
Setelah hujan semalaman, kota Kowabuda disinari mentari pagi yang menghangatkan. Meski begitu, kesejukan udara tetap menjadi keunggulan kota Kowabuda.
Dael dan Rosalie telah bersiap untuk melakukan aktivitas berkeliling kota, mengunjungi spot yang viral di media, serta tempat-tempat bermain yang menyenangkan.
Sementara itu, Jarvis bersiap untuk pergi mengunjungi seseorang di rumah sakit, diakui sebagai teman pada Floretta.
"Anak-anak nanti ayah akan menyusul kalian bepergian."
Dael dan Rosalie tidak masalah bila ayahnya tidak bersama karena ada keperluan tertentu. Sampai di Kowabuda dengan ayah dan ibunya sudah jadi kegiatan yang menyenangkan bagi mereka berdua.
Usai sarapan bersama mereka menaiki kendaraan masing-masing yang akan membawa ke tempat tujuan.
Jarvis bersama Kazem mengarah ke sebuah rumah sakit untuk memeriksa DNA. Orang suruhannya berhasil mendapatkan sampel darah anak Alleta.
Hasil tes akan diperoleh dalam waktu paling lama 40 jam. Jarvis siap membayar mahal untuk mendapat hasil lebih cepat dari pemeriksaan DNA secara umum.
"Kita mengarah ke rumah sakit tempat anak Alleta dirawat," perintah Jarvis pada Kazem. Sebenarnya, Jarvis tidak perlu melakukan hal itu, bisa saja ia langsung menemui anak-anaknya. Namun, hatinya sebagai ayah dua anak, merasa kasihan pada anak Alleta yang jauh dari orang tua, bahkan ayahnya sendiri tidak diketahui keberadaannya.
Tiba di rumah sakit Lywoid, khusus merawat anak yang menderita kanker. Jarvis langsung menuju ruangan yang telah diinformasikan oleh orang suruhannya.
Jarvis tidak masuk ke ruang rawat, melainkan melihat dari kaca tembus pandang. Terlihat anak Alleta terbaring dengan peralatan medis terpasang di tubuhnya.
Dari wajah si anak yang berusia kurang lebih delapan tahun itu, tidak ada garis wajah yang mirip dengan Jarvis. Dirinya yakin kalau anak itu bukanlah anaknya.
Namun, perasaan saja tidaklah cukup untuk membuktikan fakta.
Jarvis melangkah ke arah luar, setelah merasa cukup untuk melihat anak Alleta yang dirawat. Sementara itu, Kazem diminta menunggu di parkiran kendaraan.
Sewaktu Jarvis akan keluar dari rumah sakit, tanpa sengaja berpapasan dengan Alleta.
Keduanya saling terhenti sejenak, lantas Jarvis melangkah cepat menghindari Alleta yang terkejut mendapati Jarvis berada di rumah sakit Kowabuda.
Bukannya melangkah ke ruang rawat anaknya, Alleta membalik tubuhnya mengejar Jarvis.
__ADS_1
"Jarvis, kita perlu bicara." Jarvis mengabaikan Alleta hingga mereka keluar dari rumah sakit. Langkah besar Jarvis agak sulit diikuti oleh Alleta, terpaksa ia berlari lalu meraih lengan Jarvis.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." Itulah keputusan Jarvis lalu ia melangkah lagi. Parkiran rumah sakit sangatlah luas, Jarvis malah mencari-cari barisan kendaraannya, sayangnya ia perlu meneliti satu per satu.
Konsentrasinya pecah karena Alleta terus-menerus meminta bicara dengan Jarvis.
"Kau ingin melihat anakmu? Kau pasti khawatir dengan keadaannya 'kan?" tebak Alleta membuat langkah kaki Jarvis berhenti.
"Alleta, kau jangan berhalusinasi. Dia bukan anakku," ucap Jarvis sembari menunjuk ke arah rumah sakit.
"Lalu, untuk kepentingan apa kau berkunjung kemari?"
"Aku mengunjungi temanku," balas Jarvis berbohong.
Alleta mencoba memaknai ucapan Jarvis. Alleta tidak percaya pada kebetulan, Jarvis pasti merencanakan sesuatu atau dia memang tergugah sebagai seorang ayah.
"Jarvis, dia adalah anakmu. Tes DNA yang pernah aku publikasikan menyatakan itu."
"Stop berbohong dan berlagak menjadi korban, Alleta. Kau pikir dengan menutup nama dan menyisakan inisial J, itu berarti anakku? Sebodoh apa aku ini?" Jarvis tidak menerima tudingan Alleta yang menyusahkan hidupnya.
"Diam... diam... kau Alleta." Jarvis mendorong Alleta ke badan salah satu kendaraan, syukur saja kendaraan roda empat itu sudah tua, alarmnya tidak berbunyi.
"Jarvis, sakit... Lepas..." Lengan Alleta dicengkram keras oleh Jarvis, Alleta berusaha melepaskan diri. Jarvis tidak peduli pada suara permohonan Alleta.
