Mantan Pacar

Mantan Pacar
52. Bukan Akhir


__ADS_3

Kepindahannya ke Jakarta awalnya sedikit membuat Rion rindu akan suasana ketika dia Surabaya, namun sekarang dia mempunyai teman-teman baru an tentunya membuat bocah sedikit melupakan rasa rindu itu.


Sudah hampir tiga bulan keluarga kecil itu menetap kembali di Jakarta, hari-hari yang mereka lewati begitu indah dan terasa baik-baik saja, Rion yang ceria mampu membuat isi rumah itu seakan hidup kembali.


"Mom, kapan sih Rion punya adek? Adit adiknya udah dua tahu" Semenjak dua bulan lalu Rion mengerek meminta adik kepada momy untuk dan dadynya, terkadang April juga kewalahan menghadapi permintaan Rion.


"Sabar yah sayang, nanti juga kalau udah waktunya Rion punya adik ko, jadi sekarang Rion banyak-banyak berdoa yah, dan jangan sering-sering tidur bareng momy, dady" April mendelik ke arah sang suami yang tengah memberikan pengertian kepada Rion.


"Memangnya kenapa dady, aku ngak boleh tidur sama momy dady?" Ucap Rion yang polos


"Kan kalau mau jadi kaka Rion harus mandiri, apa-apa jangan terlalu mengandalkan momy, tidur sama mandinya harus bisa sendiri" Bocah itu mengangguk patuh.


"Jadi kalau aku, tidur sendiri dan mandi sendiri, bakalan cepet punya adik yah dad" Januari terkekeh dan mengiyakan ucapan anaknya, pasalnya bocah itu selalu saja mengganggu kebersamaannya dengan sang istri.


"Yaudah sekarang Rion makan dulu yah" April berusaha untuk mengalihkan perhatian anaknya, dan menyuapi Rion.


"Mom, aku makan sendiri kan aku mau jadi kaka" Januari dan April tersenyum melihat tingkah anaknya yang cepat tanggap itu.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam ini dengan canda tawa dan juga ucapan polos Rion, setelah kepulangannya ke Jakarta mereka memutuskan untuk tinggal di mansion orangtua Januari, karena mereka bilang dimasa tuanya sangat kesepian, untuk itu April juga tidak tega jika harus membiarkan mereka berdua kesepian, karena selama kembali ke Jakarta mereka berdua lah yang banyak mengurus Rion.


Bicara tentang Dewa dan Atika, keduanya telah melangsungkan pernikahan satu bulan yang lalu, awalnya April sedikit tak menyangka jika sepupu yang irit bicara itu menikahi gadis sebaik Atika, namun dia jua bersyukur karena mereka di pertemukan dan saling mencintai, Atika ibarat mentari yang memberikan kehangatan di tengah hujan salju, dia bisa mencairkan bongkahan es seperti Dewa.


Selepas makan malam keluarga kecil itu tengah menonton televisi dengan Rion yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya, oma dan opa Rion tengah pergi ke Singapura untuk menemui sahabat lama mereka, jadilah mansion besar ini hanya di tinggali oleh mereka bertiga dan beberapa pelayan.


"Mom, aku kangen papah Dewa sama Tan Tik" April yang sedang menyuapkan potongan buah ke mulut suaminya hanya bisa tersenyum ke arah Rion yang sejak kemarin merengek ingin bertemu dengan papah dan tantenya.


"Momy bilang kan, minggu depan sayang, papah Dewa lagi terbang sekarang, tante Tika nya juga lagi sibuk" Rion mencebikkan bibirnya, Dewa da Atika setelah menikah mereka di sibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, setelah berbulan madu selama seminggu, kini Dewa sibuk dengan jadwal terbang dan Atika yang sedang merintis usaha Cafenya, sedari dulu wanita itu sangat ingin sekali mempunyai bisnis di bidang makanan dan tentunya Dewa sebagai suami mendukung penuh dan membantu juga untuk pembukaan Cafenya minggu depan.


