MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Kepribadian Ganda Floretta


__ADS_3

Stephanie tengah duduk di sofa dalam ruang kerja Jarvis. Ingatannya kembali pada peristiwa di ruang makan tadi.


"Kau perempuan terhormat, seorang ibu, dan juga istri dari Jarvis Meyer. Perempuan keluarga Meyer turun-temurun berpakaian dengan pantas. Kau tahu itu!?" Jarvis mengamuk pada Floretta di ruang makan.


"Ya, aku tahu. Tetapi ingat, berpakaian adalah hak seseorang dan ini tidak melanggar ajaran warisan keluarga Meyer. Hei, zaman sudah maju, Jarvis." Floretta keberatan dengan cara pandang Jarvis, ia menyampaikannya dengan tenang dan kadang sambil cekikikan.


Jarvis tidak terima dengan bantahan Floretta, ia berdiri lalu mendekati Floretta. Jarvis menarik tubuh Floretta hingga berdiri lalu menatap pakaian Floretta yang benar-benar membentuk tubuh ramping Floretta.


Jarvis sampai hampir tidak fokus pada topik ucapannya.


Floretta tertawa kencang. "Dan kau menyukai pakaianku 'kan?" Floretta menaruh jemari di pinggang dan tersenyum centil pada Jarvis. Floretta menyibak rambutnya yang panjangnya mulai melebihi bahu, bahkan Floretta sampai mencolek dagu Jarvis sebelum telunjuk Floretta ditangkap oleh Jarvis.


"Sikapmu sangat aneh." Nilai Jarvis pada Floretta. "Pakaian dan tindakanmu ini bisa jadi bahan fantasi pria yang melihatmu. Kau seharusnya sadar, anakmu sudah tiga orang!" sambung Jarvis berharap Floretta memahami tata berpakaian keluarga Meyer.


Floretta menarik telunjukknya lalu mengayunkan tangannya sambil tertawa renyah.


"Jarvis, modelmu di perusahaan bahkan lebih terbuka dan ketat berpakaian dariku. Kau tidak pernah berkeberatan, bukan." Floretta terus-menerus membantah dengan ketenangan dan senyuman.


"Kita tidak sedang membahas model perusahaan, melainkan kau," sanggah Jarvis.


Kursi Floretta digeser ke belakang oleh Jarvis lalu tangan Floretta mendadak digenggam lalu ditarik meninggalkan meja makan menuju kamar.


"Mama, tunggu aku di ruang kerja," ucap Jarvis sebelum benar-benar menghilang dari ruang makan.


Sementara itu, Stephanie yang ditinggal di ruang makan hingga saat ini berada di ruang kerja Jarvis masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tadi ia hanya melongo dan diam melihat percakapan antara Jarvis dan Floretta.


Pintu ruang kerja terbuka, Jarvis masuk dengan berkacak pinggang dan sebelah tangan berada di kepala menggenggam rambutnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Stephanie, ia berdiri lalu menghampiri Jarvis. "Mengapa Floretta tampak seperti orang asing. Cara berbicara dan bertindaknya menunjukkan seperti bukan Floretta."


"Sekarang di mana dia?" tanya Stephanie tidak sabaran.


"Pergi bersama Walden dan Rayya keliling komplek," jawab Jarvis lalu melempar tubuhnya ke arah sofa hingga kepalanya mendongak ke atas dan punggungnya menyender.


Hari masih pagi, tetapi Jarvis tampak seperti orang kelelahan dengan pekerjaan berat yang baru saja diselesaikan.


Stephanie turut duduk di sebelah Jarvis. "Katakan yang sebenarnya Jarvis, mama tidak sabar."


Jarvis menarik nafas panjang sembari menutup kedua matanya.


"Aku telah mengatakannya semalam. Floretta mengidap gangguan mental." Jarvis membuka matanya lalu menegakkan tubuhnya kembali.


"Dia berubah menjadi orang lain? Jenis gangguan seperti apa itu? Mengapa Flo bisa seperti itu, Jarvis?"


Stephanie mengguncang-guncang tubuh Jarvis.


