Mantan Pacar

Mantan Pacar
23. Luka yang teramat menyakitkan


__ADS_3

“April!, Dimana kamu!” fokusku tiba-tiba buyar kala seseorang memanggil namaku dengan kerasnya,bahkan seperti sebuah teriakan.


“Iya Mas kenapa?” tanyaku yang kini sedang melihat Mas Janu, penampilan yang kusut dan tau muka penuh amarah.


“Maksud kamu apa, mempermalukan Vanya ditempat umum dan menamparnya!” aku tersentak karena Mas Janu meneriaki ku dengan kerasnya.


“Maksud Mas gimana yah!” Ucapku bingung dengan penuturan Mas Janu.


“Jangan pura-pura Ngak tahu, tapi kamu ajak Vanya ketemuan dan kamu permalukan dia hingga kami tampar dia kan!, Selama ini aku diam ketika kamu terus membahas hubungan dengan Vanya, tapi aku juga tidak bisa diam saja ketika kau sudah menyakiti Vanya hanya kamu merasa cemburu!”


“Mas memang aku ketemu dengan Vanya tadi, tapi aku sama sekali Ngak nampar ataupun mempermalukan Vanya, kita hanya makan biasa!”


“Cukup!!!, Jujur aku sudah Ngak kenal dengan kamu, kamu sudah berubah aku Ngak habis fikir!”


“Asal mas tau yah, Vanya itu rubah, dia itu licik bahkan dia dengan bangganya bilang kalau dia hanya memanfaatkan kamu!”


“Udah yah, aku Ngak mau denger omongan kamu itu, bahkan kamu bukannya mengaku malah menumpukkan kesalahan orang lain dan menuduhnya!”

__ADS_1


“Aku bicara fakta, Vanya itu perempuan Ngak bener, dia licik dan kamu masih membela jalang itu!!”


Plakk


Dan semua sudah berakhir, tamparan itu sangat kencang pipiku rasanya panas dan perih, bahkan sepertinya berdarah sudut bibirku, aku hanya tertunduk dan tersenyum tipis.


“Sebaiknya kamu renungi kesalahanmu!” Januari pergi tanpa rasa bersalah dan sepertinya memang dia sudah tidak perduli lagi.


Badanku merosot aku hanya bisa menangis dan terisak,bahkan hatiku lebih sakit dari sebuah tamparan yang mungkin bekasnya tidak separah hatiku.


Kamu berhasil membuatku merasakan sakit lagi dan lagi, dan sepertinya sekarang adalah saatnya aku mengambil keputusan dan secepatnya pergi.


“Bangsat!” Janu berteriak kasar, bahkan para pengunjung club menatap heran dengan tingkah laki-laki itu.


“Seharunya loe N


ngak harus nampar istri loe seperti itu, dan seharusnya Loe itu lihat dari dua sisi, aneh gue sama loe, kemari ajah ngejar-ngejar tuh cewek, sekarang sudah Loe nikahin dengan gampangnya juga Loe sakitin dia!” Janu tertegun mendengar penuturan dari sahabatnya yang bernama Haris itu, mereka bersahabat sudah cukup lama.

__ADS_1


“Gue refleks ngak maksud untuk sakitin dia, Loe tau kan gimana cintanya gue sama April” Jelas Janu yang penuh rasa bersalah itu.


“Mending Loe balik, minta maaf dari pada disini males gue lihat Loe mabok kaya gitu!”


Janu, laki-laki itu setelah pertengkaran dengan sang istri dia pergi melampiaskan dengan pergi ke club, perasaannya kacau disatu sisi dia marah disisi lain dia merasa bersalah karena telah menampar sang istri.


“Malam ini gue nginep di apartemen loe!” untuk sekarang dia hanya perlu menenangkan pikirannya, mungkin dengan tidak pulang ke rumah dulu bisa membuat suasana hatinya lebih tenang.


“Terserah !” ucap Haris berjalan pergi dari Club’ itu.


Sepertinya Haris, Juna mendapatkan pesan dari Vanya yang mengatakan bahwa untuk menemaninya malam ini, dengan cepat diapun akhirnya menuruti dan menemui Vanya.


“Kamu ngak papa kan?” Tanya Januari


“Ngak ko aku cuman takut” Jawab perempuan itu dengan muka yang menyedihkan, dan sebenarnya itu hanyalah topeng belaka


“Aku disini, lebih baik kamu istirahat jangan terlalu dipikirin apa yang terjadi hari ini!” wanita itu mengangguk.

__ADS_1


Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi hari esok, hanya saja selagi kamu punya kesempatan maka perbaikilah , mungkin apa yang kamu benci sekarang bisa jadi hal itu yang membuat kamu bahagia.


__ADS_2