MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Petir


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit Floretta tidak kembali ke kamar hotel, Jarvis menghubungi Rayya menanyakan keberadaan istrinya. Ponsel Floretta ditinggalkan di kamar bersama dengan tas kecilnya sehingga Rayya-lah yang dihubungi Jarvis.


"Nyonya sedang tidak bersama saya maupun anak-anak, Tuan."


Ketidaktahuan Rayya membuat Jarvis gelisah, bukan tanpa alasan, suhu dingin dan kondisi kehamilan yang besar bisa jadi menyulitkan Floretta bergerak cepat dan seimbang.


Jarvis mengenakan jaket tebal panjangnya lalu keluar mencari Floretta. Jarvis tidak ingin acara liburan berubah menjadi malapetaka.


Tiba di lantai dasar Jarvis melangkah menuju resepsionis menanyakan keberadaan istrinya dengan menyebut ciri-ciri Floretta.


Di sinilah Jarvis kini, berjarak beberapa meter dari Floretta dan seorang pria yang sedang bercengkrama akrab. Jarvis mengamati dari belakang bagaimana ekspresi dan sikap tubuh Floretta berbeda bila saat bersamanya akhir-akhir ini. Sikap Floretta yang ceria seperti saat ini, dilihat Jarvis telah lenyap semenjak masalah perselingkuhan lamanya terungkap.


Penampakan itu membuat emosi Jarvis bergerak. Ia membuang nafas kasar dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Jarvis menimbang-nimbang apakah akan menyela percakapan keduanya atau kembali ke kamar sendirian tanpa Floretta.


Melangkah ke arah Floretta saat ini juga menjadi pilihan Jarvis.


"Floretta."


Keduanya bersamaan melihat ke arah Jarvis yang berdiri jarak sekitar dua meter dari mereka duduk. Jarvis melihat wajah rekan cerita istrinya, ia tidak mengenal siapa pria yang tampak necis di samping istrinya berbalut windproof jacket berwarna hitam.


Floretta berdiri setelah Jarvis menghampirinya dengan memasang wajah muram.


"Jarvis, kau ingat William, teman kuliahku dulu." Floretta berusaha mencairkan suasana yang tampak canggung karena ekspresi Jarvis kurang bersahabat.


William menundukkan kepalanya sembari menaruh tangan di dada sebagai tanda hormat pada tamu hotelnya.


"William pemilik hotel ini, Jarvis. Lihat bunga di taman itu mirip dengan buanga-bungaku." Floretta menunjuk taman berisi banyak bunga warna-warni dengan ekspresi ceria.


Jarvis tidak peduli dengan bunga yang berada di taman hotel, ia menoleh pada Floretta yang sempat dikhawatirkannya. Dari paras Floretta menunjukkan hatinya sedang bersuka, bertolak belakang dengan suasana di bandara dan kamar hotel.


"Kalian pernah bertemu, William pernah menghadiri pesta pernikahan kita." Floretta terus saja berceloteh tentang William.


Jarvis tidak merespon ucapan Floretta mengenai informasi tengang William.


"Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Semoga Anda dan keluarga menikmati aktivitas di Kowabuda," ujar William sembari mengulas senyum ramah.


Jarvis yang tidak memiliki kepentingan dengan William merasa tidak perlu berbasa-basi dan beramah-tamah. Tujuan Jarvis sampai ke lantai dasar hanya untuk mencari istrinya.


"Cuaca mendung, akan turun hujan, sebaiknya kau kembali ke kamar." Ucapan Jarvis pada Floretta seolah-olah menyindir William yang malah menghabiskan waktu bersama Floretta tanpa memandang kondisi kehamilan temannya.


Floretta melirik ke arah William, ia menjadi tidak enak hati sebab Jarvis terlihat mengabaikan keberadaan teman kuliahnya dulu.


"Wil, aku minta maaf tidak bisa meneruskan cerita kita. Tapi, aku senang bisa bertemu denganmu." Floretta tersenyum menyampaikan perasaannya saat ini.


"Baiklah Tuan Jarvis dan Nyonya Floretta, saya pamit undur diri untuk kembali mengecek hotel."

__ADS_1


Anggukan Jarvis dengan raut datar membuat Floretta merasa Jarvis kurang menyukai William, padahal William tidaklah pantas diperlakukan seperti itu.


"Kenapa kau tidak menyambut ucapan salam dari William?" tegur Floretta pada Jarvis, saat William telah menjauh.


Rintik hujan terasa menerpa wajah Jarvis. "Sebaiknya kembali masuk ke hotel, sebelum hujan turun."


Jarvis mengalihkan pembicaraan, ia menggenggam tangan Floretta lalu berjalan dengan pelan agar Floretta tidak kesulitan mengikuti langkahnya.


Jarvis membuka pintu kamar hotel yang ditempatinya bersama Floretta. Genggaman tangannya dilepas paksa oleh Floretta.


"Lain kali bila keluar, bawa ponselmu agar mudah dihubungi sehingga aku tidak perlu repot mencarimu." Kalimat pertama setelah mereka masuk kamar hotel menohok Floretta.


Jarvis menaruh jaketnya digantungan dekat pintu.


"Tidak ada yang menyuruhmu mencariku," balas Floretta menaikkan dagunya dengan raut menantang.


Jarvis menghela nafasnya, ia sedang tidak ingin berdebat dengan Floretta. Selain untuk kepentingan DNA Paternitas, Jarvis benar-benar ingin berlibur dan menyenangkan diri sendiri.


Di luar, hujan telah membasahi bumi. Dua insan berstatus suami dan istri itu masih saja bersitegang hati.


