MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA

MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA
Sadarlah


__ADS_3

Rara menjadi panik dan terus menangis saat Satrio dibawa ke ruang gawat darurat.Dia ingin mengejar Satrio akan tetapi disini Mario juga belum bangun.


Rara terus mondar-mandir karena begitu khawatir dengan keadaan Satrio.Kemudian Rara menelepon Max.


"Kakak..hiks hiks..." tangis Rara.


"Kamu kenapa Ra?" ucap Max panik.


"Kak Satrio...Kak Satrio..Kak.." ucap Rara masih menangis.


"Iya Satrio kenapa?"Tanya Max semakin penasaran.


"Kak Satrio di tusuk Sani saat dia menolongku" ucap Rara.


"Kakak akan segera kesana" ucap Max bergegas mengambil jaketnya dan langsung mengemudi mobilnya.


Sesaat kemudian Max datang mencari keberadaan Rara.Max masuk ke kamar Mario dan langsung menghampiri Rara.


"Bagaimana dengan keadaan Satrio sekarang?"tanya Max.


"Aku tidak tau Kak,bagaimana ini..mengapa ini harus terjadi lagi.." ucap Rara sambil menangis sampai berjongkok.


Max meraih Rara dan memeluknya.Dia mencoba menenangkan hati Rara sebisanya.


"Rara,apakah kamu melihat Sani menusuknya bagian mana?" tanya Max.


"dia menusuk Satrio bagian dada kiri atas" ucap Rara sambil terus memeluk Max.


"Berdoa semoga jantungnya tidak terkena ya" ucap Max sambil menepuk bahu Rara.


"Iya Kak," ucap Rara.


Tak lama Mario bangun dari tidurnya,dia bingung mengapa ada lelaki lain sedang memeluk Rara yang sedang menangis.


"Rara...Rara.." ucap Mario.


"hiks,hiks...apa Bos" ucap Rara sambil beranjak dari duduknya.


"Rara...kesini" ucap Mario meminta Rara supaya Rara mendekatinya.


"Ada apa Bos hiks...hiks..." ucap Rara sambil menangis.


"Kamu menangis kenapa?" tanya Mario sambil menghapus airmata Rara.


"Kak Satrio ditusuk Sani Bos" ucap Rara berusaha menghentikan tangisannya.


"Sani benar-benar nekat ya dia sampai berani menusuk Satrio" ucap Mario lemah.


"Iya dia tak takut masuk penjara gitu?" ucap Rara.


"Sudah ya jangan nangis.Dokter pasti berjuang dengan maksimal" ucap Mario menyemangati Rara.


Dia melihat Max yang sedang berdiri memperhatikannya dengan mata yang seperti membencinya.


"Kakak akan memeriksa Satrio dulu ya" ucap Max sambil pergi meninggalkan Rara.


"Iya Kak Max" ucap Rara sambil menutup pintu kamar.


"Dia siapa Ra?" tanya Mario.


"Dia Max,Kakakku" ucap Rara.


"Tapi dia seperti orang Asing" tanya Mario.


"Iya,dia bukan kakak kandungku.Dia adalah suami mendiang kakakku" ucap Rara.

__ADS_1


"ya sudah" ucap Mario sambil mencoba untuk duduk dari tempat tidur.


"Bos pasti sudah lapar..Aku akan menyuapi Bos sekarang." ucap Rara sambil membuka makanan yang disediakan rumah sakit.


"Baiklah" ucap Mario sambil membuka mulutnya.


Rara menyuapi Mario sedikit demi sedikit.Mario sangat senang Rara tidak mengejar Satrio di ruangan lainnya dan masih menunggunya.


"Kamu kenapa tidak menunggu Satrio?" Tanya Mario.


"Bos belum bangun setelah tadi Sani berbuat jahat pada Bos.Aku takut Bos juga kenapa kenapa jadi aku memutuskan untuk disini saja" ucap Rara sambil mengambilkan air minum untuk Mario.


Mario meminta Rara mengganti pakaiannya karena sudah berlumuran darah.Rara kemudian melap sisa darah yang tertinggal kemudian mengganti pakaian Mario.


Mario kemudian ingin beristirahat kembali dan mengizinkan Rara untuk menengok keadaan Satrio. Rara dengan senang hati pergi dan bergegas menengok Satrio.


