MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA

MANTAN ADALAH JODOH YANG TERTUNDA
Khawatir


__ADS_3

Perasaan Rara kini bercampur aduk antara sedih dan bingung harus bagaimana.Rara menghubungi Max untuk menenangkan perasaannya.


"Halo kak Max,bisakah Kakak menemaniku disini" pinta Rara.


"Kamu kenapa?" tanya Max.


"Aku butuh Kakak sekarang" ucap Rara.


"Baiklah Kakak akan segera kesana" ucap Max menutup teleponnya dan bergegas ke tempat Rara.


Tak lama kemudian,Max datang lalu segera menemui Rara.


"Kamu kenapa?" Tanya Max dengan wajah khawatir.


"Kakak,"Ucap Rara langsung memeluk Rara.


"Ada apa?kamu kenapa" ucap Max sambil menepuk punggungnya Rara.


Rara menangis,dia seperti sangat sedih..


"Kamu kenapa? kok sampai nangis begini" ucap Max semakin khawatir.


"Bos aku masuk ICU dia tak sadarkan diri.Padahal dia mau dioperasi besok." ucap Rara.


"Kenapa kamu begitu khawatir,aku kira kamu bertemu dengan Sani" ucap Max.


"Aku tidak bertemu dengannya,tapi kasihan Bos" ucap Rara.


"Sudahlah nanti juga membaik,kamu yang tenang.Kakak akan menemanimu" ucap Max menghibur Rara.


"Kakak,aku jadi teringat Ayah dan Ibu.Bagaimana ini" ucap Rara sambil bersandar dipelukan Max.


"Ayah dan Ibu sudah tenang berkumpul dengan Kakakmu di surga.Mereka akan senang jika kamu hidup baik disini" ucap Max sambil merangkul Rara.


Dokter yang memeriksa Mario keluar dari ruang ICU


"Nona,sekarang keadaan Mario sudah stabil nanti malam dia dioperasi karena sudah sangat berbahaya jika terlalu lama." ucap Dokter tersebut.


"Baiklah dokter" ucap Rara sambil pergi di ruang tunggu pasien.


"Kakak akan membeli makanan,kamu pasti belum makan" ucap Max.


"Iya Kak," uca Rara sambil tersenyum manis.


"Kakak akan belikan,kamu tunggu disini ya" ucap Max sambil pergi meninggalkan Rara.


Tak lama kemudian,Max datang dengan membawa makanan kesukaan Rara.Max membuka makanan tersebut dan memberikannya kepada Rara.


Max menyuapi Rara dengan makanan ditangannya. Rara akhirnya merasa bingung juga kepada dirinya sendiri,mengapa dirinya begitu khawatir kepada Mario.


Rara sangat senang disuapi oleh Max,rasanya seperti ada yang memperhatikannya lagi.


"Kakak,aku merindukan Kakak loh,sehari tidak bertemu rasanya sangat rindu" ucap Rara sambil mengunyah makanan.


"Hmmm,Kakak juga merindukan kamu Ra." ucap Max sambil mengusap kepalanya Rara.


"Kakak,sayang sama aku tidak?" tanya Rara.


"Sayang lah,kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Max.


"Aku cuma gak mau Kakak menjadi tidak sayang lagi sama aku." ucap Rara sambil menunduk seperti menahan tangis.


Max langsung memeluk Rara dan menenangkan perasaannya.


"Hmmm,Kakak sayang sama kamu dan tak akan membuat kamu menangis" ucap Max.


"Terima kasih ya Kak" ucap Rara.


Rara sambil meneruskan makannya.Rara meminum minuman yang Max belikan.

__ADS_1


"Kakak kok tau aku paling suka sama coklat panas" ucap Rara bahagia karena dapat minum minuman kesukaannya.


"Kakak sudah mengenalmu dari kamu masih kecil,masa tidak hafal juga" ucap Max mengacak rambut Rara.


"Hehehehe,,iya benar juga.Kakak sudah lama mengenalku" ucap Rara tertawa kecil.


"Nah gitu senyum,kan cantik" ucap Max sambil membuang bekas makanannya.


Dua belas jam Rara dan Max menunggu hingga tertidur di bangku rumah sakit.Akhirnya operasi Mario selesai dan berjalan sukses.Rara melihat Satrio sudah berada diruang ICU dengan begitu banyak selang di tubuhnya.


Rara mencemaskan Mario,entah mengapa dia menjadi selalu ingat kepada Orangtuanya jika melihat Mario.Max yang kemudian pulang karena harus istirahat karena akan praktek meninggalkan Rara sendiri si ruang tunggu ICU.


