Mantan Pacar

Mantan Pacar
43. Butuh Waktu


__ADS_3

Kini orang tuanya sudah pergi ke penginapan ketika mengetahui ana dan cucunya baik-baik saja, ruangan rawat VIP itu terasa hening kerena Dewa, Rion dan juga Atika sudah tertidur, dan kini hanya April dan juga Januari yang masih belum tertidur.


"Oh iya aku mau gimana ceritanya, Rion bisa selametin dan dalam keadaan baik-baik ajah?" April tersenyum mendengar pernyataan dari suaminya.


kini apri memulai menceritakan bagaiman dia dan juga Dewa bisa menyelamatkan Rion dengan begitu mudah.


"Wa, kamu yakin ini tempatnya?" tanya April yang masih terheran-heran, karena tempat ini berada di daerah yang bisa dikatakan hutan karena banyaknya pepohonan di sepanjang jalan dan juga perbukitan.


"Diem deh, udah hampir berkali-kali kamu nanya hal yang sama!" Dewa mulai kesal dengan celotehan sang sepupu.


Mobil kini terparkir di salah satu rerumpunan, dari jauh mereka bisa melihat rumah yng berada di tengah-tengah hutan, desainnya sangat bagus bahkan halamannya juga sangat luas.


Namun pandangan mereka langsung tertuju kepada seorang anak kecil yang di gendong oleh salah satu pengawal atau penjaga di sana, dan anak kecil itu adalah Rion, bahkan anak itu tidak merasa takut ataupun menangis, malahan Rion terlihat tertawa bahagia dengan pesawat kesayangannya yang sedang dia mainkan.


"Anak loh ajaib bener, dia pikir lagi piknik apa? mana mainnya sama pengawal yang badannya gede-gede lagi!" Dewa masih menggelengkan kepalanya sementara April nampak bahagia melihat anaknya baik-baik saja.


"Kalian kepung semua arah rumah itu, jangan sampai ada satu orang yang tahu, dan juga jangan sampai anak buah itu telpon bosnya, bisa gawat nanti Januari!" Tukas Dewa ke arah orang-orang yang sudah dia dan Januari siapkan.


"Siap pak!"


Orang-orang itu terus berpencar dan perlahan melwan beberapa penjaga yang menaklukannya, tatapan April masih tidak lepas dari anaknya yang nampak bahagia.

__ADS_1


"Kamu disini yah Pril, aku yakin orang-orang di sana banyak, nanti aku bawa Rion ke sini!" April mengangguk patuh kerena untuk sekarang itu yang harus dia lakukan, meskipun hatinya ingin sekali memeluk sang anak.


"Paman cepet ihh, gendong lagi ion nya!" rengek Rion sementara penjaga itu sudah nampak lelah mengikuti keinginan bocah laki-laki itu.


"Bentar napa, pinggang paman sakit nih!" Jawab laki-laki berawak kan tinggi itu yang sedang memegang pinggangnya.


"yang lain pada ke mana sih, ini masa cuman kita bertiga!" ucap salah satu penjaga lainya.


"udah sana loe liat takutnya pada santai-santai!" kini hanya tersisa seorang pengawal yang menemani Rion bermain, namun pengawal itu nampak heran karena teman-temannya tidak terlihat sama sekali.


"Ehh bocah, tunggu di sini dulu paman mau ke sana dulu" Rion mengangguk dan memainkan pesawatnya lagi.


April melihat pengawal itu pergi dengan pelan-pelan dia mendekati Rion bermaksud membawanya pergi.


"Momy" gumam anak itu dan langsung berlari ke arah sang momy, dengan cepat april memeluk anaknya dan membawa pergi dari halaman itu.


Pengawal yan tadi kembali namun tidak menemukan anak laki-laki yang tadi bermain bersamanya, bahkan teman-temannya tidak terlihat di dalam maupun di belakang rumah, dia sudah mulai curiga dengan keadaan yang membuatnya aneh itu.


DORR


Satu tembakan melesat ke arah atas, pengawal itu membalikan badan dan melihat wanita yang di jadikan perawat anak laki-laki itu terlihat tengah di tarik dan juga di todong oleh pistol, dia juga melihat teman-temannya sudah hampir tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Angkat tangan!" Perlahan pengawal itu mengangkat tangannya dan meletakkan pistol di tanah, semuanya sudah di bekuk dan kini polisi juga sudah hampir sampai di tujuan.


"Anak itu dimana?!" Tanya Dewa yang mulai panik.


"S..ya tidak tahu.. tadi ketika saya kesini sudah tidak ada!" Ucap pengawal itu dengan nada ketakutan.


"Bangsat!, Cari anak itu!" Umpat Dewa yang kini terlihat marah.


"Kita disini!" Dewa memalingkan pandangannya ke arah April yang kini tengah memangku Rion, ada perasaan lega dalam hati Dewa melihat Sepupu dan keponakannya selamat.


Dewa berjalan ke arah April dan Rion, laki-laki itu memeluk Rion dengan begitu eratnya, dia sangat merindukan Rion.


"Papa Dewa, pulang yuk, ion ngak mau Camping lagi, maunya main sama aunty Tika!" Dewa dan April terkekeh melihat sikap polo Rion, anak itu namak baik-baik saja, padahal semua orang di rumahnya sangat mengkhawatirkannya, bahkan dari semalam April tidak tidur dan terus menangisi anaknya.


"Jadi Rion baik-baik ajah?" Tanya Januari meyakinkan.


"Iya, aku juga awalnya ngak nyangka, karena dalam pikiranku penculikan itu mengerikan, ternyata itu tak berlaku untuk Rion!" April dan Januari terkekeh dengan tingkah ajaib sang anak.


"Aku bersyukur dia baik-baik ajah dan tidak ada luka sekecil apapun, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau terjadi sesuatu yang mengerikan, karena baru saja beberapa bulan ini aku melihat kamu dan Rion, jika itu terjadi maka aku adalah sosok ayah dan suami yang bego, bodoh dan tidak bisa di maafkan, Pril maafin aku yah, semua berawal dari aku, aku laki-laki bodoh tapi jujur aku belum siap kehilangan kalian berdua baik itu sekarang ataupun lima tahun yang lalu, maafin aku yah, maaf!" Januari menangis, jujur dalam hati kecil April melihat suaminya yang sekarang menyedihkan, membuatnya juga merasa iba, namun sekarang hatinya masih gamang dan juga bingung apakah harus memaafkan suaminya atau tidak.


"Mas kasih aku waktu.." Ujar April dengan lirihnya.

__ADS_1


"I Know sayang, aku akan berusaha sampai kamu mau maafin aku kembali, aku tahu sangat sulit membangun kepercayaan lagi, tapi sekarang aku tidak akan janji, melainkan aku akan membuktikan nya secara langsung kepadamu dan Rion tentang kesungguhan ku!"


__ADS_2