
Sinar mentari mengusik tidur nyenyak ku aku melihat ke sisi kananku dan meraba apakah sang suami sudah pulang atau tidak, namun aku masih tidak merasakan adanya tubuh disampingku itu, kemudian aku terbangun dan melihat sekeliling dan sama sekali tidak menemukan siap-siap.
Aku hanya bernafas lirih kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan siap-siap pergi ke kantor. Selesai berdandan aku berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
“Bi, semalem mas Janu ngak pulang?!” tanyaku.
“Pulang non, cuman Pagi-pagi tuan udah berangkat lagi katanya ada urusan mendesak!” aku mengerutkan keningku menatap bibi dengan heran.
“Trus semalam pulang jam berapa?”
“Jam setengah sebelas Non!” aku tidak terlalu memikirkan Mas Janu mungkin memang benar ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor mengingat dia seorang direktur pasti pekerjaannya lebih berat dibandingkan dengan aku.
Semua berjalan seperti biasa aku kini sedang menyelesaikan beberapa laporan sisa semalam, dan hari ini ada rapat antar direksi yang harus lakukan. Hari ini memang cukup penat bagiku mungkin ini juga yang dirasakan Mas Janu karena pekerjaan yang begitu banyak apalagi perusahaan akan Launching produk baru jadi harus ekstra kerjanya.
Siang ini aku pergi menuju ruangan Mas Janu dan mengajaknya makan sing seperti biasa, langkahku terhenti kala sekertaris Mas Janu menyapaku.
“Siang Mbak!” tanya mawar sekertaris mas Janu yang umurnya masih muda.
“Siang juga, bapaknya adakan?” tanyaku kepada mawar.
“Maaf Bu, bapaknya barusan keluar katanya ada urusan, memangnya bapak tidak kasih tau ibu!” aku sedikit heran dengan sikap mas Janu yang berubah seketika.
Drama yang dari semalam aku dapatkan, pulang telat dan berangkat kerja pagi-pagi, kemudian sekarang laki-laki itu tidak ada diruangannya.
__ADS_1
“Ngak sih mungkin dia lupa yaudah saya duluan yah!” ucapku pergi meninggalkan mawar dan siap-siap makan siang karena perutku sudah berdemo untuk diisi makanan.
Jujur aku merasakan kejanggalan pad sikap Mas Janu hari ini, karena selama Menikah apapun dia pasti kasih tahu kepadaku ketika ada urusan atau acara diluar, aku hanya bisa berfikir positif Mungkin dia lupa atau urusannya penting sehingga dia buru-buru.
Sore ini rencananya aku pulang memakai taxi, karena aku juga takut mengganggu Mas Kau yang sepertinya sibuk sekali hari ini.
“Mau pulang Pril?” aku menoleh menatap kearah si pembicara.
“Iya mas Karen, cuman dari tadi belum ada taxi yang lewat!” balasku .
“Memang suamimu kemana?”
“Ada urusan, jadi saya rencananya pulang pake Taxi takut keburu malem!”
“Em. Boleh mas!” akhirnya akupulang dengan diantar Mas karen, dalam perjalanan kami hanya mengobrol ringan saja hingga mobil itu sudah sampai didepan pekarangan rumah.
“Terimakasih, saya duluan yah mas!” ucapku keluar dari mobil.
“Iya sama-sama saya duluan!” aku menatap kepergian mobil mas Karen kemudian berjalan masuk ke rumah namun, mataku sedikit heran melihat mobil mas Janu yang terparkir di garasi.
“Bagus, dianterin sama siapa kamu!” aku sedikit terkejut kala membuka pintu dan melihat mas jadi sedang berdiri tegak di ruang tamu.
“Mas Karen, tadi aku fikir mas masih ada kerjaan jadinya pulang mau pake taxi, tapj Ngak nemu yaudah bareng sama mas Karen!” jelasku.
__ADS_1
“Kenapa ngak telpon aku?, Aku bisa ko jemput kamu!” ucapnya dengan nada tegas.
“Mas, kamu kenapa sih semalem pulang larut, trus berangkat kerja pagi-pagi, pas tadi makan siang pun mas ngak ada dikantor, malahan yah aku udah telpon sama chat mas berkali-kali!” Akupun merasa jengah dengan sikap dia yang pencemburu itu.
“Kan mas kerja!” ucapnya tanpa rasa bersalah
“Iya kau tau mas kerja, makannya aku Ngak mau ganggu kerjaan mas ketika beberapa kali aku telpon ngak di jawab! Udah yah aku mau mandi capek!” akupun pergi meninggalkan Mas Janu yang kini masih terlihat marah.
Selepas mandi dan makan aku merebahkan tubuhku yang sangat letih, padahal biasanya pulang kerja tidak seletih ini, tapi akhir-akhir ini badanku terasa lelah bila mengerjakan sesuatu.
“Besok-besok kalau mau pulang telpon kasih tau aku, aku Ngak suka yah kamu dianterin sama bang karen, apalagi dia punya perasaan sama kamu!” jujur aku fikir permasalahan ini sudah kelar, namun laki-laki itu masih saja membahasnya.
“Sekarang aku tanya kemana saja kamu dari semalam sampai tadi siang?” tanyaku
“Aku kerja yang!” tukasnya.
“Biasanya kalau kamu mau ada urusan kamu selalu bilang ke aku kok sekarang ngak?”
“Kamu nuduh aku selingkuh yang?!” tanyanya dengan nada tegas dan tajam.
“Loh siap yang nuduh kamu selingkuh sih, aku cuman nanya atau emang bener kamu selingkuh?!” jawabku tak kalah tajam.
“Udah yah Mas aku capek mau tidur, kepalaku pusing!” akupun merebahkan tubuhku dengan penuh rasa lelah.
__ADS_1