Max yang sedari tadi menunggu Satrio langsung berdiri ketika Rara datang menghampirinya.


"Akhirnya kamu datang juga" ucap Max sambil meraih bahu Rara.


"Bagaimana keadaan Kak Satrio" tanya Rara.


"Dia baik baik saja.untuknya pisau itu tidak sampai ke jantungnya dan nyaris saja nyawanya hilang.Sekarang kamu bisa tenang" ucap Max.


"Tapi kenapa dia belum sadar?"tanya Rara.


"Dia sedang dalam pengaruh obat bius.Nanti juga sadar" ucap Max mengajak Rara untuk duduk bersama.


"Kakak,ini semua salahku" ucap Rara sambil bersandar di dada Max.


"Iya,jika kamu bisa menjaga hatimu maka tidak akan terjadi seperti ini pada Satrio" ucap Max.


"Iya,kenapa aku harus selalu begini" ucap Rara.


"Jauhi Sani,jauhi siapapun yang berhubungan dengan dia.Kemarin kita baik-baik saja" ucap Max memberi nasihat.


"Sudahlah.Lebih penting lagi kamu sekarang kembalikan uang Mario sekarang dan kita pergi dari Negara Y." ucap Max.


"Tapi Kak,aku kasihan sama Mario.Dia tak dipedulikan Keluarganya" ucap Rara.


"Sudahlah,dia masih punya orangtua kenapa kamu begitu bersikeras mengurusnya?Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" ucap Max sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Bukan seperti itu Kak,tapi kenapa Kakak marah padaku" Tanya Rara heran mengapa Max sepertinya sangat marah padanya.


"Kakak tidak suka kamu menjadi plin plan.dia itu hanya masa lalumu.Masa lalu kamu yang terlalu menyakitkan,ingatlah itu" ucap Max masih dengan sedikit emosi.


"Kakak,bisakah Kakak tidak memarahiku" pinta Rara dengan suara pelan.


"Huuuh...tentu saja.Maafkan Kakak yang terlalu emosi." ucap Max sambil mencium kening Rara.


Perawat keluar dari tempat Satrio dirawat dan kini Rara masuk ke ruangan itu.


"Kakak,sadarlah cepat buka matamu." Ucap Rara sambil memegang tangan Satrio.


Satrio belum merespon apapun.Dia tidak bergerak sedikitpun.


"Kakak,cepatlah sadar..." ucap Rara sambil menangis dan mendekap erat jemari tangannya dengan wajahnya.


Rara diminta untuk tidak terlalu lama disana oleh perawat karena Satrio masih didalam pengawasan dokter.


Sedangkan Max masih menunggu Rara untuk kembali ke kamar Mario.


"Rara,tolong dengarkan nasihat Kakak tadi ya.Kakak seperti ini demi kebaikanmu" ucap Max.


***

__ADS_1


Rara kembali ke kamar Mario dengan wajah sedih.Mario melihat Rara yang sedih menjadi tidak tega.


"Kamu kenapa?Kan sudah menjenguk Satrio kenapa masih sedih?" tanya Mario.


"Sepertinya Aku telah mengacaukan semua.Bos,Aku akan berhenti saja dari sini.Aku tak mau kalau Bos nanti juga akan dicelakai Sani jika dekat denganku." ucap Rara sambil mengambil uang yang masih utuh didalam tasnya.


"Ini apa?" tanya Mario sambil memegang bungkusan amplop yang diterima dari Rara.


"Aku kembalikan saja uangmu.Maaf aku mau berhenti saja dari sini" ucap Rara.


"Kenapa kamu seperti ini?Aku hanya ingin kamu bekerja sama denganku." ucap Mario sambil mengembalikan lagi ke tangan Rara.


"Bos,aku tak mau melibatkan semua orang yang dekat dengan Sani.Aku akan pergi meninggalkan Negara ini.Jangan mencariku ya" ucap Rara sambil meninggalkan Mario dan amplop gajinya.


Mario tak ingin kehilangan Rara kemudian dia bangkit dari tempat tidur ,akan tetapi tubuhnya masih lemah dan akhirnya dia terjatuh.