"Mama, tenanglah... masalahku sudah berat, mama jangan menambah bebanku lagi," sesal Jarvis. Sebagai seorang suami dengan istri mengalami gangguan mental tentu saja bukan hal ringan bagi Jarvis.

__ADS_1


"Gangguan identitas kepribadian yang dialami Floretta itu terjadi dilatarbelakangi trauma, Ma. Baik trauma masa kecil atau keadaan berjalan. Mungkin ini akumulasi dari trauma saat Flo kecil kehilangan keluarga dalam kecelakaan," terang Jarvis dan Stephanie mendengar dengan seksama. "Sampai di pernikahan kami, Flo juga mengalami tekanan batin bertahun-tahun." Jarvis merasa menyesal dengan tindakannya dulu sampai berdampak buruk bagi mental Floretta.


"Kau memang tidak pantas untuk dimaafkan!" ucap Stephanie mengingat sembari skandal perselingkuhan Jarvis, Stephanie memukuli lengan Jarvis bertubi-tubi. Jarvis berusaha menghindar, ia beranjak dari sofa.


"Mama...."


"Kau... kau membuat istrimu menjadi gila, Jarvis. Sungguh keterlaluan!" hardik Stephanie dengan mata berkaca-kaca.


Jarvis menepuk keningnya, reaksi Stephanie sungguh berlebihan di mata Jarvis, seakan-akan Floretta adalah putri kandungnya.


"Floretta tidak gila, Ma. Menantu mama itu mengalami gangguan mental, bisa sembuh dengan perawatan oleh tenaga ahli kejiwaan," terang Jarvis. "Aku membutuhkan dukungan dari mama bukan amarah dan amukan, Ma," harap Jarvis.


Stephanie terdiam memikirkan keadaan menantu kesayangannya yang semakin menderita, seharusnya Floretta bisa meraup udara kebebasan usai pulih dari komanya. Penderitaan seperti betah menempel di kehidupan Floretta.


"Lalu perceraian kalian bagaimana?"


Jarvis berdecak kencang. "Ma, apa mama tega aku menceraikan Floretta dengan keadaannya saat ini. Floretta tidak memiliki siapa-siapa selain aku dan keluarga Meyer, Ma."


"Belum lagi, pertanggungjawaban seperti apa yang bisa aku tunjukkan pada Dael, Rosalie, dan Adam bila ibunya diceraikan saat mengidap gangguan mental? Mereka pasti akan membenciku seumur hidup," lanjut Jarvis sambil mengusap wajahnya lalu kembali duduk dekat Stephanie.


"Lalu, rencanamu bagaimana?"


"Aku akan berada di sampingnya, membawa Floretta pada psikiater untuk dipulihkan."


"Saat ini, setidaknya ada dua sosok berbeda yang menempati tubuh Floretta, nama mereka Dolly Gobber dan Edith Muriel. Sementara, kepribadian asli Floretta tidak terlalu aktif, bahkan aku belum pernah berbincang dengannya. Mungkin tertidur untuk menghalau kenangan buruk."


"Edith Muriel, perempuan berusia 25 tahun. Artinya, 5 tahun lebih muda dari Floretta. Edith senang berdandan dan menggunakan pakaian ketat atau terbuka. Dia suka bersikap centil untuk menggoda. Tipenya tenang. Sejauh ini aku masih mengamati Edith tidak berbahaya, Ma."


"Dolly Gobber?"


"Perempuan 35 tahun, dia kasar, pemarah, dan penuh misteri. Emosinya mudah meletup. Senang menggunakan pakaian tertutup dan lebar. Tidak menyukaiku. Dolly dan Edith memiliki karakter yang sangat bertolak belakang."


"Meski begitu, mereka berdua sangat senang menentangku, Edith dengan kelembutannya dan Dolly dengan kebringasannya."


Stephanie menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Sungguh mengerikan, kau seperti memiliki banyak istri, Jarvis. Mungkin ini akibat perbuatanmu di masa lalu."


"Aku mohon mama jangan menghakimiku terus-terusan," keluh Jarvis setelah panjang lebar menceritakan tentang Floretta. "Mama cukup membantu aku dan Floretta melewati ini semua."