"Jangan gitu dong, minggu depankan kita ketemu sama papah Dewa dan tante Tika nya lama, jadi Rion bisa main" Rion mengangguk meskipun sedikit kesal, namun baik januari maupun April da akan memberikan pengertian penuh kepada Rion yang terkadang sering sekali mereka manjakan.


"Mau diwarnain apa pesawatnya captain?" Rion tertawa dan mengambil pensil warna berwarna biru muda.


"Biru, kan momy sudah warna biru" April tersenyum dan mengecup kepala anaknya dengan bahagia.


"Momy jadinya terharu Rion tahu warna kesukaan momy"

__ADS_1


"Iya dong, kan momy sering pake baju warna biru jadi Rion juga suka warna biru"


"Yaudah Rion warnai pesawatnya, dady mau bikin awannya" Januari dan Rion sangatlah kompak, anak dan ayah itu terlihat menikmati waktu bersama, degan April yang hanya bisa tersenyum menyaksikan keduanya.


April bersyukur keputusannya untuk memaafkan sang suami akhirnya berbuah manis, sekarang Rion bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya dan juga dia mendapatkan limpahan perhatian, karena pada dasarnya ayahlah yang selalu mengerti anak laki-lakinya. dan mungkin jika April masih saja egois dengan pendiriannya dan mengedepankan rasa sakit hatinya, maka yang akan di dapat adalah rasa sedih Rion karena tidak bisa merasakan kasih sayang Januari seperti sekarang.


Mereka sudah bahagia, meskipun mereka sadar ini hanyalah awal dan masalah juga cobaan kedepannya akan tetap berlanjut, namun sebagai manusia mereka hanya bisa berdoa dan berusaha, baik Januari maupun April keduanya banyak di pisahkan oleh masalah dan ada kemungkinan juga kebersamaan mereka sekarang terdapat banyak cobaan dan masalah.


April tersenyum melihat Rion yang tertidur dengan kepalanya di atas meja, masih dengan buku gambar dan juga pensil mewarnainya, Perlahan kedua orangtua itu menyaksikan wajah tampan dan polos anaknya, mereka terus menerus mengucap syukur karena di karuniai anak sepintar Rion.


"Aku pindahkan dulu yah" Januari menggendong anaknya dengan hati-hati takutnya dia membangunkan Rion yang sudah tertidur nyenyak, mereka memasuki kamar Rion yang bernuansa pesawat, bahkan banyak sekali koleksi pesawat mainan yang kini menjadi pajangan di kamar Rion.


Aril merapihkan tempat tidur, sementara Januari menidurkan Rion dengan pelan, laki-laki itu menarik selimut dan menutupi tubuh kecil anaknya, sedari tadi Januari hanay menatap anaknya dengan penuh bagia, bahkan kamar anaknya itu sudah di persiapkan jauh-jauh hari oleh kedua orangtuanya.


April dan Januari pergi dari kamar anaknya, kini mereka memasuki kamar dan bersiap juga untuk tidur, Januari memeluk istrinya dalam dekapannya, pelukan itu terasa nyama dan juga hangat, dulu ketika istrinya pergi meninggalkan dirinya seorang, januari bagaikan mayat hidup yang hanya bisa menatap setiap kenangan sang istri, kini mereka telah kembali bersama.


"Kenapa?" Ucap April dengan pelan melihat suaminya yang sedang melamun itu.

__ADS_1


"gak papa, hanya saja aku merasa sangat bahagia karena kita bisa kembali lagi bersama, apalagi dengan kehadiran Rion semuanya seakan terbayarkan, sekarang setelah pulang kerja aku jadi bersemangat untuk pulang dan menemui kalian, juga menghabiskan waktu bersama dan menikmati makan malam" April hanya mengeratkan pelukannya tanpa kamu membalas ucapan Januari, karena diapun merasakan hal yang sama.


__ADS_2