Mantan Pacar

Mantan Pacar
24. Pergi


__ADS_3

"Semalam kamu tidur dimana Mas?” tanyaku yang kini menatap Januari karena semalam dia tidak pulang dan pagi ini dia datang dengan keadaan yang bertanya.


“Rumah Vanya!” Ucap Janu dengan dinginnya.


“Mas istri kamu itu aku, bukan Vanya bahkan kalian Ngak ada ikatan sama sekali tapi kamu nginep di rumah wanita itu!” aku berucap dengan geramnya.


“Ini juga semua salah kamu, kalau kamu Ngak ngelakuin hal yang nyakitin Vanya mungkin dia Ngak akan stres seperti itu!” Januari tak kalah, dia berteriak dan membentakku dengan kencangnya.


“Sudah aku bilang aku sama sekali tidak melakukan itu Mas!” perasaan saat kita difitnah itu sangatlah menyakitkan, apalagi Ketika orang yang kita sayang tidak percaya lagi kepada kita.


“Buktinya sudah jelas! Dan kamu masih mengelak seharusnya kamu mikir dan atas kesalahan kamu!” cukup sudah rasanya sangat menyakitkan, rasanya aku ingin pergi saja dari semua permasalahan ini.


“Kamu mau bukti? Baik, akan aku buktikan dan jika semua kebenaran itu terbukti, jangan pernah berharap aku bisa memaafkan kamu lagi!” aku pergi dari hadapan laki-laki itu menuju kamar tamu, hatiku lagi-lagi dihancurkan oleh orang yang sama, bahkan dengan bodohnya aku memaafkan dan menikah dengan sosok sepertinya.


“Aku akan beri bukti itu Jan, tapi setelah itu akan aku pastikan kamu tidak akan melihat aku dan calon anakmu lagi!” Ucapku yang kini tertunduk menangis.


Setelah lelah menangis akupun membereskan beberapa baju dan memasukkannya kedalam koper, beberapa pembantu menatapku dengan heran karena aku mendorong sebuah koper.


“Non mau kemana?” ucap bibi


“Bi aku cuman mau keluar dulu, nanti kalau Mas Janu mencari ku bilang saja bukti yang diinginkan mas Janu sudah saya simpan di laci kamar!” akupun melangkahkan kakiku keluar dari rumah itu, dan memasuki Taxi yang sudah aku pesan tadi.

__ADS_1


Semua akan segera berakhir dan pada akhirnya aku kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa berharap setelah ini aku bisa menemukan kebahagiaanku, meskipun hanya dengan anak yang aku kandung ini.


Selamat tinggal Januari, kamu berhasil Menyakiti dan memberikan aku luka lagi, kamu laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta dan kamu juga laki-laki pertama yang membuatku terluka hingga sulit untuk disembuhkan.


Kini aku sudah sampai disalah satu bandara internasional, dengan koper yang aku tarik aku berjalan kearah seseorang yang sudah dari tadi menunggu ku.


“Kamu yakin akan pergi?” tanya laki-laki itu menatap ku dengan intens


Akupun mengangguk dan kini kami berdua berjalan menuju pesawat, laki-laki itu menggandengku dan memberikan ku rangkulan yang membuatku kian merasa sakit dan sedih.


*


Januari menatap aneh dengan kondisi rumah yang sepi bahkan sang istri yang biasanya akan menyambutnya kini tidak terlihat sama sekali.


“Iya tuan”


“Kemana April?, Saya ko Ngak lihat dia?”


“Emm anu tuan, tadi Non April pergi bawa koper trus dia bilang sama saya, kalau tuan tanya soal Non April cuman disuruh bilang, kalau bukti yang diinginkan Tuan sudah Non April simpen di laci meja samping kasur di kamar, itu saja tuan!”


“Argghh!” Januari berteriak dan dia berjalan menuju kamar dengan langkah lebarnya itu

__ADS_1


Sebuah map dibuka dan terdapat perekam serta surat didalamnya, perlahan laki-laki membuka perekam itu dengan perasaan yang gamang.


“Sepertinya kamu masih tertarik terhadap suamiku, sampai-sampai dibelikan apartment baru bahkan kamu sepertinya dilindungi sekali oleh Mas Janu!”


“Ahh, sepertinya yang sangat tertarik itu suami kamu deh, soalnya kan aku sudah suruh dia untuk ngak ngurusin masalahku, tapi dia dengan lantangnya membelaku dan berjanji melindungi ku!”


“Emm, memang suamiku itu terlalu bodoh, bahkan selama ini dia sebenarnya hanya diperalat saja, ck ck kasihan sekali!”


“Ya dia terlalu bodoh, mau saja dimanfaatkan olehku!”


“Sepertinya sangat gampang sekali, menyingkirkan lawan sepertimu, Vanya!”


“Dan sepertinya sebelum aku tersingkirkan, aku akan menyingkirkan kamu terlebih dahulu!”


“kamu itu sama sekali tidak pandai menyembunyikan belang mu, emm silahkan singkirkan aku, aku tunggu itu!”


“Brengsek kau Vanya, Bangsat! Apa yang sudah aku lakukan terhadap April lagi-lagi aku menyakiti dia, Arghhh!!!!” Januari berteriak frustasi dengan rasa bersalahnya dengan perasaan yang menyakitkan itu berlahan dia membuka sebuah surat dengan rangkaian kat yang membuatnya semakin bersalah.


Kamu mau bukti kan Mas? Sebenarnya aku sudah merekam percakapan itu ketika bertemu dengan Vanya hari itu, aku tidak bodoh ko mas, aku hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita itu, dan setelah dia memfitnahku bahkan kamu pun sama sekali tidak mempercayai ku.


Jadi untuk apa aku disisi mu lagi Mas, dulu kami bilang tidak akan menyakiti aku tapi lagi dan lagi kamu terus sakiti dan lukai aku, bahkan aku fikir dengan adanya pernikahan ini kamu akan benar-benar menepati janjimu dan memberikan kebahagiaan tapi lagi-lagi aku salah besar.

__ADS_1


Aku pergi, jangan cari aku lagi, dan sesuai perkataan ku kemarin setelah buktinya kamu punya jangan pernah berharap maaf dariku, dan satu lagi Aku hamil, usianya sudah 3 bulan lebih jadi jangan pernah cari aku dan anak ini.


“Arghhhh maafkan aku hiks.. aku sudah menyakiti kau lagi sayang, maafkan aku seharusnya aku percaya sama kamu arghhhhhhhh!” Januari meremas rambutnya dan memukul dirinya sendiri, dia berteriak frustasi akan akibat dari sebab yang telah dia lakukan, dan sekarang di hanya bisa menagis pilu.


__ADS_2