
Rara sedikit melirik kearah Satrio yang kini sedang bersama Sani.Kekecewaan terpancar di mata Rara yang kini sudah berkaca kaca.
Mungkin dia dengan Satrio sudah tidak ada harapan lagi.
Lalu Eki sampai dengan motornya,Rara pun pergi bersama Eki.Pada awalnya Rara hanya duduk seperti penumpang ojek motor saja.Tapi perasaan sedih yang Rara rasakan membuatnya bersandar pada punggung Eki yang lebar.
Eki merasakan kalau Rara kini bersandar di punggungnya.
"Ra kalau kamu ingin menangis,menangis saja. Jangan kamu tahan,itu akan membuatmu menjadi sakit kepala." ucap Eki mencoba menenangkan Rara.
"aku...aku...kenapa rasanya sangat sakit ya"ucap Rara sambil melingkarkan tangannya di pinggang Eki.
deg..deg...deg...tiba tiba jantung Eki berdebar sangat kencang ketika Rara memeluk dirinya dari belakang.
Perasaan yang muncul tiba tiba,perasaan yang selama ini semenjak berpacaran hingga putus dengan Rara belum pernah ada.Perasaan yang muncul ketika dia bersama Amanda.Perasaan ini muncul lagi ketika dia bersama Rara sekarang.
Apakah aku benar-benar menyukai Rara sampai tubuhku memberikan respon seperti ini?
Eki mengusap tangan Rara dengan perlahan,entah mengapa nalurinya memerintahkan seperti itu.Rara semakin mempererat pelukannya dan menitikkan airmatanya tanpa terasa.
Mengapa perasaannya Rara sekarang menjadi lebih tenang.
"Ra,kamu harus tenang ya.coba sekarang kamu alihkan perasaan sedihmu dengan kegiatan yang menyenangkan." ucap Eki.
"apa itu kak?" tanya Rara.
"kita lomba lari,biasanya berhasil sih buat ngelepasin penat" ucap Eki sambil memberhentikan motornya di sebuah lapangan olahraga.
Eki mengajak Rara turun dari motor kemudian melemparkan tasnya ke pinggir lapangan. lalu mereka berdua lomba lari bersama.
Rara dan Eki saling pandang bersiap untuk melakukan lari. Eki dan Rara memulai lombanya,pada awalnya Eki dan Rara sama sama cepat,kemudian Eki melambatkan gerakan larinya. Eki menatap Rara yang terus berlari tanpa menghiraukan apapun. Eki tersenyum kecil karena berhasil membuat Rara sedikit melupakan rasa sakit hatinya pada Satrio.
Rara terus melangkahkan kakinya dengan ringan seolah tidak mempunyai beban apapun.
Akhirnya Rara berhasil memenangkan lomba yang sengaja dilakukan oleh Eki.
"horeee aku menang" ucap Rara mengacungkan tangannya sambil melompat lompat.
"iya bagus,kamu sudah menang.Sekarang gimana perasaan kamu?" tanya Eki.
"senang,hah...hah...hah...hah..." ucap Rara sambil terengah engah.
"ayo kita pulang,nanti ibumu marah pada kakak" ucap Eki sambil menarik tangan Rara menuju motor yang diparkirkan.
Rara mengikuti saja kemana Eki melangkah sambil membawa tas yang tadi ditinggalkan di bawah. Eki mengeluarkan tisu yang ada di tasnya lalu mengelap semua keringat yang ada di keningnya Rara.
Perbuatan Eki sangat manis membuat Rara menjadi kikuk.Rara mengambil tisu yang ada ditangan Eki kemudian mengelapnya sendiri.
"makasih ya kak untuk hari ini" ucap Rara sambil mengelap wajahnya.Eki hanya melemparkan senyuman manis pada Rara.
Lalu Rara dan Eki pulang kerumah masing masing.
Keesokan harinya,,,
__ADS_1
Rara pergi ke sekolah seperti biasa,menjalani kegiatan sekolah yang sebenarnya disukainya.Rara tiba tiba merasa sangat rindu pada sahabatnya Vita. Karena Vita tidak menusuknya dari depan seperti Sani.
Karena Sani dengan terang terangan menyakiti perasaannya.Tapi Rara berusaha bersikap biasa saja.Dia mengalihkan pikirannya dengan membaca banyak buku.
Sani yang penasaran dengan lelaki yang bersama Rara kemarin langsung mendekati Rara.
"Ra,yang kemarin antar lo pulang siapa?" tanya Sani dengan antusias.
"hah,siapa yang kamu maksud?" tanya Rara berpura pura tidak mengetahuinya.
"alah jangan pura pura" ucap Sani dengan ketusnya.
"apa?siapa sih?" Rara masih berpura pura.
"yasudah asal jangan Satrio aja yang lo deketin,gue gak masalah" ucap Sani sambil membanting buku yang ada di mejanya.
Teman sekelas Rara mengajak Rara untuk ikut hangout bersama mereka di akhir pekan ini. Mereka mengajaknya untuk bersenang senang tanpa memikirkan masalah pelajaran dan cinta yang menyebalkan.
Mereka pergi untuk berkumpul di tempat kalangan remaja berkumpul dan mencari gebetan.
"eh Ra,kamu lagi jomblo nih,mending ikutan kita ngegaet cowok ganteng,,," ucap teman Rara.
"ih,malu dong" ucap Rara sambil menolak denhan halus.
"ya elah,masih muda jangan malu malu ntar direbut sama kalangan pelakor zaman now gitu loh" ucap temannya Rara sambil menarik tangannya Rara.
