
Di suatu tempat, Alleta Nicoline sedang menunggu seseorang. Perempuan itu diminta menjumpai orang yang sebenarnya ia tidak kenal. Namun, ada penawaran kerja sama di bahasa undangan yang diterima melalui pesan singkat.
Alleta memesan minuman untuk dirinya sendiri. Dia tidak tahu-menahu selera dari orang yang mengundangnya sehingga Alleta tidak memesan makanan maupun minuman untuk pria itu.
Orang yang ditunggu Alleta tiba dengan memakai masker, kaca mata hitam, dan hoddie dengan penutup kepalanya. Mereka duduk di tempat yang telah dipesan oleh Alleta.
"Apa sandinya?" tanya Alleta.
"Heligore Filaneey."
Alleta menganggukan kepalanya, kata sandi menandakan sosok ini benar yang menghubunginya tempo hari.
"Katakan apa tujuan Anda mengajak ke sini?"
Penampilan misterius itu membuat Alleta gentar, tutur selanjutnya membuat Alleta menemukan kawan yang tepat.
"Jarvis Meyer. Aku ada tugas terkait pria ini." Sosok misterius mendorong kertas berisi foto Jarvis dengan coretan spidol merah tepat di bagian kepalanya.
"Apa yang aku dapatkan?"
"Saat ini aku tidak bisa memberi apa-apa. Tetapi, bila target tercapai... aku akan menjamin kehidupan masa depanmu dan anakmu."
Alleta terhenyak mendengar penuturan yang menyinggung soal anaknya. Alleta menelan ludahnya yang kering.
"Beri aku alasan mengapa Anda ingin melakukan ini?"
Alleta heran dengan keinginan orang tersebut. Alleta perlu berhati-hati.
"Agar dia tahu bagaimana rasanya sakit dan hidup menderita."
"Apakah ada yang menyuruh Anda?" Alleta ingin mengenali siapa di balik masker hitam itu.
"Itu bukan urusanmu!" Pria itu membentak Alleta hingga tersentak.
"Jadi, tugasku apa?" tanya Alleta memperjelas keinginan sosok misterius.
"Jangan tanyakan padaku, kau telah memulainya, terus dan lanjutkan sampai di mana dia masih bertahan."
Alleta tampak berpikir panjang. Bila ia tidak mendapatkan kejelasan untuk apa menerima suruhan orang di hadapannya ini.
"Maaf, aku tidak bisa." Alleta berdiri, berniat keluar ruangan privat itu lalu pulang.
__ADS_1
"Aku mendengar kabar, kau membutuhkan uang banyak untuk pengobatan putrimu yang terkena penyakit kronis."
Mendadak Alleta menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh, rasa penasaran terhadap sosok di hadapannya malah membuat tubuhnya merinding. Pria itu mengetahui profil Alleta, padahal ia tidak membukanya ke publik.
"Dan itulah sebabnya kau membongkar perselingkuhanmu bertahun-tahun yang lalu di podcast-podcast. Parahnya, kau juga melemparkan dirimu pada pria-pria kesepian."
Sosok misterius itu berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Alleta. Pria berhodie itu menyentuh pipi Alleta dengan tangan kanan bertanda bintang pada pergelangan tangannya.
"Keuanganmu sedang sekarat. Anakmu juga sekarat. Sekarang terserah padamu, Alleta Nicoline."
Pria itu beranjak keluar ruangan, ia sempat menyenggol sedikit lengan Alleta. Alleta tersadar, membalik tubuh mengarah ke pintu lantas berteriak cepat.
"Baik. Aku laksanakan."
Pria itu hanya diam, menarik gagang dan menghilang seiring pintu menutup.
***
Jam kerja Alice Bouwer telah berakhir, ia berencana langsung pulang ke apartemennya. Rapat di kantornya begitu menyita tenaga.
"Alice, bisa bicara empat mata?"
Seseorang menyela Alice yang telah membuka pintu mobilnya di parkiran kantor. Alice memandang seksama orang itu dari bawah hingga kepala.
"Kau ingin bicara apa?"
"Tidak di sini. Kau bisa mengikuti dengan mobilmu."
Dengan berat hati, Alice mengikuti kendaraan roda empat di depannya. Alice menyetujui karena ia juga ingin menyampaikan sesuatu pada orang yang sedang dibuntutinya saat ini.
Tibalah mereka di sebuah cafe dengan nuansa modern minimalis yang dihias warna monokrom gradasi putih dan hitam.
