
Mengapa dalam sehari begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup Rara. Rara sangat syok karena Ayahnya turut meninggal selang beberapa jam setelah Ibunya meninggal.
Rara membatu dan tidak berdaya ketika dalam sehari saja dia harus memakamkan kedua orangtuanya. Rasanya ini sangat tidak adil baginya.Max terus berada disamping Rara.
Eki pun masih menemani Rara dan tak meninggalkannya sedetikpun. Eki tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Eki hanya bisa membantu mengurus penguburan ayah Rara.
Satrio yang mendengar dari Eki bahwa Ayahnya Rara turut meninggal juga membuat dirinya sangat syok. Betapa tidak cobaan yang menimpa Rara saat ini begitu dahsyat.
Rara terdiam seperti tidak berada didalam kenyataan. Terlalu berat bagi Rara mendapati kedua orangtuanya kini sudah tiada. Langit serasa runtuh dalam sekejap. Dunia yang dulu cerah tiba tiba gelap gulita.
Rara kini sendiri,tidak ada lagi sosok keluarga yang menemani dan hanya Max seorang.
"Ayahh...Ayaaaahhh...kenapa kalian berdua tega meninggalkan aku sendiri disini,kenapa aku harus sendiri disini?...Tuhan kenapa kamu tak ambil juga nyawaku.." ucap Rara dengan emosi yang cukup tinggi. Airmata Rara tak berhenti mengalir,kedua matanya pun sudah membengkak.
"Ra,kamu makan dulu ya" ucap Eki sambil mencoba menyuapi Rara.
"Bagaimana aku bisa makan saat kedua orangtuaku benar-benar tiada.Apa aku masih pantas untuk hidup?" ucap Rara dengan lirih.
"Bagaimanapun hidup masih terus berjalan,mengapa kamu sekarang menyerah begitu saja.Kemana Rara yang ku kenal dulu.Yang tak menyerah walau pernah aku tolak" ucap Eki sambil memegang kedua tangan Rara.
"Apa gunanya sekarang,aku hanya bisa membuat semua orang didekatku tiada. Apa aku layak hidup sekarang?" tanya Rara sambil menangis menatap Eki.
"Ra,lihat aku masih disini. Aku akan selalu menemani kamu,masih ada kak Max,mengapa kamu menyerah seperti itu?" ucap Eki sambil meneteskan airmatanya.
Terlihat tetesan airmata Eki membasahi pipinya.Rara menjadi tersadar walaupun tak ada seorang lelaki yang tulus mencintainya.Tapi masih ada Max dan Eki yang akan menjaganya.
"Kak Eki,kenapa kak Eki saat ini datang dan memberiku semangat.Padahal hati aku sudah mati buat kamu.Hati kamu itu hanya untuk Amanda,jangan buat aku berharap padamu lagi" ucap Rara sambil menangis tersedu sedu.
"Maaf,selama ini kakak selalu buat kamu sedih dan melukai hati kamu.Memang hati kakak sudah dimiliki Amanda.Tapi Kakak akan selalu mendukungmu sebagai kakak laki lakimu." ucap Eki.
Tak lama kemudian Satrio datang ke rumah Rara. Dengan suara nafas yang masih terengah engah Satrio kini berlari memeluk Rara.
"Rara sayang,maafkan kakak tidak berada didekatmu di masa tersulitmu saat ini" ucap Satrio sambil berurai airmata.
Satrio teringat saat saat bersama keluarga Rara.Orangtua yang selalu Satrio inginkan selama ini. Bagi Satrio kedua orangtua Rara adalah kedua orangtua aslinya. Satrio sangat menyukai orangtua Rara. Dan orangtua Rara sangat menyayangi Satrio layaknya anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Kakaaak..." ucap Rara sambil memeluk Satrio dengan erat.
"Rara sayang..kamu harus makan ya..jangan seperti ini" ucap Satrio sambil berusaha menyuapi Rara dengan makanan yang ada dipiring diatas meja.
"aku tidak lapar kak..bagaimana aku bisa makan kak" ucap Rara dengan nafas yang tersengal sengal.
"kamu harus kuat,kamu harus mengantar Ayahmu sampai di pembaringan terakhirnya.Ayo makan biar kamu bertenaga" ucap Satrio sambil berharap Rara memakan makanannya.
Max kemudian datang membujuk Rara untuk makan makanannya.Rara akhirnya makan makanan yang disuapi oleh Satrio. Rara sedikit tenang karena Satrio datang untuk menemaninya walau sekejap.
Eki yang dari semalam tidak pulang,dan akhirnya beristirahat sejenak di kamar Max.Dia diberi pinjam baju untuk ganti dan mandi.Rara pun diajak bersiap untuk pergi ke pemakaman Ayahnya.
Rara kini sudah menghapus airmata yang menetes. Yang tertinggal hanya nafasnya yang masih tersengal sengal karena menangis terlalu lama.
Langkahnya masih gontai,dia duduk disamping jenazah Ayahnya.Max yang berada disampingnya terus merangkul pundak Rara supaya tegar menghadapi semua.
