MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA

MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA
Bangunlah


__ADS_3

Rara meminta Satrio untuk pulang,karena dia ingin menjaga Mario dengan hening.


Rara terus memperhatikan Mario yang masih tertidur,ini sudah terlalu lama pikir Rara.Rara memanggil perawat untuk datang memeriksa Mario.


Setelah diperiksa ternyata memang masih dalam pengaruh obat tidur.Rara menjadi sedikit lebih tenang.Rara sangat mengantuk,dia akhirnya tertidur di kursi dekat tempat tidur Mario.


Rara terus memegang tangannya sambil tertidur.Perawat datang untuk mengecek pun dia tetap tertidur sambil memegang tangan Mario.


Dan akhirnya Mario terbangun,dan merasakan tangannya ada yang menggenggamnya.Siapa yang memegang tanganku,oh pasti dia.Pikir Mario.


Mario sengaja tidak membangunkan Rara karena mungkin Rara sudah terlalu lelah menjaganya. Rara kemudian terbangun karena Mario sedang mengusap rambutnya Rara.


"Eh Bos,sudah bangun" ucap Rara sambil mengucek kedua matanya.


"Sudah,gimana enak tidurnya?" tanya Mario perlahan.


"Enak bos,pinggang jadi sakit.Tapi Bos sudah bangun saja sudah buat aku bahagia." ucap Rara sambil menggerakkan badannya yang kaku.


"Ra,kamu ganti bajuku ya,soalnya ini sudah tidak enak dipakai." ucap Mario.


"Oh baiklah,tapi aku mau tanya perawat dulu ya" ucap Rara.


"Iya" ucap Mario.


Lalu Rara keluar menghampiri perawat dan bertanya


"excuse me,may i change clothes Mario?" (permisi bolehkah saya mengganti pakaiannya Mario) tanya Rara.


"of course you can(tentu saja kamu bisa)" ucap Perawat sambil menunjukkan cara mengganti pakaiannya Mario.


Setelah selesai bertanya,Rara masuk kembali ke kamar Mario kemudian dia memulai untuk mengganti baju Mario.Sebelum di ganti Rara mengelap badan nya Mario dengan handuk hangat.


Lembut dan hangatnya tangan Rara membuat Mario sangat nyaman.Rara mengurus Mario seperti sedang mengurus anak kecil.Mario diberi perhatian yang sangat besar oleh Rara.


Mario senang karena tak sia-sia dia menyewa Rara dengan sangat mahal.Mario sedang berpikir mengapa Sani seperti membenci Rara.Padahal Rara begitu baik padanya.


"Rara,bisakah kamu panggilkan Sani kesini" pinta Mario.


"Kenapa harus aku" tanya Rara ingin menolaknya.


"Lalu apa harus aku gitu?" tanya balik Mario.


"Baiklah.." ucap Rara sambil bermalas malasan.


Aku akan menanyakan langsung pada Sani alasan dia membenci Rara.


Tak lama kemudian Sani datang menghampiri Mario.


"Ada apa sih,Kakak memanggil gue kesini" ucap Sani marah-marah.


"Rara dan teman lelakimu pergi keluar dulu sebentar" ucap Mario meminta Rara untuk keluar.


Setelah Rara dan Satrio keluar,Sani dan Mario mulai berbicara.


"Kenapa Kakak panggil gue?" tanya Sani dengan wajah kesal.


"Kenapa kamu membenci Rara?" tanya Mario dengan tenang.


"Buat apa Kakak tau,ntar lo syok" ucap Sani dengan santai.


"Apa?cepat bilang" ucap Mario.

__ADS_1


"hmmm...dia itu pacarnya Satrio.Memangnya dia gak cerita sama lo?" tanya Sani heran.


"Terus kenapa Satrio bisa sama kamu?" tanya Mario semakin penasaran.