"Cepat katakan apa maumu. Aku tidak punya banyak waktu," desak Alice dengan pandangan sinis pada pria berpakaian rapi di seberang mejanya.
"Aku ingin kau membantuku memperbaiki hubungan dengan Floretta."
Alice terkekeh mengejek, mengapa baru sekarang? "Setelah sembilan tahun, baru ingin memperbaiki hubungan? Kemana kau selama ini, Jarvis Meyer?"
Rasa geram pada Jarvis tidak ditutupi lagi oleh Alice. Meskipun mereka berteman sejak lama, tetapi hati Alice tidak terima dengan perlakuan semena-mena Jarvis pada Floretta.
Menurut Alice, Floretta sosok yang tulus hati. Padanya Floretta tidak pernah menceritakan tentang keburukan Jarvis, meskipun mereka saling mencurahkan perasaan sebagai sahabat satu dengan lainnya.
__ADS_1
Floretta menyimpan segalanya dalam hati sampai hatinya penuh dengan beban atas ulah suaminya.
"Jarvis, aku adalah korban dari perselingkuhan suami. Aku meminta cerai dan sampai hari ini aku hidup dengan baik dan mapan. Aku membenci skandal seperti yang kau lakukan."
Jarvis membeku di tempat, tampaknya ia salah mencari bantuan. Hanya saja, Alice orang yang bisa membantunya.
"Alice... aku dan mantan suamimu orang yang berbeda. Aku ingin memperbaiki hubungan dengan istriku, sementara kau... mantan suamimu malah menikahi selingkuhannya."
"Lancang kau Jarvis!"
Alice geram pada cara bicara Jarvis. Gebrakan meja yang dilakukan Alice menyita perhatian orang sekitar. Jarvis menjadi malu, tetapi menegur Alice dengan tenang.
"Sebaiknya kau jangan mempermalukan diri sendiri, Alice. Bukankah kau seorang vlogger yang dikenal banyak orang?"
Alice mengepalkan tangan di meja, menyesal dirinya memenuhi ajakan Jarvis.
"Laki-laki peselingkuh sepertimu tidak layak dimaafkan."
Jarvis berdecak. "Kejadian ini sudah lama terjadi, Alice. Ini bukan perselingkuhan seperti orang lain yang sembunyi-sembunyi."
Alice melotot terkejut. "Jadi, Floretta mengetahui kau berselingkuh semenjak awal pernikahan?"
Jarvis mengangguk, sementara itu Alice menggeleng tidak habis pikir.
"Kau memang parah. Aku semakin yakin untuk tidak membantumu kembali pada Floretta."
Alice menunjuk-nunjuk Jarvis dengan rasa jengkel.
"Floretta sedang hamil anakku, bila kau tidak membantunya... itu sama saja kau tidak memikirkan kehidupan anak-anak Floretta. Sebab, dirinya tidak memiliki harta apa-apa selain dariku. Mereka bisa hidup dalam kemiskinan dan... itu ulahmu, Alice."
Mendengar ancaman itu ingin rasanya Alice melayangkan bogem ke wajah tampan Jarvis agar bonyok, bila perlu pria itu sampai melakukan operasi plastik.
"Kau ingin melempar kesalahan padaku, Jarvis? Tindakan rendahmu yang membuat Floretta ingin meninggalkanmu. Memiliki istri yang mengorbankan segalanya, tidak mengetuk pintu hatimu. Memang kau pria yang busuk."
Jarvis merasa dongkol mendengar perendahan yang dilontarkan Alice. Baik mamanya, Stephanie, dan teman lamanya, Alice, tidak bersedia membantu. Apalagi yang harus dilakukannya agar Floretta menerimanya kembali?
"Baiklah, bila kau tidak bersedia membantuku." Jarvis merasa tidak ada gunanya pertemuan dengan Alice. Ia berdiri, meninggalkan sejumlah uang di meja.
Sambil berjalan melewati Alice, Jarvis berseru, "Semoga kau menjanda seumur hidupmu, Alice!"
Bibir Alice mengangga mendengar sumpah serapah Jarvis. Alice membalik tubuh dengan memegang cangkir kosong, sayangnya Jarvis telah menghilang dari cafe.
__ADS_1
Jarvis memukul kemudi, sepertinya ia tidak bisa berharap pada siapapun untuk membantunya.
Jarvis harus berusaha sendiri untuk mengembalikan kepercayaan dan keceriaan istrinya. Jarvis perlu kreatif mencari strategi lain sebelum semuanya berakhir di persidangan.