MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA

MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA
Ujian 2


__ADS_3

Perasaan apa ini?kenapa perasaan ini tidak pernah aku dapatkan ketika bersama Eki?. Mengapa wajah Satrio begitu menggoda.


Rara berusaha menyingkirkan pemikiran yang membuatnya menjadi semakin berdebar.


Satrio menatap wajah Rara dalam dalam. didalam bola matanya yang coklat hanya wajah Rara yang terlihat. hangat tangan Rara yang menyentuh tangannya membuat perasaan Satrio sudah tidak dapat terbendung lagi. Wajah Rara terlihat begitu menggoda,padahal dia sedang menangis. Satrio tidak kuasa melihat perempuan yang disukainya menangisi lelaki lain. Dia tidak terima semua ini,ingin rasanya dia membalas semua perbuatan Eki terhadapnya.


.


.


Tapi mengapa sorot mata Rara menyiratkan hal yang lain. seperti ada yang ingin disampaikan akan tetapi sulit dijelaskan.


Satrio masih berusaha untuk tidak berbuat hal yang dapat menyakiti hati Rara. tapi hasrat ini begitu besar,sehingga tanpa ia sadari wajahnya sudah mendekat dengan wajah Rara.


Rara tidak bergeming sedikitpun,seolah dia pun menyadari dan membiarkan semua ini terjadi. jantung ini berdebar dengan sangat kencang,Satrio sudah tidak bisa menahannya lagi. dan akhirnya bibir Satrio mendekati bibir Rara.


Hangat


.


,itulah yang dia rasakan saat ini. Ciuman ini begitu lembut dan hangat. semua beban yang berat terasa sirna.


.


Satrio menatap wajah Rara yang terus menatapnya dengan tatapan hangat. Seketika Satrio melepaskan ciumannya itu. Dia sadar jika mengambil kesempatan dalam kesempitan itu salah. Tapi mengapa Rara juga tidak mengelak dan hanya menatapku dengan wajah kecewa?


Apa dia marah karena aku menciumnya?


Apa dia marah ketika aku menghentikan ciumannya?


mengapa semua pertanyaan ini yang terlintas dipikiran Satrio.


.


.


"maaf ya,gak seharusnya kakak seperti ini" ucap Satrio menyesalinya.


Rara terdiam sejenak karena merasa kecewa. Entah perasaan apa yang Rara rasakan,entah kecewa karena Satrio tiba tiba menciumnya. atau kecewa karena Satrio menghentikan ciumannya.


"iya gak apa apa,aku yang salah kok" ucap Rara sambil menunduk mengingat apa yang tadi dia lakukan.


"itu semua kakak yang salah,harusnya kakak tidak mencium kamu barusan" ucap Satrio.


.


.


"kakak jangan seperti itu,aku tidak marah kok" ucap Rara sambil bergegas memakai tasnya dan keluar dari mobil Satrio.


Satrio hanya membiarkan Rara masuk ke rumahnya sendiri tanpa mengantarnya.dia merasa bersalah,dan merasa tidak punya muka didepan Rara.


Rara membuka pintu gerbang dan langsung pergi ke keran yang ada ditaman kecil halaman rumahnya.


Rara mencuci mukanya dan melihat mobil Satrio masih berada dihalaman depan rumahnya.


Rara kemudian menghampiri mobil Satrio sambil mengetuk jendela mobilnya Satrio.


.


.


Satrio terkejut,kemudian membuka jendela mobilnya


"eh Ra,kenapa?"tanya Satrio.


"kakak masuk yu,aku buatin minum untuk kakak" ucap Rara.


"waduh,ngerepotin kamu" ucap Satrio berusaha menolak.


"aku gak repot kok,"ucap Rara sambil menarik tangan Satrio.


.


.

__ADS_1


lalu Satrio keluar dan berjalan masuk kedalam rumah Rara. ibunya Rara keluar menghampiri Rara dan Satrio.


"eh nak Satrio antar Rara pulang,kenapa belum masuk,ayo masuk"ucap ibunya Rara.


"iya bu terima kasih" jawab Satrio.


lalu Satrio duduk disofa tamu,dan Rara membuatkan minum untuk Satrio.


.


.


"kak,ini minumnya"ucap Rara sambil memberikan secangkir minuman hangat.


"makasih ya Ra" ucap Satrio sambil meraih cangkir yang ada ditangan Rara.


tangan Rara dan Satrio saling bersentuhan,dan itu membuat suasana menjadi sangat canggung.


.


.


Rara kemudian duduk di kursi samping Satrio duduk.


Satrio menjadi sedikit pendiam tidak seperti biasanya. Rara heran apa yang terjadi dengan kak Satrio.


.


.


