
Negara Filaneey geger dengan berita kematian Alleta Nicoline yang makin dikenal dengan keberaniannya membongkar perselingkuhan masa lalu bersama seorang pengusaha.
Belum lagi dapat dibuktikan siapa sesungguhnya pengusaha J, masyarakat Filaneey terpecah dua. Satu pihak menyebut kematian Alleta yang mendadak terasa janggal, pihak lain menyayangkan kematiannya timbul rasa prihatin akan kondisi anak semata wayang Alleta yang tinggal sebatang kara.
Kematian Alleta menjadi trending topik pemberitaan berbagai media. Pihak otoritas penegak hukum negara Filaneey, Filaneey Polis, mengungkap bahwa Alleta ditemukan gantung diri di sebuah hotel kecil di kota Kowabuda.
Filaneey Polis melakukan penyelidikan terhadap jenazah Alleta yang ditemukan oleh petugas hotel malam harinya. Polis tidak mau berspekulasi terlalu dini akan penyebab kematian, sehingga berita yang tersiar cepat bergerak seperti bola liar di masyarakat.
Stephanie tiba di Kowabuda setelah melalui penerbangan subuh, sehari setelah operasi. Stephanie menginap di hotel yang sama dengan keluarga Jarvis.
Dael dan Rosalie terkejut mendapati mima-nya berkunjung juga ke Kowabuda.
"Mima, aku senang mima datang," sambut Rosalie antusias.
"Mima, ingin berlibur juga ya?" tanya Dael sembari memeluk Stephanie.
Hati Stephanie mendadak merasa sedih sekali memandang kedua cucunya yang polos. Mereka tidak tahu keadaan ibunya saat ini. Jarvis meminta agar kedua buah hatinya tidak diberitahu masalah kesehatan yang mendera ibunya.
"Mima juga senang melihat kalian. Rosalie dan Dael sehat buat mima itu menggembirakan hati mima."
Tanpa Stephanie sadari air matanya menitik. Stephanie takut dengan keadaan Floretta yang koma. Apakah Floretta akan bertahan atau meninggalkan ketiga orang cucunya?
"Mima, kenapa menangis?" tanya Rosalie mendongak melihat manik Stephanie mengeluarkan air mata.
Segera Stephanie menghapus air matanya. "Mima hanya terharu dengan Dael dan Rosalie yang begitu perhatian pada mima," ucapnya lalu mengulas senyum, padahal rasa khawatir dan sedih tersimpan dalam batinnya.
Usai sarapan bersama di hotel, Stephanie mengatakan kalau ia akan pergi dan tidak bisa membawa Dael dan Rosalie.
"Mima, ayah dan ibu juga tidak pulang, kata mereka kami liburan, nyatanya kami hanya bepergian dengan pengasuh dan Rayya." Dael tidak bisa menerima rencana mima mereka yang akan pergi.
"Semalam ayah berjanji akan menyusul, demikian juga ibu. Sampai pagi ini mereka belum terlihat. Dan mima juga ikut meninggalkan kami," ucap Dael dibarengi air mata.
Stephanie merasa bersalah pada cucu pertamanya itu. "Mima tidak meninggalkan kalian, mima ada janji dengan teman saja," ucap Stephanie berusaha meyakinkan Dael. Stephanie memberi usapan lembut di kepala dan punggung Dael.
"Setelah selesai keperluan, nanti mima akan segera kembali. Oke, ya?" Stephanie mengulurkan tangannya menunjukkan jari kelingkingnya sebagai janji pada Dael dan Rosalie.
Dengan berat hati Dael dan Rosalie menautkan kelingking mereka juga pada Stephanie.
Mima mengerti kekecewaan kalian, batin Stephanie.
Stephanie membawa asisten perempuannya dari Heligore. Pesannya pada Rayya agar memastikan kedua cucunya aman saat menghabiskan waktu berlibur supaya ada pula penghiburan bagi keduanya.
