
Minggu yang ditunggu-tunggu oleh Rion akhirnya tiba, kini keluarga kecil itu tengah menghadiri acara pembukaan cafe milik Atika.
Rion nampak bersemangat karena akan bertemu dengan Dewa dan juga Atika yang sudah hampir sebulan ini tidak dia temui.
Dari luar pembukaan cafe itu terlihat sangat meriah, banyak paa pengunjung hadir. Mereka bertiga berjalan memasuki cafe dan melihat Atika yang begitu sibuk dan juga Dewa yang membantu istrinya.
"Papah Dewa!" Rion berteriak dan orang-orang mengalihkan pandangannya ke Rion termasuk Atika dan Dewa.
Dewa mendekat kearah Rion dan memangku bocah itu dengan penuh perasaan rindu "Papah kangen banget sama anak papah ini". Rion tertawa ketika Dewa menciumi wajahnya.
"Rion Juga kangen sama papah, sama tan Tik" Dewa tersenyum dan mempersilahkan April juga Januari untuk duduk dan memesan makanan.
Atika menghampiri mereka dan memeluk Rion, dia begitu sangat merindukan bocah yang selau membuatnya kesal dan gemas "tante kangen banget sama kamu" Ucap Atika yang tengah mencubit pipi Rion dengan gemas.
"Mbak bisa pesen aja makannya, nanti di layani sama pelayan, aku mau main sama Rion kangen soalnya" April terkekeh dan membiarkan Atika melepas rindu bersama anaknya, sementara itu dia dan Januari memesan menu makanan.
Dewa memperhatikan istrinya dengan senyum kecil, setelah menikah banyak hal baru yang mereka pelajari bersama, bahkan kini merekapun kembali mengenal satu sama lain lagi, namun sifat ceria sang istri terkadang membuatnya merasa khawatir karena wanita itu sangat mudah membunyikan kesedihannya.
"Papah ion mau main pesawat sama papah, ion kangen" Atika dan Dewa tersenyum mendengar ucapan Rion yang meraka rindukan ini.
"Yaudah kita nanti main yah, sekarang kita makan dulu, kasian momy sama dadynya nungguin Rion, setelah itu kita main sepuasnya"
"Janji yah tan Tik" Atika mengangguk dan membawa bocah itu kemeja yang tengah di duduki oleh orangtua anak itu.
Mereka berlima menikmati makanan yang berad di cafe baru milik Atika, sesekali makan siang kali ini di selingi oleh canda tawa karena kepolosan Rion.
"Ngak papa kamu makan sama kita Tik?" Ujar April yang sedikit tidak enak.
__ADS_1
"Ngak papa mbak, lagian banyak pelayan juga, mas Dewa sudah menyerahkan semuanya ke para pelayan disini, aku hanya sesekali datang dan melihat keadaan cafe"
"Baguslah kalau begitu, kamu juga jangan terlalu cape Tik, masa dari kamu muda kamu kerja terus, sekarang udah punya suami tajir yah mending diem ajah" kedua wanita itu tertawa, sementara para suami hanya menikmati makanan yang tersaji tanpa mau ikut bergabung.
Setelah merasa cukup selesai dengan urusan cafenya, Atika dan Dewa mengikuti keinginan Rion yaitu menghabiskan waktu bersama, sementara April dan Januari sudah pulang terlebih dahulu.
Mereka pergi ke kebun binatang yang lokasinya tida jauh dari cafe tadi, Rion sangat antusias ketika melihat banyak banyak hewan, bahkan dia dengan beraninya member makan Rusa.
Tawa terdengar dari bocah yang kini tengah menikmati pertunjukan lumba-lumba, Atika dan Dewa juga ikut tersenyum bahagia melihat pancaran kebahagiaan dari Rion.
"Pah lihat deh lumba-lumba nya lucu, ion mau suruh dady beliin ah" Atika menggelengkan kepalanya, sementara Dewa hanya mengiyakan tanpa mau membalas ocehan Rion yang terkadang membuat kepala sakit.
