
Hampir saja Jarvis melakukan sesuatu yang akan menghancurkan dirinya sendiri yakni membunuh Alleta. Kemarahan membajak amigdala di otaknya, syukur saja asisten sekaligus sopir kepercayaannya datang menghalangi tepat waktu.
"Terima kasih, Kazem," ucap Jarvis dalam perjalanan menuju kembali ke rumah sakit.
"Sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan," sambut Kazem yang sedang menyetir, ia mengerti arah ucapan itu.
Jarvis menolehkan pandangan keluar kendaraan mewahnya. Pikiran membawanya masuk dalam ingatan akan kejadian tadi di hotel. Emosi negatif hampir saja membuatnya menjadi calon penghuni jeruji besi.
Meskipun Jarvis orang kaya dan bisa saja mempermainkan hukum agar ia selamat dari tuduhan dengan menggunakan uang yang ia miliki, semisalnya jadi membunuh Alleta, tetap saja Jarvis akan kalah di pengadilan. Ditambah lagi warga internet di negara Filaneey memiliki kemampuan mengendus kejanggalan kasus, hampir serupa dengan anjing pelacak.
Seperti kasus pembunuhan yang viral di Filaneey yakni seorang pejabat tinggi dari lembaga penegak hukum menembak matiĀ anak buahnya yang diduga melakukan aksi tidak seronok pada putrinya.
Namun, pelaku tetap dijerat vonis hukuman seumur hidup karena terbukti melakukan pembunuhan dengan perencanaan dan perekayasaan yang matang. Jarvis tentu saja tidak mau berakhir di penjara seumur hidup hanya karena hilang kendali.
Sebelum mereka tiba di hotel tadi, Jarvis telah meminta agar Kazem ikut masuk ke dalam, berdiri dengan jarak cukup jauh. Pesan Jarvis pada Kazem adalah segera bertindak bila Jarvis melakukan reaksi yang berlebihan.
Itulah yang menyelamatkan Jarvis dari kejadian buruk yang akan menimpanya.
"Kazem, tindakan apa yang harus aku lakukan menghadapi muslihat Alleta?" Jarvis mengakhiri lamunannya.
"Izin Tuan, saya mengira Nona Alleta bekerja sama dengan pihak lain, sehingga ia terlihat yakin dan kuat. Tuan harus lebih sabar menggali keterlibatan pihak ketiga yang mendukung Nona Alleta."
Jarvis mengangguk-angguk, ketajaman intuisi Kazem kerap membantunya untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Kazem seorang pelayan yang mengenal Jarvis semenjak suami Floretta itu lahir, sebelumnya ia bekerja untuk Jarish Meyer. Kazem dan Jarvis terpaut usia cukup jauh yakni 20 tahun.
Kazem tidak pernah menikah, dedikasinya tinggi untuk keluarga Meyer. Kisah masa lampau membuat Kazem memiliki alasan kuat untuk total melayani keluarga Meyer.
Ia merupakan keturunan gelandangan yang diangkat menjadi pelayan keluarga kakeknya Jarvis di masa remaja. Kini, Kazem menjadi orang kepercayaan Jarvis, meskipun pekerjaannya hanyalah sopir.
Setelah Kazem menghalangi niat Jarvis untuk menembak Alleta dengan menarik tubuh pria itu keluar kamar hotel, Alleta tersenyum miring menunjukkan rasa semakin tidak suka pada Jarvis.
Sikap Jarvis dulu yang mencampakkan Alleta begitu saja setelah dua tahun usia pernikahan Jarvis dan Floretta sebenarnya memupuk rasa sakit hatinya. Ia terus-menerus menyusun siasat bagaimana Jarvis mengalami kejatuhan sebagai ganti luka dicampakkan saat lagi sayang-sayangnya.
Apa mau dikata, waktu selalu terlihat tidak tepat dan rencana Alleta acapkali gagal, terlebih usaha bisnis Jarvis bukannya melorot malah semakin jaya. Maka, jalan satu-satunya adalah dengan menyerang kehidupan personal Jarvis.
Alleta yakin itulah kelemahan Jarvis, setelah upaya menghajar bisnis tidak pernah bisa menumbangkan perusahaan Kireiguzedes.
Selang beberapa waktu, ponsel Alleta bergetar di meja dekat kamarnya. Bergegas ia mengecek siapa pemanggilnya. Alleta tersenyum senang sebab pria misterius yang menghubunginya.
