sendiri. Jarvis bertekad kehamilan Floretta kali ini akan dipertahankannya.


__ADS_2