MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Meminta vs Menolak


__ADS_3

Sepulang dari kediaman Jarish dan Stephanie, Floretta menemani kedua buah hatinya untuk bersiap-siap istirahat malam. Dael tidak perlu ditemani hingga terlelap, sementara Rosalie masih.


Ingatan Floretta kembali ke peristiwa penyambutan Jadden tadi. Pria itu terlihat berbeda dibandingkan masa pergaulan mereka semenjak remaja hingga berkuliah.


Jadden dulu seorang geek boy, sangat menyukai buku dan menggilai teknologi, sehingga dulu ia dijuluki computer geek. Maka, tidak heran bila Jadden dewasa menjadi dosen dan pengusaha yang menjejak di bidang teknologi.


Sikap Jaddenlah yang mengherankan bagi Floretta, bahkan membuat dirinya dilanda rasa bersalah dan takut. Pria itu seolah-olah mampu mengintimidasinya dengan ucapan, tatapan, senyuman, sampai penampilannya.


Jadden dulu berkacamata tebal, berkemeja sampai kancing teratas ditutup, kerap membawa buku dan komputer jinjingnya kemana-mana, tidak memiliki teman, kecuali Floretta yang tidak sungkan berada di dekat Jadden.


Floretta dan Jadden seumuran, sementara Jarvis tiga tahun di bawah mereka. Namun, siapa sangka kalau perasaan Jadden terpental saat tahu Floretta memiliki perasaan lebih pada adiknya yang juga menjadi pengurus mahasiswa di saat mereka tingkat akhir pada kampus yang sama.


Tanpa sadar air mata Floretta menitik sembari mengusap-usap kepala Rosalie yang telah tertidur lelap. Floretta mengenang pula masa dimana ia bertahun-tahun tidak dicintai oleh suaminya.


Sakit.


Muncul pula kenangan pada Jadden teman baiknya yang ia sakiti.


Apakah Jadden menyimpan rasa sakit pula?


Floretta terlalu masuk ke masa lalu sehingga secara emosional ia sedih dan menyesal mengingat kejadian yang menimpanya.


Floretta membatin, bila saja ia meneruskan hubungan dengan Jadden, mungkin tidak ada...


Mendadak bahu Floretta disentuh dari belakang, sontak ia kembali ke dunia sadarnya.


Dengan mata memerah dan hidung meler, Floretta menoleh pada sosok yang berhasil membuyarkan kenangannya.


Jarvis menatap Floretta dengan raut bingung. Ada apa dengan Floretta?


Floretta beranjak dari ranjang lalu memeluk erat tubuh Jarvis, menangis terisak tertahan di dada suaminya. Floretta butuh kekuatan dan pelukan saat ini.


Jarvis membalas pelukan istrinya, ia mengusap punggung dan kepala Floretta untuk menenangkannya.


Jarvis hanya bingung dengan sikap Floretta yang saat ini berubah lagi. Apakah ini biasa dilalui oleh seorang ibu hamil? Sayangnya, Jarvis tidak memiliki pengalaman itu sebab di kedua kehamilan Floretta, dia tidak begitu memperhatikan istrinya.


Jarvis memapah Floretta keluar dari kamar Rosalie menuju ruang pribadi mereka untuk istirahat malam.


"Duduklah Flo, aku akan ambilkan segelas air," ujar Jarvis lalu meninggalkan Floretta yang terisak perlahan.

__ADS_1


Jarvis menyerahkan segelas air hangat begitu ia kembali ke kamar. Floretta menerima lalu meneguk hingga tandas.


"Ada apa denganmu, Flo? Apakah kau ingin cerita padaku?"


Minum air hangat memberi kondisi baru, Floretta tidak lagi terisak, tangisnya telah mereda. Ia bisa lebih tenang.


Hanya saja, Floretta tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan suaminya.


Beberapa waktu hanya berdiam diri, Floretta memberanikan diri untuk mengungkapkan isi pikirannya.


"Jarvis, mungkin benar... seharusnya kita tidak pernah menikah."


Setelah menyelesaikan kalimat pilunya, tenggorokan Floretta rasanya tercekat, semua kalimat lanjutan seolah-olah tertelan olehnya. Tubuh Floretta bergemuruh seperti tidak terima dengan ucapannya sendiri.


Jarvis tidak mengerti arah pembicaraan Floretta. Masalahnya, tadi di kediaman Meyer dan kamar Rosalie, Floretta menunjukkan sikap manis seperti tanda akan kembali menjadi Floretta biasa.


Mengagetkan, ucapan Floretta seakan-akan menampar Jarvis secara tidak langsung.


"Aku minta maaf padamu, sembilan tahun lalu aku memaksakan kehendak untuk menjadi istrimu, Jarvis. Menghalalkan berbagai cara agar kau menjadi suamiku. Secara emosional, tidak peduli dengan apa yang terjadi pada keadaan sekitar dan rumah tangga kita."


Floretta bersungguh-sungguh dengan ungkapan maafnya.


Rahang Jarvis mengetat, Floretta baginya menjadi semakin penuh misteri.