"Langkah tepat, kerja yang baik sekali, Alleta. Suguhi publik dengan kejutan demi kejutan tentang pria inisial J, sampai ia terpojok tanpa sadar."
"Apa Anda tahu saya hampir saja dibunuh dengan cara ditembak," adu Alleta bermaksud menceritakan kejadian tadi.
"Resiko kehidupan adalah kematian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi aku masih ingin melihat anak ku sehat."
__ADS_1
Pria itu mendengkus. "Jangan terlalu berlebihan, detik ini juga anakmu bisa tidak bernyawa."
Alleta membeliak mendengarnya. "Anda mengancam?"
"Orang yang mengatakan kematian adalah ancaman, pertanda kebodohan mengisi penuh otaknya. Putrimu menderita kanker darah akut yang sangat mematikan dan bisa kapan saja kehilangan nyawanya."
Alleta terdiam dan sadar ucapan pria misterius ada benarnya.
"Lebih baik fokus bekerja untuk menjatuhkan Jarvis. Setiap pukulan telak pada Jarvis, aku hargai mahal bukan?"
Pria itu terkekeh sebentar, tidak lama panggilan mereka terputus.
Sesampainya Jarvis di rumah sakit, ia bergegas menuju kamar rawat Floretta. Terlihat Walden sedang berjaga, sementara Stephanie duduk di bangku depan kamar rawat.
Stephanie sebenarnya bisa saja masuk dan duduk di sana. Hanya saja, ia tidak sanggup melihat kondisi lemah Floretta. Stephanie terbawa perasaan bila memandangi menantunya itu.
Stephanie menoleh begitu mendengar suara derap sepatu melangkah mendekat. Matanya menatap tidak suka pada putra keduanya itu.
"Mama...," sapa Jarvis.
Ingin rasanya Stephanie melayangkan lagi tangannya ke wajah putra kesayangannya itu. Putra yang dididik dengan penuh kasih sayang, tetapi mengecewakan dengan mencoreng wajahnya dengan arang perselingkuhan yang membuahkan anak di luar nikah.
"Mama sudah tahu berita di luar, kau memiliki anak dari perempuan lain," geram Stephanie dengan bibir sedikit terkatup dan bergetar. Matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Itu tidak benar, Ma." Jarvis menjawab dengan tenang, ia merengkuh tangan Stephanie yang sontak dibalas tarikan.
"Jangan sentuh, Mama." Stephanie mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jarvis merasa tidak enak dengan keadaan canggung saat ini, sebab Walden dan Kazem ada di sana menyaksikan.
Sewaktu Jarvis membuka pintu kamar rawat Floretta, dirinya terkejut mendapati Jadden sedang berdiri di dekat istrinya sambil memandangi wajah Floretta.
"Apa yang kau lakukan?"
Jadden terkejut mendengar suara dan kehadiran Jarvis tiba-tiba. Tubuhnya menegak, Jadden mengatur dirinya untuk bersikap tenang.
"Hanya membesuk adik ipar ku."
Tidak ada yang terlihat aneh, tetapi reaksi Jarvis tampak tidak nyaman. Mungkin masih terbawa suasana tegang pertemuan dengan Alleta dan respon Stephanie yang tidak disangka-sangka.
"Dia sedang istirahat, kau tidak perlu menganggunya," tegur Jarvis, ia menginginkan Jadden menjauh dari sana.
"Mengganggu? Aku?" tanya Jadden menunjuk dirinya.
"Aku tidak melakukan apapun." Jadden membela dirinya menaruh telapak tangan terbuka di sebelah kedua bahunya.
Hati Jarvislah yang sebenarnya terganggu, siasat Alleta, reaksi Stephanie, dan keinginan cerai Floretta benar-benar membuatnya berpikiran buruk tentang banyak hal termasuk pada Jadden, padahal Jadden baru kembali dari negara Kowabuda.
"Keluarlah, aku ingin bersama istriku," ucapnya menekankan kata terakhir.
__ADS_1
Jadden terdiam memandang Jarvis seolah-olah mengatakan keberatannya. Namun, untuk menjaga suasana ketenangan Floretta, Jadden mengalah.
"Adik ipar, aku pamit. Semoga lekas pulih."