Mendengar suara terjatuh,Rara langsung memeriksa keadaan Mario.Dan benar saja kekhawatirannya pun terwujud,Mario terjatuh dari tempat tidurnya.


"Bos,kamu kenapa turun?" ucap Rara membantunya untuk tidur kembali di tempat tidurnya.Selang infus-nya pun terlepas dan darah mengalir dengan banyaknya.Rara berteriak memanggil perawat yang langsung masuk.


Mario segera ditolong oleh perawat,dan kini perawat itu menjadi marah kepada Rara


"Miss,what are you doing?why did you leave this patient alone?this is very dangerous,if the wound is opens again he must be operated again(Nona,apa yang kamu lakukan?Mengapa kamu meninggalkan pasien ini sendirian?Ini sangat berbahaya,jika lukanya terbuka dia harus dioperasi lagi.) ucap perawat itu.


"I'm sorry.i will tak care of him (Maafkan saya.Saya akan menjaga dia)" ucap Rara.


"And one thing miss,if you have a lot of boyfriend. do not you bring him infront of the patient because it will shock him and will be affect of a performance of his brain" (Dan satu hal nona,jika kamu mempunyai banyak pacar jangan membawa dia didepan pasien itu akan membuatnya syok dan akan berpengaruh terhadap kinerja otaknya) ucap Perawat itu sambil meninggalkan Rara dan Mario.


Mario menjadi sakit kepala karena dalam sehari dia kehilangan cukup banyak darah.Rara kemudian mengganti pakaian Mario sambil mengucapkan beberapa kalimat.


"Bos,jangan mempersulit aku.Biarkan aku pergi Bos" ucap Rara sambil memakaikan pakaian untuk Mario.


"Kamu jangan tinggalkan aku" ucap Mario sambil memeluk Rara.


Rara terkejut karena Mario mendekapnya sangat erat. Dia meneteskan airmatanya karena tak mau kehilangan Rara.


"Bos jangan seperti ini,aku kan hanya pegawai rendahan Bos" ucap Rara sambil melepaskan pelukan Mario.


"Kamu bukan hanya sekedar bawahanku,kamu lebih dari itu" ucap Mario.


"Bos akan celaka jika dekat dengan aku" ucap Rara sambil beranjak pergi.


"Kalau kamu bersikeras,aku akan membuat Kak Max mu itu celaka" ucap Mario mengancam Rara.


"Kenapa Bos mengancamku?ternyata Bos sama saja dengan Sani Sama sama jahat" ucap Rara sambil membanting pintu dengan sangat keras.


Rara dicegah para perawat dan dokter untuk meninggalkan bangsal VVIP karena Mario menelepon supaya menahan Rara untuk tidak keluar dari rumah sakit.


Rara akhirnya masuk kembali ke kamar Mario dan memaki maki Mario kembali.


"Kamu juga mau bertindak sama dengan Sani akan menahanku disini?" tanya Rara dengan cukup emosi.


"Tak ada cara lain seperti ini" ucap Mario.


"Mau kamu apa sebenarnya?kamu bahkan tidak menyukaiku mengapa kamu menahanku disini?" tanya Rara masih emosi.


"Karena aku menyukaimu.Aku tak mau kamu berdekatan dengan Kak Max mantan Kakak iparmu" ucap Mario.


"Kenapa?Dia kan hanya Kakak iparku saja" ucap Rara.


"Dia bukan kakak iparmu lagi.Kakakmu sudah tiada dan dia itu orang lain bagimu.Tak bisakah kamu merasakan kalau Max itu menyukaimu?" tanya Mario dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


Apa??Mario bilang kalau Kak Max menyukaiku?Tidak mungkin,ini sungguh tidak mungkin.Tapi perasaannya memang selalu mengatakan seperti itu tapi Rara terus menyangkalnya.


"Kenapa diam" ucap Mario sambil meraih tangannya Rara.

__ADS_1


"Aku tak percaya Kak Max menyukaiku.Aku hanya berpikir dia menyayangiku sebagai adik saja" ucap Rara.


"Aku tau sorot matanya itu seperti orang mencintai.Dan dia menatapku dengan tatapan tidak suka.Jadi aku meyakini kalau Max itu menyukaimu"


__ADS_2