
Beberapa bulan sudah terlewati dengan begitu cepat, rencana bulan madu April dan juga Januari sudah di lakukan dua bulan kemudian setelah obrolan malam itu.
Kini ketiganya tegah melihat bayi mungil yang baru saja pagi ini terlahir, bayi yang berjenis laki-laki dan diberi nam Ardyan Dewandra, sedari tadi wajah Rion tak lepas dari bayi mungil yang tegah tertidur.
"Papah, kok adiknya kecil?" Semua orang yang berada di ruang rawat itu tersenyum mendengar perkataan Rion yang polos.
"Iya kan, baby nya masih kecil, Rion dulu juga kaya gini, nanti kalau sudah besar Rion bisa ajak main adiknya" Rion mengangguk dan menoel-noel pipi baby Ardyan.
Kebahagiaan terpancar dai Atika dan Dewa, mereka terus menerus memanjatkan syukur atas kelahiran bayi laki-laki mereka dengan sehat dan selamat, bahkan Dewa yang baru aja landing buru-buru ke rumah sakit ketika mendengar sang istri melahirkan.
Kepulangan dari bulan madu itupun membawa berkah tersendiri bagi April dan Januari, kini mereka tengah menanti anak kedua dan tak lain adik Rion, Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke lima, sehingga Januari memberikan perhatian yang ekstra karena dia ingin menebus kesalahannya karena ketika mengandung Rion dia tidak melakukan tugasnya sebagai suami yang siaga.
Minggu ini Dewa memang disibukan dengan jadwal penerbangan sehingga dia harus meninggalkan sang istri, untungnya saja kedua orangtunya yang berada di malam kini menemani istrinya, jadi dia merasa sedikit jika harus meninggalkan Atika ketika kerja.
"Dad, jadi nanti punya adiknya dua dong" Januari mengangguk, sementara Rion teriak kegirangan tak lupa juga dengan pesawat mainan kesayangannya yang tengah ia peluk, pesawat itu sudah menjadi teman dan juga sebagian hidup Rion, sehingga sehari saja bocah itu tidak memegang atau memainkan pesawatnya makan Rion akan merajuk.
__ADS_1
"Iya sayang, untuk itu Rion harus bisa jadi kaka yang baik, nanti Rion yang akan jaga adik-adik" Rion mengangguk ketika mendengar ucapan momynya, dia kan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga adik-adiknya.
Selama ini semua terlihat baik-baik saja dan juga bahagia, keluarga kecil Januari dan Dewa menemukan kebahagiaanya masing-masing, namun tanpa mereka sadari tidak selamanya hidup itu akan bahagia, ada kalanya sebuah hal besar atau masalah menghampiri mereka.
Keseharian Rion kini menjadi berwarna dia sangat sering mengunjungi rumah papahnya, untuk melihat bayi yang sangat menggemaskan, tak lupa juga Rion selalu memberikan hadiah berupa pesawat mainan koleksinya, Rion ingin sekali bisa bermain dengan bayi lucu itu.
"Tan Tik, baby nya kapan sih bisa lari, Rion mau ajak lomba lari nanti, sama terbangin pesawat" Atika tersenyum mengusap rambut hitam Rion dengan pelan.
"Nanti sayang masih lama, Rion ajak biacara dulu nanti kalau uda bisa jalan sama lari Rion bisa ajah baby Ardyan lomba lari" Bocah itu hanya bisa mengangguk dan kembali mengajak baby Ardyan berbicara dan menunjukan pesawat mainannya.
Rion juga tidak lupa mengenai momynya yang tengah mengandung, terkadang dia juga mengajak adiknya yang masih dalam kandungan itu berbicara dan bermain pesawat, Rion begitu bahagia karena penantiannya menjadi kaka sekarang sudah terkabul, dia akan mempunyai dua adik da itu membuat dia begitu semangat dan bahagia.
"Mom, kalau baby nya perempuan Rion mau buat pesawat yang warna pink, nanti Rion ajah adiknya main pesawat sama baby Ardyan" April hanya tersenyum mendengar penuturan sang anak yang begitu antusias mengenai adiknya, dia bersyukur kini Rion dapat menerima baby ardyan sebagai adiknya dan juga sebentar lagi Rion akan menjadi kaka dari dua adik.
"Kenapa sayang?" tanya Januari yang melihat istrinya tengah tersenyum.
__ADS_1
"Enggak, aku seneng Rion ceria kembali, apalagi sekarang dia akan mempunyai dua adik, jadi ia tidak bawel lagi menanyai perihal adik" Januari tersenyum, dia sangat bersyukur bisa memiliki kembali istri dan anaknya, apalagi kini dia akan menjadi dady dari dua anaknya.
"Yah, aku juga senang melihatnya, apalagi antusias Rion, aku bahagia karena sekarang kalian ada disisi aku lagi" Januari memeluk istrinya, sementara April hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan Januari.
Rion yang melihat adegan orangtuanya yang sedang berpelukan hanya acuh, dia bahkan lebih senang bermain dengan pesawat mainannya, bocah laki-laki itu seketika merindukan Luna, gadis yang menjadi temannya ketika di Surabaya dulu, namun dia lebih memilih kembali memainkan pesawatnya.
Sebelum pergi ke Jakarta dan meninggalkan Luna, dia sempat memberi gantungan pesawat yang menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke empat, dia mendapatkan itu dari papahnya, dan dengan senang hati dia memberikan itu kepada Luna, karena gadis itu terlihat sangat menyukai gantungan pesawat yang dia miliki.
Disudut lain terlihat seorang anak perempuan yang tengah menatap gantungan pesawat itu dengan tatapan sedih, dia begitu sangat merindukan orang yang memberikan gantungan ini, namun kini mereka sudah terpisah jauh, bahkan ion yang dulu janji akan menemuinya lagi kini sudah satu tahun lebih, gadis itu masih belum juga bertemu dengan anak laki-laki yang selalu dia rindukan senyum manisnya.
"Non, masuk yuk udah mau malem" gadis itu menatap pengasuhnya dengan tatapan yang sendu, dia mengangguk kemudian masuk kedalam rumah, dia juga menyimpan kembali gantungan kunci berbentuk pesawat itu kedalam sebuah kotak kecil yang berwarna merah muda.
Luna nama gadis itu berjalan ke ruang makan dan kini dia sudah duduk kemudian menyantap makanan yang sudah di tata di depan meja dengan perasaan sedih dan juga sendu, pengasuh yang melihat itu hanya bisa menarik nafasnya dalam, gadis itu sudah kehilangan keceriaannya, bahkan senyum yang biasanya dia berikan kini lenyap, tak akan lagi senyum atau tawa yang ada hanay kesedihan dan juga luka yang begitu menyakitkan.
Rion dan Luna, perasaan keduanya sudah sangat terikat sejak lama, tapi siapa sangka di kehidupan kedepannya mereka dipertemukan dalam situas yang rumit, mereka hanyalah sepasang insan yang saling merindukan sejak dulu, bahkan di masa depan kerinduan itu akan terbayarkan oleh pertemuan.
__ADS_1
Luna kecil yang malang, dia harus kehilangan sahabatnya atau lebih tepatnya lak-laki yang selalu mengutarakan rasa suka kepadanya bahkan banyak candaan yang membuat gadis itu selalu tersenyum, dia merindukan tawa dan juga senyum anak laki-laki yang menjadi kekuataannya.