Hanya dua puluh menit waktu yang dibutuhkan tiba di rumah sakit ibu dan anak sesuai alamat yang diberikan pada Stephanie.
"Kau tidak perlu ikut ke dalam, menunggulah di lobi rumah sakit."
__ADS_1
Stephanie bergerak ke arah ruangan yang dimaksud. Jarvis menghubungi dirinya tadi sewaktu kendaraan yang ditumpangi melaju ke rumah sakit.
Jarvis sedang mengamati cahaya matanya yang ketiga dari luar ruangan dibatasi kaca tembus pandang. Anak ketiganya dibaringkan dalam sebuah inkubator. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan kedua kakaknya saat dilahirkan.
"Ayah mohon, kuatlah bersama ibumu ya, Nak."
Saat bersamaan pundaknya disentuh dari belakang. Jarvis menoleh lalu langsung memeluk Stephanie. Lamunannya begitu dalam sampai tidak mendengar suara langkah kaki Stephanie.
Stephanie terhenyak mendengar suara isakan kecil dari Jarvis. Stephanie lupa kapan terakhir kali putranya ini menangis. Sewaktu Jarish jatuh sakit sampai duduk di kursi roda, Jarvis tidak pernah terlihat menangis. Jarvis orang yang tegar dan cenderung keras pada dirinya.
Kini terlihat Jarvis seperti balita yang sedih karena mainannya rusak.
Stephanie memeluk putranya erat, ia berusaha menahan air mata keluar agar Jarvis tidak bertambah sedih.
"Bagaimana keadaan cucu dan menantu, mama?" Setelah beberapa menit berpelukan, Stephanie mengeluarkan suara.
Jarvis mengurai pelukannya.
"Cucu mama semakin baik kata dokter anak yang menanganinya."
Mereka sama-sama menoleh ke arah kaca tembus pandang melihat cucu ketiganya. Stephanie bisa melihat cucunya sedang tidur nyenyak dengan alat bantu medis di tubuhnya.
"Tetapi, kondisi Floretta masih sama, koma tidak sadarkan diri."
Stephanie melihat paras Jarvis dari samping, Jarvis menatap sendu ke arah inkubator putranya.
Jarvis hanya mengangguk membenarkan ucapan Stephanie.
"Mari kita duduk di tempat yang lebih nyaman."
Stephanie menggandeng lengan putranya, mereka berjalan ke arah taman rumah sakit. Di sana, tidak banyak orang berlalu lalang.
Rumah sakit ibu dan anak ini merupakan rumah sakit swasta yang tidak bekerja sama dengan asuransi milik pemerintah Filaneey, sehingga keadaan lengang menjadi keseharian di rumah sakit ini. Kebanyakan pasiennya merupakan orang-orang yang memiliki sumber daya finansial yang sangat baik.
"Ini, diminum dulu." Stephanie menyodorkan botol minum berisi air hangat yang sengaja dibawanya. Meski udara dingin di taman, lokasi ini lebih baik untuk Jarvis yang sedang dirundung masalah.
"Bisakah kau bercerita tentang apa yang terjadi?"
Stephanie sebenarnya tidak sabar untuk mengetahui ada masalah apa sampai terjadi kelahiràn prematur. Sayangnya, memborbardir Jarvis dengan berbagai pertanyaan akan membuat mentalnya tertekan.
Stephanie memilih satu per satu pertanyaan yang diajukannya.
Mengalirlah cerita dari bibir Jarvis yang melatarbelakangi persalinan Floretta yang belum genap sembilan bulan.
Stephanie terkejut mendengar kisah di balik peristiwa kelahiran cucu ketiganya. Ingin sekali Stephanie memarahi dan membentak Jarvis, dia menahan diri sampai-sampai tangannya mengepal menahan semburan amarah.
__ADS_1
"Apa kau tidak memikirkan dampak kepergianmu ke rumah sakit itu, Jarvis?"
Stephanie berusaha melontarkan pertanyaan dengan hati tenang meski bergemuruh emosi.