"Bantuan seperti apa yang kau harapkan?" Stephanie sebenarnya enggan membantu putranya bila wajib mendukung Floretta tetap menjadi istri Jarvis.


"Aku ingin menitipkan lagi Adam dan pengasuhnya di rumah mama. Sosok Dolly tidak bisa dipercaya, aku khawatir ia akan mencelakakan Adam. Aku merasa Adam tidak aman di sini, banyak kejadian menunjukkan kalau Dolly berbahaya, Ma."


Stephanie meringis mendengar fakta tentang Dolly.


"Lalu, kau sendiri bagaimana? Kalau sosok Dolly membahayakan mengapa tidak menaruh Floretta di rumah sakit jiwa saja?"


Jarvis menggelengkan kepalanya. "Aku akan mendampingi pemulihan Floretta semampuku. Yang aku khawatirkan adalah Dolly mencelakai anak-anak dan... tubuh Floretta sendiri. Dia menganggap Floretta perempuan yang terlalu lemah."

__ADS_1


"Kalau terjadi apa-apa padaku nanti, anak-anak akan aman bersama keluarga Meyer. Ada mama dan Mandy."


Mendengar itu luluhlah hati Stephanie, air matanya turun tak terbendung. Jarvis menarik mamanya dan memeluknya.


"Mendengar pengakuanmu, mama menjadi takut, Jarvis."


Jarvis mengusap punggung Stephanie. "Semoga proses penyembuhan Floretta berpihak pada kita, Ma."


Di tempat lain, Floretta berlari mengelilingi komplek bersama Walden dan Rayya. Akhirnya, Floretta tadi harus mengganti pakaian dengan sedikit longgar atas permintaan Jarvis.


Di lokasi tempat mereka berlari bersama, ada jalan yang tingginya tidak sama, Floretta tersandung dan terjatuh mengalami cidera pergelangan kaki.


Floretta kesusahan untuk berjalan, bahkan pergelangannya terasa nyeri bukan main.


Walden dan Rayya sigap membantu Floretta.


"Sepertinya lututku terluka," ujar Floretta. Rayya menggulung perlahan celana panjang dari arah bawah, benar saja, lutut Floretta memerah dan mengeluarkan darah.


"Aku sudah lama tidak berlari," ucap Floretta meringis kesakitan.


Para pekerja di rumah Jarvis belum tahu dengan apa yang dialami oleh Floretta, meskipun melihat pertanda sikap yang janggal dari Floretta, mereka tidak berani menanyakan apapun.


"Saya akan ke rumah mengambil obat, Nyonya," tawar Rayya. Floretta mengangguk menyetujuinya. Floretta ditinggal berdua dengan Walden yang kebingungan harus memberi bantuan apa untuk Floretta.


"Tolong bantu aku berdiri, Walden." Dengan sigap Walden membantu Floretta.


Ia mengalungkan lengan Floretta di tengkuknya. Sewaktu Floretta dibantu berdiri, mereka oleng dan kembali terjatuh.


"Maafkan saya, Nyonya, kurang hati-hati." Floretta meringis sebab tubuh besar Walden sempat menghimpitnya walau sebentar.


"Tidak apa-apa," ucap Floretta.


"Kau bisa menggendongku? Sebaiknya kita pulang. Biar aku diobati di rumah saja."


Walden mengangguk, ia mengangkat tubuh Floretta di depan. Floretta agak canggung sebab wajah Walden begitu dekat dengannya.


Sementara itu, Walden fokus menatap jalan sambil membopong Floretta.


Usai berbincang dengan Stephanie, Jarvis bersiap akan berangkat menuju kantor. Stephanie telah pulang lebih dulu.


Kazem bersiap melajukan kendaraan, penampakan Walden menggendong Floretta membuat Kazem bersuara, "Tuan, sepertinya ada masalah dengan Nyonya."


Jarvis memberi fokus pada perkataan Kazem. "Maksudnya?"


"Nyonya di sana dibopong Walden," lapor Kazem.


Jarvis memberi perhatian pada arah pandang Kazem. Matanya membelalak melihat Floretta dengan Walden berjarak begitu dekat.

__ADS_1


Jarvis geram, langsung keluar mobil lalu berlari kecil menghampiri mereka.


__ADS_2