"loh kok jadi diem dieman gini?"ucap ibu Rara.


"maaf bu,saya sedikit kurang enak badan jadi kurang nyaman" ucap Satrio.


"oh pantesan,kamu sakit kepala atau bagaimana? ibu ada obat sedikit supaya nak Satrio mendingan" ucap ibu Rara.


.


.


Waduh,sebenarnya kan aku bukan sakit fisik,malah jadi seperti ini.apa yang harus aku lakukan? gumam Satrio didalam hatinya.


.


.


"eh,kebetulan ada kak Maximillian datang kesini Ra. coba panggil dia,sekarang kan Max lagi liburan ke kota A." ucap ibu Rara.


"apa bu,ada kak Max datang kesini. aku pengen ketemu,udah kangen banget.oh iya dia jadi bisa menolong kak Satrio" ucap Rara bergegas masuk kedalam rumahnya.


.


.


tak lama Rara datang sambil digendong dari belakang oleh seorang yang bertubuh tinggi dan berpenampilan seperti orang asing.


.


.


Apakah ini yang bernama Max?dia begitu dekat dengan Rara sampai sampai Rara digendong seperti itu. Apa hubungannya dengan Rara?gumam Satrio didalam hatinya.


.


.


"oh ini temanmu,coba kakak periksa" ucap Max.


"iya kak,katanya dia gak enak badan" ucap Rara sambil turun dari gendongan Max.


.


.


setelah diperiksa,

__ADS_1


"dia gak apa apa,cuma detak jantungnya lagi berdebar kencang aja. bukan sakit" ucap Max sambil memasukkan stetoskop kedalam tasnya.


"syukurlah kalau begitu,"ucap ibu Rara.


.


.


"kalau begitu saya pulang dulu ya bu,terima kasih semuanya." ucap Satrio pamit.


.


.


begitu banyak pertanyaan siapa Maximillian?lelaki tampan dan seorang dokter. dia begitu dekat dengan Rara dan wajahnya seperti orang asing. siapa dia? begitulah yang berada didalam pikiran Satrio.


.


.


Keesokan harinya Rara pergi bersama Max pergi jalan jalan mengelilingi kota A. Max dan Rara begitu dekat dan tidak ada batasan sedikitpun. semua orang mengira kalau mereka pasti ada hubungan.


Maximillian adalah dokter yang pernah tersesat di hutan kota A. dia sedang meneliti tentang tanaman obat langka untuk penyakit yang mematikan.


Ayahnya Rara kebetulan sedang melintas memasuki hutan dan membantu Max menemukan tanaman tersebut.


Maximillian sangat berterima kasih kepada ayahnya Rara. dan menjadi dekat sampai sekarang.


Maximillian sudah mengenal keluarga Rara sejak 5 tahun lalu. orangtua Maximillian asli orang luar negri.


dan Maximillian sangat menyukai Rara yang ceria dan menyenangkan. saat itu Rara baru berusia 12 tahun. jadi Rara menganggap Maximillian sebagai kakaknya dan Maximillian menganggap Rara sebagai adiknya.


.


.


Rara menceritakan kisah percintaannya terhadap Max,dan Max menjadi marah karena ada yang berani menyakiti adiknya ini.


.


.


"Ra,kamu mau membalas dendam kepada Eki tidak?" tanya Max.


" buat apa kak,aku kan sudah tau kalau pada akhirnya akan begini.kakak jangan cerita cerita ke ibu sama ayah ya. ini rahasia kita berdua."ucap Rara.


"eh Ra,kalau kamu ada apa-apa minta tolong kak Max aja ya"ucap Max sambil mengusap kepalanya Rara.


.


.


"kok kak Max masih belum menikah lagi sih?" tanya Rara.


"kan kakak masih sayang sama almarhum istri kakak,kakak masih belum ikhlas kalau istri kakak meninggal gara gara kakak" ucap Max sambil berbaring dikasur Rara.


"hmmmm itu bukan kesalahan kakak,kan kakakku meninggal karena penyakit yang dideritanya. apalagi kakak harus move on dan menjalani hidup kakak dengan baik.kakakku pasti menginginkan kakak bahagia" ucap Rara.


.


.


"kamu mau jadi dokter seperti kakak tidak?" tanya Max.


"hmmm sepertinya aku mau menjadi dokter seperti kakak. dan diajari oleh kakak" ucap Rara.


.


.


"kamu kalau suka,kakak akan bantu untuk kuliah diluar negri bersama dengan kakak" ucap Max.


"makasih ya kak,"ucap Rara sambil memeluk Max.


"kamu itu sudah seperti adikku sendiri.kakak sayang sama kamu Ra" ucap Max sambil mengusap kepalanya Rara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2