Kini Rara harus mengikhlaskan keadaan.Rara mencoba melangkahkan kakinya dengan menarik nafas panjang.
Setapak demi setapak keharuan muncul,airmata yang sudah berhenti kini turun lagi.Satrio mencoba menguatkan hati Rara.Dia memegang tangannya dan merangkul pundaknya saat Max turun membantu menurunkan jenazah.
Kini tak ada lagi sosok Ayah dan Ibu yang selalu menyuruhnya belajar,menyuruhnya membantu pekerjaan rumah,tidak ada yang menyuruh membersihkan sepatu,tidak ada yang menyuruh membantu memasak.
Kembali rumah ini penuh dengan doa,doa yang sebenarnya tak ingin Rara bacakan lagi semenjak kepergian kakak Rara.Bagi Rara saat kematian kakaknya begitu menyakitkan,Rara tak kuasa menahan tangisan itu.
Dan saat ini terjadi secara beruntun,doa dipanjatkan untuk kedua Orangtuanya.Setiap penjuru rumahnya terdapat foto keluarganya.
Liburan ke pulau C saat itu adalah liburan terakhir bersama kedua Orangtuanya.Yang kini tersisa hanya dirinya dan Max.
Sedangkan dirinya dan Max bukanlah saudara kandung melainkan ipar.Ada sedikit keraguan jika hanya tinggal berdua dengan Max.Ketika ada Orangtuanya dia tidak ada jarak apapun dengan Max. Tapi saat ini Max menjadi orang lain baginya sekarang.
Satrio menemani Rara di ruang tamu keluarga.Rara terus menangis sambil memeluk foto keluarganya ketika kakak Rara dan Max menikah. Rasanya sangat bahagia saat itu.
Dalam tangisnya Rara sampai tak sadarkan diri.Satrio memanggil Max takut terjadi sesuatu pada Rara. Max kemudian bergegas memeriksa Rara. Ternyata Rara hanya kelelahan saja.Satrio kemudian menggendong Rara masuk kedalam kamarnya.
Satrio mengompres dahi Rara dan kedua matanya yang sudah membengkak tak karuan. Betapa sedihnya Satrio ketika melihat perempuan yang dicintainya begitu terluka saat ini.
__ADS_1
Max kemudian datang dan membawa peralatan dokternya.Dia memasangkan infus pada Rara supaya demamnya cepat turun.
Satrio terus menemani Rara sambil terus mengompres dahinya. Eki yang sudah tertidur di kamar Max sekarang bergantian mempersiapkan acara doa untuk malam ini.Max yang juga kelelahan langsung tertidur.
Satrio menelepon pesan antar makanan dan memesan beberapa makanan untuk Rara,Eki dan Max.
Eki dan Satrio bergantian mengurusi rumah Rara. Akhirnya mereka kembali akur ketika Rara berada didalam masa sulitnya. Setelah acara selesai,Eki dan Satrio mengobrol diluar.
"Hei kita jadi bener bener disini ya.hahahaha sudah lama kita gak akur seperti ini." ucap Satrio sambil menepuk pundak Eki.
"Iya,kita gak akur cuma gara gara cewek ya.Amanda" ucap Eki.
"Iya,lo tiba tiba marah sama gue gara gara Amanda. Sekarang kita akur gara gara Rara" ucap Satrio sambil memakan cemilan yang ada di meja.
"Kasihan ya,rumah ini menjadi sangat sepi sekarang" ucap Eki sambil menatap sekeliling rumah.
"lo tau gak,Ayah Ibunya Rara tuh baik banget.Beda banget sama keluarga gue" cerita Satrio.
"Lo udah deket banget ya sama mereka.Gue gak sempet kenal sama mereka,cuma gue kasian sama Rara aja dia harus kehilangan orangtuanya sekarang." ucap Eki sambil meminum kopi yang masih panas.
Satrio dan Eki masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.Max yang sedang tertidur pulas dan Rara juga masih tertidur.
"Ki,gue boleh minta tolong gak?" tanya Satrio.
"Tolong apa?"tanya Eki dengan wajah heran.
"Tolong Jaga Rara,anggap dia adik lo aja. Gue tau lo takut Amanda marah,makanya gue bilang anggap dia sebagai adik lo aja" ucap Satrio sambil mengepalkan tangannya.
"hmmm kenapa bukan lo aja" tanya Eki.
"Gue penyebab Rara jadi seperti ini.Gue gak mau Sani menyebabkan masalah lagi dikemudian hari" ucap Satrio.
"Sani itu berbahaya,apa dia tau kalau lo itu tunangan sama Amanda?" tanya Eki.
"Belum tau,yang gue takutin juga berarti sama kayak lo juga.Gue takut Sani ngancurin Amanda juga" ucap Satrio.
__ADS_1
"Lo jangan sampe buat Amanda terlibat sama kegilaan Sani" ucap Eki pada Satrio.
"Gue gak bisa jamin Ki" ucap Satrio sambil mengambil selimut dan tidur di sofa ruang tv.