Setiap menitnya Rara selalu melihat keadaan Mario di televisi yang memantau keadaan pasien.Sesekali Rara pergi ke kamar mandi.Sesekali dia juga bertanya kapan Mario akan tersadar.


Setelah menunggu sekitar 4 jam,akhirnya Mario terbangun walau keadaannya sangat lemah.Dokter segera memeriksanya.Wajah sang dokter berseri seri seolah keadaannya baik.


Setelah itu datanglah perawat memperbolehkan Rara untuk pergi menemui Mario.


"Hai Bos,bagaimana keadaanmu" ucap Rara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa kamu menangis" ucap Mario dengan perlahan.


"Bos pingsan dan tidak bangun-bangun,itu membuat aku sangat khawatir.Apa Bos sekarang lebih baik" tanya Rara.


"Aku baik -baik saja.Kamu jangan menangis atau aku menangis juga" ucap Mario pelan.


"semangat ya Bos.Bos harus kuat dan sehat biar bisa menggaji aku" ucap Rara memberi semangat.


"Dasar mata duitan,tunggu aku pasti cepat sembuh" ucap Mario sambil tersenyum.


Rara memegang tangan Mario supaya Mario lebih semangat untuk cepat sembuh.Dan Itu membuat perasaan Mario sangat bahagia.


Karena belum pernah sebelumnya ada seseorang yang begitu tulus menjaganya dan memberi semangat padanya.Meskipun orang itu dibayar oleh Mario,tapi tidak pernah mendapatkan ketulusan seperti yang Rara berikan kepadanya.


"Kamu baik padaku hanya karena uangku atau apa?" tanya Mario.


"Aku kan kerja sama Bos,jadi Aku ingin berbuat yang terbaik buat bos" ucap Rara sambil mengusap tangan Mario yang sedang di infus.


"Aduh Bos salah paham,aku baik sama Bos bukan karena aku suka Bos.Tapi aku menjadi teringat Orangtuaku yang sudah meninggal" ucap Rara membela diri.


"Hmmm terserah" ucap Mario sambil menutup matanya.


"Bos,aku mau mandi dulu ya" ucap Rara.


"Hmmm" jawab Mario.


Rara kemudian keluar dari ruang ICU dan pergi ke ruangan VVIP untuk berganti pakaian.Saat Rara masuk ke ruangan ternyata ada Satrio yang sudah menunggunya di sofa.


"Kak Iyo,kenapa kamu disini?" tanya Rara terkejut.


"Kamu tidak apa-apa kan?kamu menunggu Mario seharian di ruang tunggu.Aku sudah bawakan tiramisu kesukaan kamu" ucap Satrio mengajak Rara untuk duduk disampingnya.


"Kakak,kenapa repot repot.Kak Max sudah membawakan makanan buatku.Kakak bagaimana kabarnya?" tanya Rara sambil duduk disebelah Satrio.


"Aku depresi berat,setiap hari Sani seperti mimpi buruk" ucap Satrio.


"Kakak,kenapa kakak tidak berani meninggalkan Sani?kan Kakak sudah dapat berdiri sendiri tanpa bantuannya.Lagipula Kakak kan sudah dijodohkan dengan Kak Amanda" ucap Rara dengan nada kecewa.


"Masalahku menjadi semakin rumit Ra sekarang. Kakak baru saja mendengar kalau Ayah dan Ibu kakak akan berpisah.Karena Ayah Kakak menikah lagi dengan perempuan seumur kamu" ucap Satrio.


"Ya ampun,Kakak yang sabar ya.Kak Eki juga sedang ada di Negara Y.Dia ikut program pertukaran pelajar" ucap Rara.


"Sepertinya kita semua berjodoh di Negara Y,karena tiba-tiba saja kita bisa satu rumah sakit.Jangan jangan nanti Eki juga praktek disini juga" ucap Satrio sambil menyuapi Rara kue kesukaannya itu.


Rara pergi ke kamar mandi untuk mandi.Sedangkan Satrio masih menunggu Rara mandi.Setelah selesai mandi,Rara bergegas untuk pergi keruang ICU.


"kamu mau kemana?" tanya Satrio.


"Aku mau menemani Bosku" ucap Rara sambil mengambil beberapa barang.

__ADS_1


"Ya sudah aku temani" ucap Satrio.


"Nanti Sani marah,tak apa" ucap Rara sambil tersenyum manis.


"Kamu jangan terlalu dekat dengan bos mu itu.Bagaimanapun juga dia masih Kakak Sani orang yang membuat kita sengsara" ucap Satrio sambil memeluk Rara.


"Iya Kak Iyo...Oh iya ada yang aku mau sampaikan" ucap Rara sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Satrio.


