Mantan Pacar

Mantan Pacar
50. Kasih sayang


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakan kemarin bahwa besok mereka akan kembali ke Jakarta dan menetap disana, kini Apri dan juga Januari tengah berada di sekolah sang anak yaitu Rion untuk mengurus kepindahannya.


Rion menunggu kedua orangtuanya yang masih berada di ruangan guru, sambil menunggu dia menyempatkan untuk melakukan salam perpisahan kepada Luna, dan juga Kevin.


"Luna nanti kalau kangen ion bakal telpon ko, jangan sedih yah" Rion mengusap air mata Luna, anak perempuan itu tengah menangis ketika mendengar Rion akan pergi ke tempah ayahnya bekerja dan tidak akan kembali lagi.


"Ion, tapi nanti kita ketemu lagi kan?" anak perempuan dengan bando pink dan juga rambut yang di kuncir kuda itu, menatap Rion dengan penuh kesedihan.


"Iya dong, kata Dady nanti kalau aku kangen sama Luna, aku bakalan kesini lagi" bocah perempuan itu mengangguk tersenyum.


"Janji yah" Luna menyodorkan kelingking kanannya, kemudian Rion mengaitkan kelingkingnya di kelingking Luna.


"ion janji Luna jangan sedih lagi yah!" Mereka berdua melepaskan perpisahan itu, meskipun masih anak-anak namun mereka mempunyai perasaan juga bukan? Sementara Kevin bocah yang selalu mengganggu Rion itu tengah menangis juga, Kevin wajahnya juga cukup tampan namun postur tubuhnya yang sedikit gemuk sehingga terlihat sangat lucu.


"Kepin juga jangan nangis, nanti kita ketemu lagi" Bocah laki-laki itu semakin mengeraskan tangisannya dan memeluk Rion.


"Nanti aku juga bakalan minta papah juga buat main ke tempat baru kamu, papah aku kan polisi" Rion mengangguk, meskipun mereka masih belum paham dengan sebuah perpisahan, bahkan kini umur mereka masih kecil untuk mengerti hal seperti ini.


"Rion!" Bocah itu membalikan badannya dan melihat kedua orangtuanya sudah berdiri di dekat mobil.


"ion pergi dulu yah Luna, Kepin dadah!" Rio melambaikan tangannya dan kemudian berlari menuju orangtuanya.


"Udah kan bicaranya sama temen-temennya?" Rion mengangguk ketika Dadynya bertanya, wajahnya sedikit murung dan juga ada jejak air mata di pipi anaknya itu.


Januari memangku Rio dan kemudian dia menyemangati anaknya itu, dia juga faham perasaan Rion yang sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya.


"Udah yah jangan nangis, habis ini kita jalan ke mall sama beli eskrim mau ngak" Rion mengusap airmata nya dan mengangguk semangat.


Itulah anak-anak semuanya akan terlupakan dengan sejalannya waktu, dan Januari yakin Rion akan gampang beradaptasi dengan suasana barunya nanti.


Keluarga itu pergi ke sebuah mall yang cukup besar, Rion sangat bersemangat ketika orangtuanya membawa ke tempat permainan, bahkan kini ayah dan anak itu tengah menikmati permainan yang ada di Timezone itu.


April hanya bisa memperhatikan suami dan anaknya dari jauh, kini dia tengah duduk di salah satu cafe yang berad dekat dengan wahana permainan, sehingga mempermudahkannya melihat dan mengawasi sang anak.

__ADS_1


"Dady sini, aku mau ke sana!" Rion berteriak dan menunjukan ruangan yang orang-orang sering sebut kolam bola, Januari mengikuti setiap keinginan anaknya, bahkan kini dia tersenyum melihat sang anak yang melupakan kesedihannya dan tertawa lepas.


Setelah cukup lama keduanya menikmati permainan, kini Januari mengisyaratkan sang anak untuk istirahat dan kembali menghampiri sang istri.


Rion termasuk anak yang patuh, dia menganggukkan kepalanya dan dia masuk kedalam gendongan sang dady.


