Mantan Pacar

Mantan Pacar
Luka itu memang sakit


__ADS_3

Setelah malam itu aku memberikan jarak yang besar kepada Januari, bahkan aku pergi pagi-pagi lalu pulang cepat bahkan ketika rapat atau makan siang pun aku menghindarinya, jujur hatiku belum siap untuk memaafkan atau berdamai dengan masalalu.


“Mbak udah mau pulang?” aku melirik kearah Atika yang seperti aneh melihatku.


“Iya,lagian kerjaan juga udah selesai,!” ucapku sambil merapihkan beberapa berkas.


“Maaf yah mbak jujur aku ngerasa aneh sama mbak, selama seminggu ini Mbak berangkat pagi-pagi dan pulangpun selalu duluan? Mbak ngak papakan? Atau mbak ada masalah gitu? Cerita ajah mbak!”


“Mbak ngak kenapa-kenapa mungkin itu perasaan kamu ajah, lagian kerjaan udah selesai mbak juga pengen langsung istirahat!” jelasku tanpa memperpanjang masalah lalu pergi meninggalkan Atika yang merasa aneh dengan sikapku ini.


Aku menjalankan mobil dengan sedikit pelan sambil menikmati pemandangan kota, hingga aku teringat bu Amelia ingin bertemu denganku hari ini, sebenarnya itu membuatku sangat malas dan takutnya dia akan membicarakan hal-hal yang aku takuti.


Sampai disebuah restoran mewah aku sudah melihat bu Amelia sedang melihat menu makanan.


“Selamat sore Bu!” aku tersenyum dan menyalami beliau.


“Ini masih siang, belum menjelang sore!” aku hanya tersenyum kecil karena bagiku pukul 14.30 itu sudah masuk sore.


“Kamu mau pesen apa?”


“Saya sudah makan siang tadi Bu”


“Iya saya tau, kamu pesen buat ngemil ajah”

__ADS_1


“Emm.. Samin saja dengan ibu!”


“Baiklah!”


Setelah pesanan sampai aku hanya menikmati dengan penuh kecanggungan, meskipun bukan untuk pertama kali kami makan bersama tetap saja canggung karena aku sangat menghormati beliau.


“Kalau boleh tau apa yah, yang ingin ibu sampaikan!” ucapku melerai rasa canggung ini.


“Emm.. maaf yah Pril, soal kamu dan Janu ibu sudah tau semuanya!” aku meremas sendok yang sedang aku pegang itu, hatiku berdesir sakit bila harus mengingat laki-laki itu.


“Maaf sebelumnya ibu bukan ingin membuka rasa sakit kamu, ibu sudah tau ceritanya langsung dari Januari dia bilang semuanya dia juga menyesali apa yang dia rasakan. Ibu juga mau minta maaf sebagai seorang ibu jujur ini sangat menyakitkan, ibu merasa gagal mendidik anak ibu yang dengan teganya menyakiti kamu.” Aku hanya menunduk Menahan tangis .


“Ini bukan salah ibu, mungkin sudah jalannya begini Bu, jujur Januari adalah cinta dan pacar pertama saya, hubungan kami bisa dikatakan lama dan masalah ini juga sudah lama” aku berusaha untuk tetap seolah-olah aku baik-baik saja.


“Janu bilang dia juga masih mencintaimu, ibu Ngak akan membela anak itu menyudutkan mu ibu cuman berharap kalian bisa memperbaiki hubungan kalian setidaknya kalian bisa menjadi seorang teman” .


Apa aku bisa melupakan kejadian itu? Entahlah disini hanya tuhan yang tahu isi hatiku ini, dan bila pada akhirnya aku harus berdamai dan melupakan semua ini maka aku akan berusaha untuk berdamai dan melupakannya.


Mungkin apa yang dikatakan oleh Bu Amelia benar, aku harus bisa berdamai dengan semua ini. Setidaknya dengan begitu aku akan tenang dan bayangan menyakitkan itu lambat lain akan menghilang.


“Aunty itu bolaku!” aku tersenyum melihat anak laki-laki yang sedang mencari bolanya itu


Kini aku sedang berada di taman, kegiatan yang ku lakukan setiap weekend di tambah lagi aku sangat menyukai anak kecil .

__ADS_1


“Nih!” aku menyodorkan bola itu dan tersenyum .


“Makasih aunty!” Bocah itu berlari dan kembali memainkan bola itu.


“April..!” Pandanganku teralih ketika mendengar seseorang memanggilku.


“Pak Janu!” aku berusaha untuk tidak kaget dan menetralkan nafasku.


“Kamu sendiri?” aku hanya mengangguk, Januaripun duduk di sampingku .


“Kenapa” ucapku karena Januari terus menatap ku.


“Enggak kamu tidak menghindari aku lagi?”


“Apa selama ini saya terlihat menghindari bapak?” ‘meskipun itu memang benar' ucapku dalam hati.


“Ahh.. tidak, oh iya soal ibu saya yang bertemu dengan kamu saya minta maaf saya tidak maksud mengadu atau apa!”


“Iya pak saya tahu!” jujur ini sangat membuat ku canggung dan ingin segera pergi dari keadaan ini.


“Pril... Soal aku waktu itu ngak nyari kamu, emm.. waktu itu perusahaan papah yang di Amerika mengalami masalah ditambah papah mengalami serangan jantung hingga masuk rumah sakit, Alhasil aku pergi ke Amerika, sebenarnya aku ingin cari kamu, aku ingin minta maaf dan ngejelasin tapi waktu itu aku klau mendengar papah masuk rumah sakit dan setelah kejadian itu aku juga udah memutuskan hubunganku dengan Vanya”


Huft, aku menghela nafas panjang jujur aku tidak bisa menanggapi semua ini karena waktu itu aku juga terlalu merasa sakit.

__ADS_1


“Aku sudah memaafkan kamu, jadi stop ganggu aku dan memohon-mohon, aku sudah lupain semua itu!” jelasku.


“Makasih Pril dan sekali lagi maaf!” dia tertunduk lesu, dan akupun melihat betapa menyesalnya laki-laki itu.


__ADS_2