Jadden melangkah keluar melewati tubuh Jarvis. Sempat Jadden berhenti sejenak, mengatakan kalimat yang menggampar hati Jarvis. "Floretta berhak hidup bahagia."
Kalimat sepotong itu memiliki makna yang dalam. Pikiran Jarvis malah berkecamuk, setelah pintu tertutup dan tinggal dirinya bersama Floretta.
Jarvis merasa tidak seorang pun keluarganya yang saat ini berpihak padanya. Mandy yang biasanya rajin datang ke kediaman mereka, mulai mengurangi intensitas kedatangan semenjak isu yang dilempar oleh Alleta merebak.
Puncak kepala Floretta diusap oleh Jarvis, seakan-akan memindahkan kekuatan darinya untuk sang istri. Usapan itu beralih ke perut Floretta yang ditutupi selimut.
"Bertahanlah di dalam, kuatkan ibumu. Maafkan ayah," bisiknya dengan suara bergetar. Jarvis mendongakkan kepalanya melihat langit-langit ruangan eksklusif. Ia menggelengkan kepala, sudah lama Jarvis tidak merasa sesedih hari ini.
Jarvis merasa tidak boleh menangis, kakek dan ayahnya dulu mengingatkan kalau menjadi laki-laki tidak boleh cengeng apalagi sampai menitikkan air mata. Namun, perasaan Jarvis tidak bisa dibohongi agar selalu tampil kuat, kekeliruan di masa lalu yang dibuatnya atas persetujuan Floretta menjadi bumerang yang kembali pada dirinya.
Kepala Jarvis menunduk, bersamaan pula air matanya turun sampai menyentuh lengan Floretta. Dihapusnya segera menggunakan telapak tangan termasuk yang mengenai lengan Floretta.
Jarvis berpikir ia telah menjadi pria lemah di hadapan Floretta. Bila perempuan itu terbangun ia pasti menertawakan Jarvis saat menemukan dirinya menangis.
Pria kaku nan dingin yang kerap menolak Floretta, kini meratap di hadapan Floretta. Jarvis mengejek kelemahan dirinya sendiri.
Tangan Floretta bergerak, begitu pula dengan kelopak matanya. Gegas Jarvis mengamati tanda-tanda Floretta sadar.
"Flo, kau sudah bangun?" tanyanya senang, seulas senyum menghiasi wajah tampannya. Jarvis menunduk lebih dekat pada Floretta.
Manik Floretta memindai ruangan sekitar hingga bertemu dengan sorot Jarvis. Mendadak air mata Floretta turun melihat Jarvis.
Floretta mengangkat tangannya hendak memukul Jarvis. "Pria jahat, kau tidak menepati janjimu!" Floretta berteriak kencang.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka bukan karena mendengar suara Floretta, melainkan Stephanie ingin berpamitan pada Floretta untuk pulang.
Penampakan kemarahan Floretta dan tindakannya untuk menghajar Jarvis membuat Stephanie menjadi panik.
"Aku membencimu, Jarvis Meyer. Kau pembohong dan tidak menepati janji!" Floretta menyemburkan amarahnya sembari menangis kencang.
Stephanie memanggil Jadden Walden, dan Kazem. Mereka semua masuk ke dalam ruangan menyaksikan Floretta yang berbaring sedang tersedu-sedu.
"Flo, tenanglah. Di sini ada mama yang menemani." Stephanie mendekap Floretta dan mengusap lengannya. Floretta balas memeluk ibu mertuanya.
"Aku tidak sudi melihat wajahnya, Ma," tangis Floretta sambil menunjuk ke arah Jarvis.
Sungguh telak perkataan Floretta terhadap suaminya. Jarvis seakan-akan menerima pembalasan atas perbuatannya di masa lalu.
"Jarvis, sebaiknya kau keluar dulu. Istrimu butuh ketenangan." Jadden meminta demikian, Jarvis membeku di tempat.
"Tuan, sebaiknya kita keluar." Kazem pun menyarankan hal yang sama dengan Jadden.
__ADS_1
Jarvis melihat ke arah Floretta dan Stephanie. Ia mendapat sorot tajam dari Stephanie yang menggerakkan kepala ke arah pintu keluar. Mamanya memintanya tidak seruangan dengan Floretta.
Jarvis menarik nafas panjang, akhirnya ia bersedia melangkah keluar ruang rawat demi Floretta tanpa bisa memberi penjelasan apapun.