"Lain kali, kau bisa menyuruh Rayya mencariku sehingga tidak perlu berbuat dengan pamrih. Lagipula, aku tidak akan pergi jauh dari hotel," tuding Floretta membalas ucapan Jarvis.


"Bisakah kau berbicara lebih sopan pada suamimu?" ucap Jarvis sembari mendekati Floretta dengan sorotan tajam dan berkacak pinggang menandakan siap menegur lebih jauh.


"Jarvis, jangan berlagak perhatian dan seolah-olah sikapmu selama menjadi suami ideal." Floretta merasa terganggu dengan tindakan baik Jarvis yang sebenarnya menggetarkan hati. Floretta berusaha keras menolak suasana hangat yang terbit dalam dirinya.


Refleks Floretta terhadap petir menandakan nyalinya menciut dan butuh pertolongan orang lain agar membantunya menenangkan diri.


Suara besar bersahut-sahutan dari luar sangat mempengaruhi Floretta. "Aku takut," lirihnya memejamkan matanya.


Jarvis menurunkan bola matanya merasakan dan mengamati tubuh Floretta gemetar, tinggi badan Floretta hanya sebahu Jarvis.


Tangan Jarvis yang tadinya berkacak pinggang bergerak menyentuh punggung Floretta. Jarvis mengusapi punggung istrinya, saat tidak mendapati respon negatif dari Floretta.


"Aku di sini menemanimu," ucap Jarvis berbisik menyatakan empatinya pada Floretta.


Keduanya berdiri mematung dengan posisi yang saking dekatnya, mungkin Floretta bisa mendengar degup jantung Jarvis yang mengencang.


Berbeda dengan Floretta, sistem sarafnya dalam keadaan waspada tinggi akibat kejadian traumatik di masa kecilnya. Meskipun telah melakukan sederetan upaya untuk pulih dari kejadian kecelakaan, nyatanya peristiwa puluhan tahun sulit dilupakan sampai mempengaruhi psikologisnya.


Jarvis teringat dengan ucapan dokter saraf yang menangani Floretta bahwa Floretta bisa lupa dengan apa yang baru saja terjadi saat trauma-nya terpanggil akibat amigdala yang aktif serta hipokampusnya di sistem limbik otak besarnya mengecil. Hal itu mempengaruhi Floretta dalam mengingat informasi baru seperti perdebatan kecil mereka tadi Floretta tidak lagi ingat saat trauma-nya naik.


Jarvis mengecup puncak kepala Floretta, selama menjadi suami hanya satu kali Jarvis menemani istri untuk mengikuti rangkaian trauma healing Floretta.


Jarvislah saat itu yang meminta Floretta serius untuk mengikuti proses trauma healing, sebab ia merasa terganggu saat trauma Floretta muncul. Istrinya akan memeluk Jarvis sampai gelegar petir berhenti.

__ADS_1


Telah sejauh apa perkembangan Floretta, Jarvis tidak tahu-menahu.


Hujan mulai mereda, suara petir tidak lagi terdengar, Floretta melepaskan diri dari pelukan Jarvis. Floretta merasa lebih tenang saat ini.


"Flo, ada yang ingin ku tanyakan?"


Floretta menaikkan pandangannya hingga tatapannya terkunci milik Jarvis.


"Bagaimana perkembangan trauma healing-mu?" Jarvis tidak sabar ingin melontarkan tanya sedari tadi.


Floretta berdiri gelisah, berpikir mencari jawaban sembari memandang ke arah lain. Tidak menemukan alasan yang tepat, Floretta berjalan menuju sofa, ia butuh duduk karena berdiri terlalu lama tadi.


Jarvis mengikuti arah Floretta. "Mengapa kau diam saja?"


"A... aku...." Floretta yang telah duduk tidak nyaman ditanyai seputar trauma healing-nya.


Saat Floretta akan berdiri, Jarvis mencekal lengannya.


"Ada yang kau sembunyikan dariku?"


Sontak Floretta menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada."


"Aku akan menelepon doktermu, bila kau tidak mengatakan yang sebenarnya."


Melihat Floretta hanya diam saja Jarvis melepas cekalannya dan meraih ponsel lalu mulai mencari nomor dokter yang menangani Floretta.


"Aku tidak meneruskan penyembuhan trauma-ku," ucap Floretta jujur.


Jarvis menghentikan kegiatan jari-jemarinya di ponsel. Ditatapnya Floretta ingin mencari tahu alasan istrinya bertindak sebodoh itu.


Floretta menjadi salah tingkah saat sorotan tajam mata Jarvis menganggunya.


"Alasannya?" Saat tatapannya tidak diartikan oleh Floretta.


"Aku...." Jarvis menunggu jawaban lama.


"Aku...?" ulang Jarvis.


"Aku... saat itu, tidak ingin sembuh. Tapi, nanti aku akan daftarkan diri kembali untuk mengikuti rangkaian penyembuhan secara lengkap," janji Floretta.


Jarvis heran dengan alasan yang dibuat Floretta. "Berikan jawaban yang jelas."


Tidak bisa mengelak lagi, Floretta memberikan jawaban yang sesungguhnya.


"Saat itu aku merasa kau perhatikan dan aku bisa... bisa memelukmu saat trauma itu muncul."

__ADS_1


Jarvis terhenyak akan kebenaran yang disampaikan oleh Floretta. Sejauh itukah Floretta mendambakannya dulu?


"Tapi, tenang saja, aku akan mengikuti rangkaian penyembuhan sepulang dari kita berlibur," ujar Floretta mengulangi janjinya lagi. Fakta baru itu membuat Jarvis merasa tawar, tidak dibutuhkan lagi oleh Floretta.


__ADS_2