"Apakah tidak ada bahasan lain selain perpisahan dan perceraian?" Jarvis bosan dengan topik yang dibahas Floretta.


"Kau telah menjalani sembilan tahun menjadi istri dan tujuh tahun lamanya menjadi ibu, bahkan akan memiliki anak ketiga. Aku pikir kau baik menjalankan kewajibanmu. Perceraian hanya akan menghancurkan banyak batin, Flo," Jarvis mencoba membantah permintaan Floretta.


"Aku tidaklah sebaik itu Jarvis. Aku pikir saat kau menemukan adanya keburukan dalam diriku, kau pasti akan meninggalkanku. Kalau pun saat ini kau bertahan, itu hanya soal kewajiban. Dan, perpisahan tidak akan membatalkan kewajiban kita pada anak-anak," Floretta tidak mau kalah dalam memberi argumentasi.


Jarvis menganggukkan kepala.


"Ya, aku tahu itu. Apakah kau ingin anak dalam kandunganmu itu tidak merasakan bagaimana hidup dalam pernikahan orang tua kandungnya?"


Floretta mendadak kaku. Kalimat Jarvis pernah dikemukakan oleh Jadden bertahun silam.


Jadden mengatakan kalau ia tidak ingat bagaimana rasanya hidup dalam pernikahan antara ibu kandungnya dengan Jarish Meyer, sebab diusia dua tahun ia tidak lagi diasuh oleh ibunya karena penyakit kronis tidak memungkinkan untuk mengasuh Jadden kecil.


Floretta berusaha menampik dengan memandang kedua keadaan itu berbeda.

__ADS_1


"Jangan bawa-bawa anak ini, Jarvis! Bila perlu kita mengaborsinya agar ia tidak merasakan betapa sakitnya hidup di dunia ini," cecar Floretta.


Jarvis meradang mendengarnya, tetapi berusaha untuk memahami kondisi hubungan mereka yang tidak harmonis membuat Floretta menampilkan sikap menyesal.


"Aku tahu kau mencintai anak dalam kandunganmu, Flo. Bila kau marah padaku, maka biar aku yang menanggungjawabi kesalahan ku. Jangan biarkan Dael, Rosalie, dan janinmu menjadi pelampiasan amarahmu."


Floretta menarik nafas panjang bergetar lalu menolehkan pandangan ke arah lain.


"Tanpa aku minta, kau juga pasti akan meninggalkanku, Jarvis. Pernikahan tanpa cinta dan cinta yang memaksa memang tidak akan awet," prediksi Floretta. Banyak bayangan masa lalu dan masa depan melintas di pikirannya.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, Flo? Aku tidak mengerti."


"Carilah perempuan lain, Jarvis yang kau cintai dan mencintaimu. Hiduplah kalian dengan bahagia sampai maut memisahkan." Floretta memandang Jarvis kembali, tetapi manik matanya terasa panas. Rasanya kalimat itu berat untuk diungkapkan Floretta.


Jarvis mendadak berdiri. "Flo, aku bosan dengan permintaan perceraian darimu! Apakah harus terus aku ulangi bahwa perselingkuhanku yang dulu juga karena dirimu!?"


"Kau memaksa ku untuk menikahi mu, sementara aku sedang bahagia-bahagianya dengan Alleta. Kita membuat perjanjian dan kau menyetujuinya. Hubungan kami hanya dua tahun, Flo. Setelah itu aku tidak lagi ada hubungan asmara dengannya."


"Lantas, mengapa sekarang seakan-akan semua menjadi kesalahan ku, Flo!?"


Jarvis menjadi tidak tahan melihat Floretta yang terus-terusan meminta berpisah, tetapi tidak membuka pintu damai.


"Tidak, kau tidak salah Jarvis. Akulah yang salah. Aku ingin melepaskanmu karena kau memang hidup terpaksa bersamaku, Jarvis Meyer."


Floretta mencoba mengurai alasan mengapa ia ingin bercerai dan apa harapannya untuk Jarvis.


"Dan aku... tidak - mau - berpisah, Nyonya Meyer. Anggap saja aku memaafkanmu. Beres 'kan. Lalu, kau mau apa!?"


Jarvis menunjuk-nunjuk diri sendiri, berakhir berkacak pinggang di hadapan Floretta.


Dalam keadaan tegang urat leher, Floretta mendengkus dan membuang pandangan ke arah lain.


Hati Floretta tidak sanggup lagi untuk hidup bersama orang yang tidak mencintainya dan menganggap dirinya tidak begitu berharga. Floretta hanya merasa sebagai penghasil keturunan Meyer saja.


"Pembicaraan ini kita akhiri, Flo. Kau butuh istirahat dan jangan berpikir terlalu keras. Sayangi dirimu."


Setelah memgatakan itu Jarvis keluar kamar membawa gelas kosong. Pria itu butuh ketenangan sebelum istirahat malamnya.


Sementara menjalar rasa hangat di paras Floretta, seketika itu juga langsung dialihkannya dengan bergerak ke ranjang. Floretta terus berupaya menghapus rasa untuk Jarvis dari dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2