"Kau dengar, masa mudaku penuh dengan kebodohan, termasuk meminta perempuan sepertimu masuk ke dalam hidupku. Kau merusak rumah tangga dan nama baikku. Kalau kau meneruskan terormu, aku bisa... bisa membunuhmu," ancam Jarvis sembari membisikkan kata terakhirnya.
"Jarvis, aku tahu hatimu tidaklah seburuk itu. Kau berpaling dariku karena aku pernah menduakanmu, bukan? Bila saja aku tidak melakukannya, tetap setia kepadamu, kau pasti tidak akan meninggalkanku dan semarah ini, bukan?" terka Alleta dengan pandangan berkaca-kaca. Tatapan mereka berdua saling mengunci seakan-akan memikirkan apakah ucapan Alleta benar seperti itu?
"Sebaiknya, kau menjauh dari hidupku dan keluargaku. Ancamanku masih berlaku." Jarvis sempat mencengkram lebih kuat lengan Alleta sampai perempuan itu kesakitan. Setelahnya, Jarvis melepaskan Alleta dengan kasar lalu meninggalkannya untuk mencari kendaraannya kembali.
Dari kejauhan Alleta menangkap sosok perempuan yang menghabiskan waktu sembilan tahun bersama Jarvis, yakni Floretta.
Floretta terlihat sedang mencari-cari sesuatu, mungkin suaminya, pikir Alleta. Dengan kemampuan berdrama, Alleta kembali mengejar Jarvis. Tiba-tiba Alleta memeluk erat tubuh Jarvis dari belakang lalu bersuara keras untuk memancing Floretta.
__ADS_1
"Maafkan aku Jarvis atas kesalahan di masa lalu padamu." Jarvis seketika membeku, merasa tidak nyaman. Ia mengurai pelukan Alleta lalu membalik tubuhnya untuk memberi pelajaran pada Alleta.
Sekonyong-konyong saat Jarvis telah menghadap Alleta dan hendak memuntahkan amarah secara verbal, Alleta lebih cepat bertindak dengan memeluk leher Jarvis lalu menempelkan bibirnya pada milik Jarvis.
Jarak yang begitu dekat dan belitan kedua lengan Alleta di lehernya menyulitkan Jarvis untuk mendorong tubuh Alleta beberapa waktu.
Dengan usaha lebih kuat akhirnya mereka dapat terpisah. Saat itulah, Jarvis mendapati Floretta berdiri gemetar melihat peristiwa kedekatannya dengan Alleta.
Jarvis membelalak melihat istrinya berada beberapa langkah dari mereka. Sementara itu, Alleta masih memasang wajah memelas sembari menantikan apa yang akan terjadi pada Floretta dan Jarvis.
"Flo."
Pikiran buruk mendadak menyerang Floretta. Floretta membalik tubuhnya lalu berlari sekencang yang ia mampu.
Alleta yang tidak kenal pantang menyerah masih saja menghalangi Jarvis dengan menahan lengannya. Alhasil, Jarvis yang diliputi kemarahan mendorong Alleta hingga terjerembab ke lantai aspal tempat parkiran yang akan meninggalkan luka lecet.
Jarvis melirik ke setiap barisan kendaraan, ia kehilangan jejak Floretta. Namun, Jarvis merasa Floretta masih berada di parkiran sebab dalam keadaan hamil masuk trimester ketiga tidaklah mudah mencapai gerbang keluar dengan cepat.
Sembari mencari jejak Floretta, Jarvis menghubungi Kazem.
"Kazem, Nyonya Floretta ada di sini, di parkiran. Aku kehilangan jejaknya. Cepat temukan!"
Jarvis menyesal tidak meminta Kazem mengawalnya tadi, ia pun tidak menyangka berjumpa dengan Alleta, padahal telah diperingatkan oleh orang suruhannya kalau mantan kekasihnya itu berada di Kowabuda.
Tanpa banyak tanya Kazem yang bersiaga di kendaraan, turun tangan untuk mencari Floretta di sekitaran parkiran.
Floretta yang terkejut melihat peristiwa intim suaminya dan Alleta, terisak tertahan sambil bersembunyi di balik kendaraan roda empat diparkiran. Floretta tidak kuat dengan posisi menunduk, ia bisa mengintai dari tempatnya keberadaan Jarvis yang tengah mencari-cari dirinya.
Pagi tadi Floretta beralasan pada anak-anaknya, Rayya, dan para pengasuh kalau dirinya diminta untuk menyusul Jarvis ke rumah sakit. Kenyataannya, bukanlah demikian, kecurigaan Floretta yang membawanya tiba di rumah sakit tempat Jarvis kini berada.
Floretta sempat mendengar nama sebuah rumah sakit disebutkan oleh Jarvis pada Kazem sewaktu mereka akan berpisah di lobi hotel.
Saat ini, Floretta terduduk menyender di salah satu kendaraan, nafasnya memburu akibat keterkejutan dan rasa lelah berlari. Floretta memanjangkan kakinya, ia merasa perutnya sakit, mengencang, dan keras.
__ADS_1
Matanya membeliak sebab melihat darah mengalir di lantai aspal beton parkiran. Floretta takut terjadi apa-apa pada dirinya dan calon anaknya. Wajah Floretta memucat hingga tidak lama kemudian matanya menutup, gelap menghampiri dirinya.