
Sekarang kandungan April sudah memasuki bulan ke delapan, dia begitu antusias menunggu kelahiran anak keduanya, begitu juga dengan keluarga Atmaja, yang akan kedatangan anggota keluarga baru.
Pagi tadi Rion bilang ingin di jemput olehnya, karena setelah pulang sekolah dia akan memperlihatkan hasil lukisannya semalam kepada baby Ardyan, April hanya mengangguk daan mengiyakan keinginan sang anak, meskipun sempat suaminya kurang setuju karena kandungan sang istri sudah sangat besar.
April keluar dari mobil, dan menemui Rion yang sudah menunggunya di depan gerbang, tak lupa lukisan yang dia gulung dan di ikat oleh pita merah. April tersenyum dan mengajak Rion masuk kedalam mobil.
Dalam perjalanan April tengah mendengarkan celotehan sang anak yang sedang mengatakan lukisan yang dia lukis, mulai dai warna hingga gambarnya.
Namun tiba-tiba ada dua mobil yang menghadang mobil mereka, sang supir pun merasa aneh dan sedikit cemas karena orang yang membawa mobil itu terlihat aneh.
"Pak Amin ada apa?" Tanya April yang merasa aneh.
"Ngak tahu bu, sepertinya ada mobil yang ngikutin kita dari tadi dan mereka menghadang kita" April semakin cemas dia memeluk Rion dengan erat, bocah itupun merasakan hal keanehan.
"Pak terus jalan, kita langsung ke rumah, jangan hiraukan" Supir itu mengangguk namun dua mobil itu menabrakkan mobilnya mereka dengan sengaja ke mobil yang tengah April dan Rion kendarai.
"Mom, takut.." Cicit Rion, April terus memeluk erta tubuh sang anak, kini tubrukan dari dua mobil di sampingnya membuat sang sopir hilang kendali dan mobil menabrak pembatas jalan dan trus menerobos sehingga menabrak pohon besar, kecelakaan itu sudah tidak bisa di hentikan, sang sopir yang sudah tak sadarkan, sementara April yang sudah kesakitan bahkan darah segar keluar dari sudah keningnya, dia melihat Rion yang juga terluka dan oleh serpihan kaca.
April terus bergumam dan meminta tolong, dia menepuk pelan wajah anaknya yang sudah berdarah, sementara dia merasakan sakit pada perutnya yang terjepit, dia hanya bisa pasrah bahkan kini darah segar keluar dari selangkangannya, matanya seakan berat sehingga perlahan tertutup.
Dia mendengar seseorang memanggil namanya, namun kesadaran sudah hilang sepenuhnya, ibu dan anak itu harus merasakan kecelakaan yang begitu tragis dan mungkin akan menimbulkan trauma besar bagi mereka jika memang masih bisa di selamatkan.
__ADS_1
**
Januari seperti kesetanan, dia melajukan mobil ke tempat kecelakaan, ketika mendengar dari anak buahnya jika mobil yang ditumpangi oleh anak dan istrinya di serang sehingga terjadi kecelakaan.
.Dia melihat mobil hitam yang menabrak pembatas jalan bahkan mobil itu depannya sudah rusak, dengan berlari dia menghampiri mobil itu dan melihat kondisi anak dan istrinya yang bisa dikatakan jauh dari kata baik-baik saja.
Januari dan beberapa petugas kepolisian mengeluarkan tubuh korban kecelakaan, dia menggendong tubuh istrinya dengan penuh airmata dan kesakitan, setelah istrinya di bawa ke dalam mobil ambulan, dia memeluk tubuh anaknya yang penuh dengan luka, hatinya begitu remuk dan sakit melihat kedua orang yang ama dia cintai harus terbaring tak berdaya dengan penuh luka dan darah.
Januari ikut masuk kedalam ambulans yang berisi anaknya, sementara istrinya sudah terlebih dahulu di larikan ke rumah sakit dan melakukan penanganan, tak lupa juga dengan sopirnya yang mungkin lebih kritis keadaanya.
