
Kini sudah hampir dua minggu Januari kembali ke Jakarta dan meninggalkan keresahan di hati April.
Wanita itu kini sangat sulit menebak isi hatinya, karena di satu sisi dia merasa benci dengan Januari namun di sisi lain dia juga rindu dengan sosok laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.
Meskipun dulu banyak luka yang dia torehan namun laki-laki itu seperti selalu mampu memberikan kesan yang mendalam hati April, dan bahkan sampai sekarang jika ditanya rasanya cintanya kepada laki-laki itu, maka April akan tegas menjawab bahwa Januari masih dengan angkuhnya bertahta tinggi dihatinya.
"Tik, mbak jemput dulu Rion yah!"
"Iya mbak!"
April berpamitan ke Atika, meskipun ini sudah menjadi rutinitasnya tetap wanita yang dia anggap sebagai adiknya itu selalu cemas jika April tidak memberi tahu kemana perginya.
Siang ini jalanan cukup macet, dan sepertinya April akan sedikit terlambat samai ke sekolah sang anak, meskipun begitu Rion anak yang pintar dan ketika dia terlambat menjemput maka anak itu akan tetap berada di lingkungan sekolah atau pergi ke ruang gurunya.
Seelah menghadapi kemacetan yang cukup memusingkan, akhirnya April sampai di sekolah Rion dengan kondisi sekolah yang sudah cukup sepi, April keluar dari mobil dan mencari sang anak di taman bermain sekolah namun dia juga tidak menemukan anaknya itu, hatinya sedikit cemas dan diapun langsung berjalan menuju ruang guru.
"Bu April ada apa yah?'
"Bu, Rion ada di sini ngak?"
"Loh bukannya tadi Rion sudah di jemput?"
Dada April naik turun, dia berusaha untuk tetap tenang meskipun kini rasa cemasnya sangat mendominasi di hatinya.
"Bu, saya baru sampai dan saya kesini mau jemput anak saya!"
"Lalu tadi yang jemput anak ibu siapa? soalnya saya lihat wanita yang baju da mobilnya hampir mirip dengan yang sering ibu kenakan"
"Apa ada, laki-laki yang yang sering menjemput Rion bu, yang sering memakai Jas atau baju pilot?"
"Ngak bu, saya hanya melihat wanita itu saja, saya fikir itu ibu soalnya dari perawakan juga sama, ditambah lagi Rion langsung masuk mobil!"
April sangat panik wajahnya pucat dan dia ambruk, karena selama ini dia tidak pernah merasa mempunyai saudara atau sahabat perempuan selain Atika, dan juga mana mungkin Omanya Rin menjemput sedangkan jadwal mereka datang dua minggu lagi.
"Halo Tik, kamu tadi ****** Rion?"
__ADS_1
"Hallo mbak, loh bukannya mbak yang ****** yah soalnya dari tadi aku di toko!"
April sangat lemas tubuhnya kini lagi-lagi merosot, dia berusaha nahan tangisannya
"Mbak, sebenarnya kenapa?"
"Rion hilang Tik, Rion...!" April tidak bisa lagi menahan tangis dia terus merapalkan nama sang anak.
"Apa mbak!, mbak tenang dulu aku ke sana sekarang!"
"Bu, saya minta maaf, saya ngak tahu yang menjemput anak ibu itu bukan ibu!" Guru itu berusaha untuk menenangkan April.
Dengan cepat april meraih handphone nya lagi dan memangil seseorang.
"Halo Pril, kenapa?"
"Mas Karen dimana?"
"Kenapa Pril, aku sekarang sudah di Jakarta"
"Mbak!" Kini April tersentak dengan panggilan dari Atika, wajah wanita itu terlihat panik apalagi melihat seseorang yang sudah dia anggap sebagai kakanya itu terlihat menyedihkan.
"Sebenarnya ini kenapa?" Atika bertanya dengan nada lirih dan berusaha nahan tangis.
"Tadi mbak mau jemput Rion, cuman di jalan macet jadi mbak agak telat, trus ketika mbak car Rion ngak ada dan pas mbak tanya ke gurunya, katanya Rion sudah di jemput oleh seorang wanita yang perawakannya sama dengan mbak dan mobilnya pun sama!" April menangis ketika menjelaskan apa yang terjadi saat ini.
"Tenang mbak kita lapor ke kantor polisi yah!" Atika berusaha terlihat baik-baik saja, karena disini keadaan april yang bisa d katakan kurang buruk, untuk itu atika berusaha untuk tidak terlihat buruk karena kini tumpuannya hanya ada padanya.
Sampai di kantor polisi, Atika dan April menjelaskan semuanya dan juga guru yang tadi melihat Rion di jemput oleh seseorang itu juga turut iku ke kantor polisi.
"Kami akan segera melakukan pencarian Bu, saya harap ibu bisa bersabar menunggu informasi selanjutnya!"
"Pak, bagaimana saya harus sabar anak saya masih lima tahun, saya takut terjadi sesuatu dengan anak saya!" Atika berusaha menenangkan April, karena kondisinya sudah terlihat semakin kacau.
"mbak kita tunggu informasi selanjutnya dari polisi yah!"
__ADS_1
April hanya bisa menangis bahkan kini hatinya sangat hancur, anaknya Rion kini entah dimana bahkan kondisinya juga entah bagaimana, bahkan dia juga tidak bisa menyalahkan siapapun.
"Hallo, Pril!"
"Ma.s Hikss!"
"Pril, sayang kamu kenapa? kamu nangis? ada apa sebenarnya?"
"Rio..n hi..lang hikss hikss!"
"Apa! bagaimana bisa! ok sekarang kamu tenang aku akan segera kesana, kamu tenang yah!"
Di sebrang sana setelah mendengar kabar sang anak hilang, Januari kalang kabut bahkan kini dia juga menyiapkan penerbangannya menuju Surabaya.
Sedari tadi kondisinya tidak tenang apalagi ketika detektifnya bilang jika, siang tadi sang anak di jemput oleh seorang wanita yang penampilannya sangat mirip sekali dengan istrinya bahkan mobil dan juga platnya sama, ketika detektif itu mengikuti mobilnya, namun tujuannya bukan ke toko bunga ataupun ke rumah sang istri, melainkan ke suatu tempat yang entah dimana, karena sebelum tahu tujuan mobil itu sang detektif sudah di hadang oleh beberapa orang dan di pukuli.
Januari terlihat murka, karena baru saja perusahannya membaik kini sang anak yang hilang, dan dia akan pastikan siapapun yang menculik anaknya, dia tidak akan pernah mengampuni orang itu.
Setelah turun dari pesawat pribadinya, kini Januari langsung meluncur ke kediaman sang istri, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi istrinya sekarang.
"Pak Januari" ucap Atika ketika membuka pintu rumah, dan terlihat Januari yang raut wajahnya panik.
"April dimana?"
"Di kamar pak"
Januari terus berlari ke kamar dan melihat sang istri dalam kondisi yang menyedihkan, wanita itu menangis dan memeluk foto sang anak.
"April!"
Januar berjalan mendekati April sementara wanita itu ketika melihat januari dia langsung menangis kencang, Januari memeluk April dengan erat dia juga menangis apalagi melihat kondisi sang istri yang begitu kacau.
"Ri..on, Mas.."
"Sstt, tenang yah, orang-orang ku sedang mencari Rion!" Januari mengelus kepala April dengan pelan, hatinya juga ikut terluka dengan penculikan sang anak dan juga kondisi sang istri yang menyedihkan, rasanya ini lebih menyakitkan dari kondisi perusahaannya yang hampir hancur.
__ADS_1