"Aduh Kakak,gue gak mau ya apa yang gue suka dimiliki sama orang laen.Meskipun kemaren dia udah tolongin gue waktu hanyut di sungai.Dan hebatnya Papi dan Mami kita tercinta memasukkan dia ke penjara.Padahal dia gak salah,harusnya kita berterima kasih sama dia.Hahahahaha dasar orangtua kita jahat" ucap Sani tertawa puas.


"Benar-benar keterlaluan.Orangtuanya meninggal gara gara hal itu" ucap Mario.


"Suruh siapa Satrio menyayangi dia" ucap Sani dengan santainya.


"Aduh Kakak ini bagaimana,Kakak bukannya calon suaminya dia.Anggap saja dia dapat kompensasi dari Orangtuanya yang meninggal.Kan bonus besar tuh dapet Kakak dari Pemilik Geng Paling berpengaruh di Negeri Kita." ucap Sani.


"Kamu jangan terlalu jahat seperti itu" ucap Mario.


"Aduh,Kakak tidak berguna.Masa jadi jahat saja tidak bisa" ucap Sani sambil memeras infus yang masih menempel di tangan Mario.


"Aaaarrggghh...Kenapa Kamu ini" ucap Mario kesakitan.


"Gue akan biarkan Rara sama lo jadi dia gak akan sama Satrio." ucap Sani sambil pergi meninggalkan Mario yang masih kesakitan.


***


Di tempat lain...


Saat Mario meminta Rara untuk keluar bersama Satrio,membuat kesempatan baru kepada Rara san Satrio.


"Cantikku,sekarang kita keluar yuk membeli kopi" ucap Satrio mengajak Rara.


"Mau kemana Kak?"ucap Rara.


"Hmm ada coffee shop di seberang rumah sakit.Kita kesana saja" ucap Satrio sambil memegang tangan Rara.


Ingin rasanya dia tak kembali dan pergi selamanya bersama Satrio.Rara kini menikmati waktu bersama ini dengan sebaiknya.Rara terus menatap wajah Satrio dengan senyuman lebar.Satrio pun menatap wajah Rara dengan penuh cinta.


Setelah masuk coffee shop,Satrio memesankan minuman dan langsung membawanya ke tempat Rara duduk.


Setelah sekian lama,Rara dan Satrio kini dengan nyamannya bisa saling berpandangan.


"Saat ini seperti didalam mimpi" ucap Satrio.


"Iya,kapan lagi Sani tidak marah ketika kita pergi bersama" ucap Rara.


"Cantikku...Cantikku..." ucap Satrio menatap Rara penuh suka cita dan penuh cinta.


"Apa?"ucap Rara dengan manja.


"Apakah kamu benar benar calon istri Mario?" tanya Satrio dengan sedikit hati hati.


"Bukan,Mario hanya ingin membuat Sani tidak menggangguku" ucap Rara.


"Sudah kuduga,aku sangat bahagia karena keraguanku hilang sekarang" ucap Satrio sambil memeluk Rara dengan sangat erat.


Tiba tiba telepon Rara berbunyi,pada saat Rara melihat ternyata dari Max.


"Halo Kak Max ada apa?" tanya Rara.


"Kamu ada dimana?Kakak akan membawakan coklat panas untuk kamu" ucap Max sambil memarkirkan mobilnya didepan coffee shop didepan rumah sakit.


"aku sedang di coffee shop."ucap Rara santai.


Tapi Max melihat Rara sedang berpelukan mesra dengan seorang lelaki.Perasaannya menjadi sedih dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Max memundurkan mobilnya dan meninggalkan tempat Rara dan Satrio berada.Teleponnya dimatikan dan Max melajukan mobilnya dengan cepat.


Hatinya begitu terluka karena dengan mudahnya Rara dekat kembali dengan Satrio.Max sedikit kecewa dengan yang dilakukan Rara.Rara masih saja belum menyadari kasih sayang yang Max berikan bukan hanya sekedar kasih sayang Kakak kepada adik tapi lebih dari itu.


Sekian lama Max selalu memendam perasaan ini kepada Rara.Tapi perasaannya semakin tak terbendung saat Rara bersamanya selama setahun ini.Max sudah tak bisa menahan dirinya meskipun selalu diliputi rasa bersalah kepada kakaknya Rara.