"Apa?" tanya Satrio sedikit berdebar.


"Aku masih sayang sama Kamu" bisik Rara.


Lalu Rara melepaskan pelukannya dan pergi menemui bosnya itu.Satrio sempat terkejut dan langsung menyungingkan senyuman karena dia sangat bahagia.Rara masih menyayanginya,walaupun sudah satu tahun berlalu.


Di ruang ICU,Rara diberitahu kalau Mario akan dipindahkan ke ruangannya dua jam lagi.Rara sangat senang karena dia tidak harus menunggu di ruangan yang sangat dingin itu.


Rara mempersiapkan semua kebutuhan Mario.Tak lama Mario datang dengan masih tertancap beberapa selang di tubuhnya.


Setelah perawat selesai memindahkan Mario,didalam kamar menjadi sangat sepi.Mario masih tertidur dengan pulas.Wajahnya begitu damai,Rara terus berasa disamping Mario sambil memegang tangan Mario.


Rara bingung kepada dirinya sendiri,mengapa dia begitu memperhatikan Mario padahal dia adalah Bosnya dan terlebih lagi dia kakak kandung Sani. Tapi hatinya tidak bisa menjadi jahat karena dia membenci Sani.Mario memperlakukannya dengan baik dan menggajinya dengan cukup besar.


Max kemudian mengirim pesan singkat kepada Rara


"Ra,kamu sudah makan belum?" tanya Max.


"Belum Kak,Bos ku baru saja dipindahkan ke kamar." ucap Rara.


"Kakak akan mengantarkan makanan untukmu ya" ucap Max.


"Baiklah Kak,terima kasih ya" ucap Rara.


Tak lama Max datang menemuinya dan membawakan banyak makanan.


"Kak Max,ayo duduk disini" ucap Rara sambil menarik tangan Max untuk duduk di sofa.


Max mengikuti saja apa maunya Rara dan duduk disampingnya.


Max membelikan makanan kesukaannya Rara dan makan bersama.Mereka makan bersama dengan sedikit tenang karena takut akan membangunkan Mario.Max mengajarkan Rara supaya bisa mengurus Mario dengan baik pasca operasi.


Rara mengikuti semua petunjuk yang Max berikan. Max sebenarny sedikit khawatir kalau Rara nantinya bisa jatuh cinta kepada Bos nya.Karena bosnya juga baik dan berwajah rupawan pula.Max sedikit cemburu ketika Rara terlalu perhatian kepada Bosnya itu.


"Ra,kamu jangan terlalu perhatian dengan Bos mu itu. Itu bisa membuatnya salah paham" ucap Max mengingatkan.


"Kenapa Kak?" tanya Rara tidak mengerti.


"Karena bagi seorang pria,perhatian seorang wanita itu sangat berarti.Dan menandakan kalau wanita itu memiliki perasaan khusus padanya" ucap Max menjelaskan.


"Sepertinya aku harus mendengarkan Kakak,baiklah aku tidak akan terlalu perhatian" ucap Rara sambil tersenyum manis kepada Max.


Max lalu pulang dan meninggalkan Rara bersama Bosnya.


***


Tak lama Satrio datang menemui Rara.Dia tiba tiba masuk dan langsung memeluk Rara dari belakang.Tentu saja Rara sangat terkejut karena tadi tidak ada siapa siapa.


"Kamu tau gak,Kakak sangat merindukanmu" ucap Mario sambil memeluk dengan erat.


Hmmm saat saat seperti ini adalah yang sangat dirindukan oleh Rara.Saat Satrio memeluknya dari belakang dan mengutarakan perasaannya. Karena Satrio selalu memberikan kejutan manis padanya. Padahal masa pacarannya waktu dulu hanya berlangsung dengan singkat.


Hanya enam bulan Rara merasakan manisnya berpacaran dengan Satrio setelah itu kesedihan selalu membayangi hidupnya.


Andaikan saja Sani tidak hadir,mungkin dia masih mempunyai orangtua.Rara kemudian melepaskan pelukan Satrio dan langsung berkata pada Satrio.


"Kak Iyo,aku tak bisa seperti ini" ucap Rara.


"Kenapa?lebih baik kita pergi dari Negara Y,kita kabur saja" ucap Satrio.


"Aku harus selesaikan urusanku dengan Sani agar aku bisa hidup dengan tenang.Kakak cepat kembali kesana" ucap Rara sambil mencium pipi Satrio.

__ADS_1


Satrio teramat senang ketika Rara mencium pipinya. Mungkin dia masih bisa berharap Rara akan bisa bersatu kembali.


__ADS_2