"Mainnya udah puas hem?" Rion mengangguk ketika mendengar pertanyaan dari momynya, kini mereka menikmati makanan yang sudah tersaji, dan tentunya eskrim kesukaan Rion.


Semua orang melihat mereka seperti keluarga kecil yang harmonis dan menyenangkan, apalagi dengan sikap lucu dan lugunya Rion, membuat orang disekitarnya tersenyum akan kelucuan dan kepolosan sang anak.


**


Atika menatap indah cincin yang melingkari jari manisnya kini, hatinya selalu menghangat ketika kembali teringat kejadian semalam yang dimana Dewa pria kaku itu melamarnya.


"Udah napa di tatap terus!" Ujar Sean yang merasa kesal dengan sang kaka, karena dari tadi terus memperhatikan cincin yang ada di jarinya.


"Sirik ajah lo!" Atika mencebikkan bibirnya dan menatap kesal ke arah sang adik.


"Yee, ngapain gue sirik coba, lagian kalau gue mau mah banyak cewe yang ngantri cuman gue nya jah yang males!" Atika semakin kesal dengan tingkah adiknya itu yang kini merubah moodnya.


"Udah ah, dari pada bicara sama lo ngak mau kalah, mending gue makan makanan yang di bawa sama kaka ipar" Sean menyengir kuda ke arah Dewa dan mengambil makanan itu kemudian memakannya.


Kini mereka tengah menikmati makan bersama di dalam ruang rawat Sean, pasalnya Atika sengaja untuk makan bersama adiknya karena dia tidak tega bila harus membiarkan Sean man bersama.


"April sudah telpon kamu?" Atika menatap sang kekasih yang kini tengah melirik ke arahnya.


"Udah, tadi pagi, katanya mau kembali lagi ke jakarta, barang-barang aku juga udah di kemas jadi aku ngak harus ke Surabaya lagi" Dewa mengangguk, dia melanjutkan menyuapkan makannya lagi.


"Kaka beneran pulang selamanya ke rumah lagi?" Atika mengangguk ketika mendengar ucapan sang adik.


"Iya, lagian kan mbak April kembali lagi sama suaminya, jadi mbak ngak ada alasan untuk tinggal di Surabaya lagi"


"Syukurlah kalau gitu, eh ngomong-ngomong kalian kapan kawinnya?" Pertanyaan Sean membuat keduanya tersedak dan batuk.

__ADS_1


"Kenapa ada yang salah sama pertanyaan aku yah kak?" Sean sedikit panik apalagi melihat reaksi keduanya yang kaget dengan pertanyaanya.


"Enggak, secepatnya saya akan membawa orangtua saya ke sini" Atika hanya bisa merasakan pipinya yang mungkin kini sudah memerah.


"Baguslah, jadi aku ngak khawatir lagi sekarang kaka ku ini sudah ada yang jaga"


"Bukannya selama ini aku yah yang jaga kamu!" Sean terkekeh mendengar sindiran kakanya.


"Iya-iya, lagian sekarang ngak perlu jaga aku lagi, aku sudah besar, sekarang kaka fokus ajah sama masa depan kaka" Atika terharu mendengar ucapan adiknya, kini Sean memang sudah tumbuh menjadi sosok laki-laki dewasa, meskipun dulu dia sempat membenci dan menyalahkan anak itu di masalalu, namun kini justru sangat mencintai dan menyayangi adik satu-satunya, dan itu juga adalah alasan Atika bisa bertahan sampai titik ini.


Jika dulu Atika terlahir dari keluarga yang harmonis dan kasih sayang yang berlimpah, berbeda dengan Sean yang harus terlahir dari istri kedua ayahnya dan kematian sang ibu ketika melahirkannya, bahkan mungkin selama masa kecilnya kasih sayang dari ayahnya juga sangatlah kurang karena harus berbagi dengannya dan juga sang ibu.


Meskipun pada akhirnya keluarga mereka hancur berantakan, namun kini Atika bersyukur karena tuhan memberikannya sosok sang adik yang selalu menyayanginya meskipun sempat Sean memperlakukan sangat buruk.


****


...Januari ...



...April...



...Rion...



...Dewa...



...Atika ...

__ADS_1



__ADS_2