Apakah perasaanku ini salah?Apakah perasaanku ini terlarang?Aku benar-benar mencintainya...sejak dulu tidak pernah berubah. Teriak Max didalam mobilnya dengan kesal.Airmatanya perlahan menetes karena setiap mengingat rasa yang dia punya untuk Rara.


***


Satrio mengajak Rara masuk kembali ke rumah sakit dan pergi ke ruangan Mario.Pada saat keluar angin berhembus dengan sangat kencang.Hawa dingin terasa menusuk seluruh tubuh hingga ke tulang. Satrio melepaskan jaketnya kemudian memakaikannya kepada Rara.


"Kakak..." ucap Rara sambil menoleh kearah Satrio yang tersenyum manis kepadanya.


"Sudah ayo cepat kita masuk kedalam" ucap Satrio menahan dingin.


Mereka masuk rumah sakit,rasanya tak ingin selesai begitu saja waktu berharga ini.Akan tetapi Rara dan Satrio tidak ingin membuat Sani marah.


Rara mengembalikan jaket Satrio kemudian berpamitan kepada Satrio untuk masuk kedalam kamar Mario.


Rara melihat Mario sedang kesakitan dan tangannya mengeluarkan banyak darah.Rara panik dan segera berlari mengejar perawat.


Mario segera ditangani oleh perawat dan kembali tenang.


"Maafkan aku Bos,seharusnya aku tidak meninggalkan Bos." ucap Rara khawatir.


"Sudahlah" ucap Mario sambil tertidur.


Rara menjadi teringat kenapa Kak Max tidak jadi membelikan coklat panas untuknya.Rara kemudian menelepon kembali Max.


"Halo Kak,mengapa tidak jadi membelikanku coklat panas" ucap Rara dengan santainya.


"Kakak sedang sibuk ya.Nanti Kakak hubungi lagi" ucap Max menutup teleponnya.


Max masih marah dengan melihat kejadian tadi.Dia masih belum siap bertemu dengan Rara jika dalam keadaan marah.


Rara bingung mengapa sikap Max berubah.biasanya dia tidak pernah menolak atau menutup teleponnya begitu saja.


Rara masih membayangkan betapa bahagianya dirinya tadi saat bergandengan tangan dengan Satrio.


Apakah ini mimpi?Aku tidak ingin bangun.


Sani datang kembali ke kamar Mario kemudian menjambak rambut Rara dengan kerasnya.


"Hei,enak banget ya lo berduaan sama pacar gue.Gue akan bilang ke Papi dan Mami gue biar lo secepatnya menikah dengan kakak gue.Dan gue bisa bersama Satrio" ucap Sani dengan kejamnya.


"Sani sakit,lepasin tangan kamu" ucap Rara.


Satrio langsung menolong Rara dan melepaskan tangan Sani yang menarik rambut Rara.


"Sani,gak cukup kamu melukai Rara sekarang mengancam Rara seperti ini" ucap Satrio dengan emosi tinggi.


"Berani ya lo ngelawan gue.Mau gue habisin Rara didepan mata lo" ucap Sani balik marah dengan mata melotot.


"Sani kalau kamu mengancam aku terus, aku akan meninggalkan kamu"ucap Satrio sambil melindungi Rara dengan tubuhnya.


"Baiklah kalau begitu,biar kalian mati saja berdua disana" ucap Sani sambil mengeluarkan pisau buah yang ada di tangannya dan menancapkannya ke perut Rara akan tetapi Satrio menghalanginya dan kemudian Satrio tertancap pisau buah itu tepat di dadanya.


Rara berteriak histeris sehingga membuat para perawat dan dokter datang.Satrio yang langsung tak sadarkan diri karena mengeluarkan banyak darah.


Rara menangis histeris ketika Satrio tidak bangun bangun.Dia takut Satrio meninggal dunia seperti orangtuanya dulu.

__ADS_1


__ADS_2