
Kabar bahagia itu tentu kini membuat seorang Januari serasa hidupnya kembali, hingga dia akhirnya terbang ke Surabaya dan menghendel semua pekerjaannya yang ada dijakarta demi bertemu dengan istri juga sang anak.
Kota Surabaya yang begitu cerah, secerah hatinya yang kini penantiannya selama Lima tahun akhirnya terbayarkan, dibalik mobil hitam ia memperhatikan sang istri yang sedang menjemput putranya disekolah, wajah cantiknya tidak pernah berubah bahkan sekarang tampil begitu cantik dan menawan.
Januari melihat sang anak berlari menuju pelukan istrinya, rasa haru dan bahagia secara bersamaan hadir, ingin sekali dia juga memeluk keduanya dan menumpahkan rasa rindu juga meminta maaf atas segala kesalahan yang telah ia perbuat dimasa lalu.
“Momy, hari ini Oma dan Opah jadi datangkan?” Tanya Rion dengan wajah antusiasnya.
“Iya sayang Oma sama Opa udah nunggu ion loh dirumah!” Setelah mendengar jawaban dari Momynya ion pun terlihat senang bahkan dia terus berceloteh tentang rasa rindunya terhadap kakek serta neneknya itu.
Sesampainya dirumah ion lari dan mencari keberadaan Oma dan juga Opah nya, dengan masih menggunakan baju sekolah dan tas punggung yang terlihat begitu pas dengan penampilannya.
“Oma, Opah Yuhuuuuuuu!” teriak ion yang terus mencari kakek serta neneknya.
“Hai cucu Opah!” sapa kakeknya atau lebih tepatnya sayah Januari yang sudah terlihat tua itu.
“Opahh yeyyy!” ionpun langsung lari kedalam pelukan sang Kakek dan terus berceloteh tidak jelas.
“Opah, Omah mana?” kini posisi mereka sudah duduk di sofa dengan ion yang masih dalam pangkuan sang kakek.
__ADS_1
“Omahnya keluar dulu sebentar nanti juga kesini!” balas sang kakek.
“Oh iya, hampir lupa aku tuh, mainan barunya mana Opah, katanya Opah mau beli mainan baru buat ion!” ujar bocah laki-laki itu dengan meranjuk.
“Ada ko, Opah udah simpen di kamar ion, nanti ion bisa lihat sekarang Opah mau kangen-kangenan dulu sama ion!”
“Ok deh, tapi uangnya juga jangan lupa yah, soalnya ion tubuh banyak uang buat lamar Luna Opah, kalau nanti ion jual semua pesawat ion, trus ion mainnya apa dong!” lagi-lagi sang kakek menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sang cucu yang selalu ia rindukan.
“Iya nanti Opah kasih, tapi lamar Limanya kalau udah besar, udah sukses, sekarang mah ion belajar dulu yang rajin yah!”
“Iya Opah, kan ion minta uang itu buat ditabung, nanti kalau ion udah besar tlus tabungannya banyan ion mau ajak Luna nikah!”
“Mending sekarang ion ke kamar yah buka mainan barunya!” titah sang kakek yang kini terlihat pusing dengan penuturan sang cucu yang semakin melantur.
Januari tersenyum miris akan nasib yang menerpanya, anak yang seharusnya dia saksikan masa perkembangan dan pertumbuhannya dia malah tidak ada pada saat itu, bahkan ketika istrinya sedang mengandung yang seharusnya seorang suami mendampingi masa-masa awal kehamilan yang katanya cukup berat bagi sang istri, lalu ketika perjuangan sang istri melahirkan pun dia lewati masa-masa itu.
Januari ingin sekali berteriak dengan takdir yang membuatnya gila hampir lima tahun ini, entah apakah nanti ketika berhadapan secara langsung apakah sang istri mau memaafkannya sementara dosanya sudah terasa begitu besar.
Sudah hampir seminggu Januari terus memantau kegiatan istri dan juga anaknya dari jarak kejauhan, namun hari ini terlihat sang anak sedang menunggu jemputan istrinya, dia duduk dibangku taman yang berada didepan sekolah.
__ADS_1
Dengan berani dia menghampiri sang anak untuk bisa mengajaknya berbicara dan bisa melihat wajah sang anak dari dekat.
“Hai, sendirian yah!” tanya Januari yang mencoba akrab dengan sang anak
“Om buta atau apa, udah tau ion sedilian!” tukas anak itu yang dengan tatapan tidak sukanya.
“Maaf, kamu sedang menunggu jemputan yah,?” kini Januari mencoba untuk tetap tenang dihadapan sang anak agar dia tidak merasa risih akan kehadirannya.
“Ngak Om, lagi nunggu tukang sayul!” Januaripun merasa kaget dengan tingkah sang anak yang dirasa begitu sulit untuk ditebak.
“Maksudnya?” ucap Januari dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ihh udah tau nanya, yailah ion lagi nunggu jemputan, Om kenapa sih risih tau deket-deket, mau begal yah?” lagi-lagi Januari dibuat tercengang dengan ucapan sang anak yang menurutnya tidak seperti anak kebanyakan pada umumnya.
“Ngak ko, Om cuman tadi sedang lewat trus lihat kamu sendirian, emm cuman mau sapa ajah!” balas Januari
“Oh kirain mau begal, ion Ngak punya uang Om soalnya lagi tanggal tua!” Januari mengerutkan keningnya dengan perasaan tercengang, karena ucapan sang anak sudah seperti orang dewasa saja.
“Kamu ko tau tentang tanggal tua?” telisik Januari dengan penuh penasaran.
__ADS_1
“Tau lah orang Tante Tika kalau tanggal tua suka ngeluh ngak punya uang, Om juga pasti Ngak punya uang yah?, Soalnya kan ini tanggal tua, kalau ion sih tinggal minta sama Opa soalnya uangnya banyak !” Januari hanya bisa bernafas lirih ketika mendengar setiap ucapan yang disampaikan oleh sang anak.
“Om punya ko, banyak lagi! Yasudah om pergi dulu yah kapan-kapan kita ketemu lagi!” Dengan pelan Januari mengusap rambut Rion, egonya masih ingin terus bersama sang anak namun dia juga harus menepati janjinya yang hanya bisa mengawasi dari jauh saja.