Setelah menikmati kegiatan mereka di kebun binatang, kini ketiganya tengah menyantap eskrim, Rion yang sangat menyukai makan satu ini membuat cara makannya menjadi belepotan, Dewa pun membersihkan bibir Rion dengan tisu.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, seharian penuh menikmati waktu bersama dengan Rion, bahkan banyak hal yang mereka lakukan hari ini, hingga kini Rion sudah tertidur di atas pangkuan Atika.
Ketiganya berada di dalam mobil dan bertujuan untuk mengembalikan Rion kepada orangtuanya, bocah itu terlihat lelah karena seharian terus bermain dan jalan-jalan.
"Iya mbak, kecapean dia" Januari mengambil alih tubuh anaknya, kini dia sudah pergi untuk menidurkan rion di kamar.
"Mbak kami duluan yah"
"Makasih yah Tik, sering-sering main kalau sendirian di rumah"
"Pasti mbak"
Mereka berdua pergi dari mansion keluarga Atmaja menuju rumahnya, hari ini begitu sangat melelahkan apalagi antusias Rion yang cukup membuat mereka berdua kewalahan.
__ADS_1
Mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar, setelah menikah Januari memutuskan untuk pindah ke Jakarta, dan diapun menerima tawaran bekerja di salah satu maskapai penerbangan yang besar di Jakarta.
Atika sudah mengganti bajunya dengan baju tidur, kini dia sudah menyiapkan susu dan juga vitamin untuk sang suami, setelah menikah Atika mengetahui kebiasaan Dewa yang akan meminum susu dan vitamin sebelum tidur, laki-lak itu bilang menjadi pilot harus mempunyai stamina yang tinggi akan tidak cepat lelah.
"Mas ini susunya" Dewa tersenyum ke arah istrinya, dan mengambil segelas susu dari tangan Atika.
"Lagi apa mas, kayanya serius sekali?" Tanya Atika melihat suaminya yang sedang fokus ke arah tablet.
"Lihat jadwal untuk lusa, sepertinya lumayan padet untuk dua minggu kedepan" Atika tersenyum ke arah sang suami, meskipun baru sebulan lebih menikah dia tahu kalau ada keresahan di hati Dewa ketika meninggalkannya terbang.
"Ngak papa mas, lagian ini kah konsekuensi aku yang harus nikah sama pilot, yang penting kamu pulang dengan keadaan selamat itu sudah lebih dari cukup" Dewa mengecup kening sang istri, dia begitu bersyukur mendapatkan istri sebaik Atika, terkadang dia juga merasa bersalah karena sikap dinginnya yang sulit dia hilangkan sehingga terkesan nya sedikit mengacuhkan wanita itu.
"Yaudah sekarang kita tidur yah" Atika yang hendak tertidur di cekal tangannya oleh Dewa, wanita itu faham dengan apa yang di inginkan oleh suaminya.
"Jangan malam ini yah mas" ucap Atika yang sedikit merasa bersalah karena menolak keinginan suaminya
"Kamu lagi halangan?" Atika menggeleng
"Trus, kamu ngak lagi nolak saya kan? mau dosa hemm?"Atika merasakan deru nafas suaminya, kini wajah mereka sudah sangat dekat, namun dengan cepat Atika mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kata dokter jangan dulu berhubungan, takut kenapa-napa sama bayi nya" Dewa tertegun, tapi dia masih belum paham dengan apa yang diucapkan sang istri.
"Bayi?" Atika mengangguk ke arah Dewa dengan wajah tersenyum nya.
"Kamu... hamil?" tanya Dewa memastikan, wanita itu mengangguk.
Dewa merengkuh sang istri kedalam pelukannya, sungguh dia masih merasa tidak percaya dengan kabar yang baru dia dapat, kini dia akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
"Aku baru kemarin, usianya masih dua minggu, jadi kata dokter jangan melakukan hubungan itu dulu takut bayinya belum kuat" Dewa mengangguk kini matanya sudah berair, dia menangis tersedu-sedu, tangisan penuh dengan rasa bahagia.
"Makasih sayang" Dewa terus mencium kening sang istri, diusianya yang sudah kepala tiga itu, kini dia akan menjadi seorang ayah.