Setelah sampai di rumah sakit dia hanya bisa tertunduk dan menunggu di depan ruang IGD yang tengah menangani anak istrinya, kedua orangtuanya datang dan melihat kondisi anaknya yang sudah kacau, Januari menangis dalam pelukan ibunya, sementara Atmaja selaku ayah dan kakek dari Rion hanya bisa terdiam pilu.
"Keluarga pasien atas nama April Megandari?" Januari langsung berdiri dan melihat dokter yang keluar dari ruangan yang merawat istrinya.
"Isti bapak harus segera melakukan operasi sesar, mengingat kondisinya yang kritis, bapak bisa menandatangani surat persetujuannya terlebih dahulu.
Januari mengangguk dia langsung menandatangi surat itu dan menunggu istrinya di ruang operasi, selain itu juga dia menunggu kabar dari kondisi anaknya.
Atika dan Dewa datang ketika mendapatkan kabar jika April dan Rion kecelakaan, mereka berdua melihat begitu rapuhnya Januari yang harus di hadapkan dengan kondisi yang menyakitkan ini.
"Siapa pelakunya?" Tanya Dewa yang sudah geram ketika mendengar penjelasan dari pak Atmaja kakek Rion.
__ADS_1
"Mereka sudah saya tangkap, sekarang sedang di urus oleh anak buah saya" Dewa mengepalkan kedua tangannya, bahkan kini amarah sudah menguasai hatinya.
"Kasih tahu dimana, biar saya langsung yang menghukum mereka" Atika sedikit tertegun melihat ekspresi suaminya yang marah.
"Mas" Ucap Atika yang menenangkan suaminya
"Kamu tunggu disini, aku akan bereskan hari ini juga"Atika hanya bisa membiarkan suaminya pergi, sementara Januari membiarkan sepupu istrinya yang bertindak, sekarang yang terpenting adalah kondisi anak dan juga istrinya.
"Keluarga pasien atas nama Rion?" Mereka semua menghampiri dokter dan mendengar keadaan Rion.
"Pasien mengalami benturan sehingga harus di jahit, kakinya juga mengalai keretakan namun itu bisa disembuhkan, namun ada sedikit masalah yang serius, salah satu bola matanya terkena serpihan kaca sehingga, ketika nanti sadar sebelah matanya akan sedikit bermasalah, dan sedikit mengalami kerabunan" Semua yang berada di luar ruang rawat itu hanya bisa menatap sendu, anak yang umurnya masih kecil harus merasakan kejadian yang mengerikan seperti ini.
Apalagi yang membuat Januari semakin sedih adalah, anaknya ingin sekali menjadi seorang pilot, namun jika mendapati kecacatan dalam matanya maka dia tidak akan bisa menjadi pilot, dia hanya bisa menunduk sedih, meskipun kondisi anaknya sudah ditangani, kini dia menunggu kondisi istri dan anaknya satu lagi.
Setelah mendengar kabar dari dokter mengenai kondisi Rion, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia tidak perduli dengan keadaan sekitar, sampailah dia dia gedung tua dan melihat banyak anak buah Atmaja dia sana, mereka mempersilahkan Dewa untuk masuk ke dalam.
Ada sekita sepuluh orang dan dua di antaranya menggunakan jas kantoran, mereka sudah babak belur, Dewa menatap benci sehingga dia tanpa amun menembaki orang-orang dihadapannya dengan brutal, dan menyisakan dua orang tadi yang memakai jas.
Keduanya menatap takut dan juga memohon-mohon untuk tidak di tembak. "Mereka dalang nya pak, dia adalah rekan bisnis keluarga Atmaja dan mereka juga yang merencanakan pembunuhan itu" ucap salah satu anak buah Atmaja.
Dengan penuh kesetanan Dewa memukuli kedua orang yang berada di hadapannya, bahkan mereka sudah terkapar dengan bersimbah darah.
__ADS_1
"Beri makan anjing lapar yang berada di bawah gedung ini, biarkan mereka mati secara perlahan" para anak buah itu mengangguk da menyeret keduanya yang sudah tak sadarkan diri.
Dewa belum merasakan puas sama sekali bahkan rasa sakitnya masih besar mengingat sepupunya dan juga Rion dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, dia ingin sekali membakar tubuh mereka, namun diberikan ke anjing kelaparan adalah titah dari Atmaja.