Mereka mendekati kumpulan cowok dengan genitnya.bermaksud untuk mencari yang terpikat oleh pesona mereka.
Teman Rara yang berjumlah lima orang dan bersama Rara menjadi enam orang.Mereka menggoda para lelaki itu dengan berkata
Rara menepuk jidatnya karena kelakuan teman-temannya menggoda para lelaki itu.Rara menoleh kearah samping dan melihat ada seorang lelaki yang perawakannya tidak asing.
Dia Satrio yang sedang berkumpul dengan teman teman breakdance-nya.Satrio sedang mengajarkan anggota baru.Satrio masih sekeren dulu,tidak pernah berubah sedikitpun.Rara tersenyum kecil karena masih terkagum pada Satrio.
"eh Ra,kamu senyum sama siapa?"tanya Temannya Rara.
"aku gak senyum kok" ucap Rara mengelak.
"eh,tadi senyum juga.oh iya ini aku udah dapet kenalan nih.hayo kita kumpul sama mereka" ucap Temannya Rara sambil menarik Rara yang masih betah melirik Satrio.
"hai kenalan dong" ucap salah satu lelaki kenalan baru temannya Rara.
"hai,aku Rara"ucap Rara sambil terus menatap kearah Satrio.
"kenalin,aku Mario.kamu lagi lihat apa sih?" tanya Mario penasaran dengan apa yang dilihat Rara.
"ah bukan siapa siapa" ucap Rara sambil terus menatap Satrio.
"eh,daritadi kamu belum lihat wajah aku.heiii" ucap Mario melambaikan tangannya didepan wajah Rara. membuat Rara menjadi melihat wajah Mario.
"maaf ya aku gak sopan" ucap Rara sambil tersenyum merasa bersalah pada lawan bicaranya.
"gak apa apa,kamu masih sekolah?" tanya Mario.
__ADS_1
"masih kelas 12,bentar lagi keluar" ucap Rara.
"oh,bagus dong.kalau aku udah kuliah" ucap Mario.
"gak nanya" ucap Rara dengan pelan.
"hah apa?maaf tidak terdengar tadi kamu ngomong apa?" tanya Mario memastikan.
"enggak kok" ucap Rara dengan tersenyum.
"boleh minta nomor handphone kamu gak?" tanya Mario.
"buat apa?" tanya Rara tidak peduli.
"buat tagih biaya listrik dan air..." ucap Mario
"hah???" Rara heran.
"bercanda sis,,tenang aja nanti aku minta sama teman kamu aja" ucap Mario sambil tersenyum.
Rara kemudian berdiri meninggalkan Mario dan teman temannya.Rara pergi untuk mendekat kearah Satrio.
Satrio melihat Rara sedang berjalan kearahnya. Betapa senangnya Satrio melihat Rara ada disini. Satrio dengan wajah yang berbinar binar berjalan untuk menyapa Rara yang sedang berjalan kearahnya.
Ketika sudah hampir dekat dengan pertemuan mereka,Sani datang merusaknya.Sani memeluk Satrio dari belakang dan menahannya untuk berjalan mendekati Rara.
Saat itu Rara tersadar kalau Satrio kini bukan Satrio yang dia kenal dan bisa diandalkan.Dia bahkan tidak memperjuangkan hubungannya dengan Rara.
Sani melihat kearah Rara sambil tersenyum puas matanya seolah berkata "AKU MENANG" dan itu membuat Rara menjadi sangat sedih.
Dengan ide liciknya Sani malah memanggil Rara didepan teman teman Satrio.
Rara yang saat itu akan pergi terpaksa tersenyum kepada teman teman Satrio. Sani kemudian menarik Rara untuk bergabung bersama mereka. Sudah tentu maksud Sani hanya untuk menyakiti Rara dan Satrio.
Sani terus memamerkan kemesraan dengan Satrio.
Satrio hanya diam saja tidak bereaksi apa apa. Dan hal yang paling menyebalkan,Rara diminta untuk mengambil foto mesra mereka berdua.
Rara terkejut dan tak bisa menolak karena ancaman Sani yang masih membekas dipikirannya.Berkali kali Sani minta di foto oleh Rara. Hingga pada puncaknya Rara harus berfoto bersama mereka berdua.
Sani yang tanpa malu malu mencium pipi Satrio dan Rara harus menatap itu semua.Akan tetapi jemari Satrio menahan Rara untuk melihatnya.
Masih teringat jelas hangatnya jemari Satrio dipikiran Rara.Lebih sulit melupakan Satrio dibandingkan dengan Eki.
Dan mungkin dewi fortuna masih kasihan pada Rara,Eki datang dan menyelamatkan Rara dari rasa sakit hati.Eki membawa Rara pergi dari tempat itu kemudian mengendarai motornya.
Eki menarik tangannya Rara dan terus berusaha menguatkannya.Kedua bola mata Rara sudah berkaca kaca,rasanya tak mungkin juga jika kita tak mengeluarkan airmata ketika berada di posisi seperti Rara.
Eki memegang wajah Rara dan mengusap air mata yang sudah saling dorong untuk keluar.
"jangan rusak wajah kamu dengan airmata untuk orang yang menyakiti kamu" ucap Eki dengan nada sedih.
"kak,apakah aku bisa bertahan di kota ini jika harus melihat mereka berdua?"tanya Rara.
__ADS_1
"aku bingung,kenapa kamu harus takut menghadapi mereka berdua.kan ada aku dan kak Max yang selalu mendukungmu" ucap Eki menguatkan Rara.