Jarvis menggeleng. "Aku tidak tahu kalau Floretta mengetahui keberadaanku di sana, ma."
Stephanie menarik nafas dalam dan panjang, bahkan menyentuh dadanya sendiri.
"Sesungguhnya tindakanmu ini sangat mengecewakan dan membuat mama marah. Mama pikir papamu juga akan marah begitu tahu kau pergi ke rumah sakit mengunjungi anak Alleta apapun alasannya."
"Aku telah punya rencana untuk menunjukkan pada Floretta kalau anak itu bukanlah anakku dari hasil tes DNA Paternitas yang telah aku lakukan sebelum pergi ke rumah sakit kanker anak. Aku ke sana terpanggil sebagai seorang ayah dari tiga anak, ma."
Stephanie mengernyitkan keningnya merasa jawaban Jarvis tidak sesuai dengan kenyataan rumah tangganya.
"Tidak perlu mengelak Jarvis, untuk apa memperhatikan anak orang lain yang nyata-nyata merusak rumah tanggamu."
"Aku menyesal, ma. Floretta jadi menderita," sesal Jarvis menundukkan kepalanya.
"Jarvis, kau tahu 'kan mama yang menyuruhmu menikahi Floretta sembilan tahun lalu. Mama yakin kalau Floretta istri yang baik untukmu." Jarvis mengangkat kepalanya menatap Stephanie.
"Mungkin kebenaran ini tidak penting lagi, tetapi mama akan mengatakannya agar kau sadari kesalahan pada istrimu." Jarvis tidak sabar menunggu kalimat Stephanie selanjutnya yang malah membuatnya terkejut bukan main.
"Mama juga yang meminta Floretta untuk menggodamu. Mama tahu, Floretta jatuh hati padamu. Dari tatapan sampai tindakannya mencerminkan rasa cinta yang mendalam padamu dibandingkan Alleta yang saat itu menjadi kekasihmu. Perasaan seorang ibu kuat, Jarvis"
Jarvis membeku di tempat duduknya, tidak mampu berkata-kata.
"Sampai-sampai mama memintanya melakukan upaya merendahkan dirinya dengan mengerjar-ngejarmu agar hatimu luluh dan mengatakan 'ya' untuk menikahinya. Ditambah lagi saat itu perusahaanmu sedang sulit untuk menanjak, Floretta pasti bisa memberi solusi."
"Sementara itu Alleta? Dia hanya bisa menghabiskan uangmu saja bukan?" Stephanie yang semula memandang anaknya, membuang tatapannya ke arah lain disertai rasa kesal hati.
Jarvis ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tetapi tercekat di tenggorokan. Jarvis tidak menyangka Floretta bisa bertindak "bodoh" karena mencintainya.
"Floretta tidak pernah mengeluh tentang rumah tangga kalian, mama pikir kau... kau telah membalas cintanya. Ternyata, kau masih sempat-sempatnya melanjutkan hubungan dengan Alleta di tahun awal pernikahan kalian." Stephanie memandang Jarvis kembali. Mereka sama-sama digerogoti perasaan bersalah mendalam.
Stephanie berdiri. "Mama tidak bisa berlama di sini. Mama janji dengan Dael dan Rosalie untuk mengajak mereka berlibur."
Sebelum meninggalkan Jarvis yang sedari tadi hanya diam mematung, Stephanie mengucapkan sesuatu pada putranya.
"Bila Floretta bisa melewati masa kritisnya, mama minta... kau melepaskan Floretta. Biarkan dia hidup bahagia."
"Mama pulang."
Stephanie melangkah menjauh dari Jarvis yang kembali mengeluarkan air mata sesal. Jarvis menahan sesak di dadanya.
Kini bukan hanya rasa sedih melainkan bersalah selama sembilan tahun menjadi suami dari seorang perempuan berhati tulus dan tangguh.
__ADS_1
Jarvis menilai bukan Floretta yang bodoh, melainkan dirinya sendiri. Bila ada penyebutan stadium kebodohan, Jarvis merasa berada di level yang sudah parah.