Mantan Pacar

Mantan Pacar
33. Januari dan usahanya


__ADS_3

Pertemuan yang singkat dengan sosok Januari membuat kenangan dan rasa sakit itu muncul kembali, April merasa dadanya terhimpit dan sesak oleh rasa sakit.


Seseorang yang kehadirannya dia berusaha lupakan namun, kini hadir kembali dengan luka yang masih sepenuhnya belum sembuh.


Kini April tengah mengusap rambut Rion dengan lembutnya, satu tetes airmata itu lolos dan membasahi pipinya, ketakutan akan rasa sakit yang dia alami yang hingga kini belum bisa menjelaskan kepada sang anak tentang siapa papah kandungnya.


"Kenapa kamu datang lagi sih mas, bahkan selama lima tahun ini aku baik-baik saja bersama Rion!" April dengan Isak tangisnya, terus menerus menyalahkan Januari yang kembali dan menemuinya.


Paginya April terbangun dengan mata yang sedikit sembab, dengan cekatan dia membangun Rion dan menyuruhnya untuk mandi.


Setelah itu di mempersiapkan sarapan untuknya dan juga Rion, seperti setiap pagi yang biasa dia lewati, membuat sarapan kemudian mengantarkan sang anak ke sekolah.


Siangnya dia menjemput Rion dan membawanya ke toko bunga, namun kini saat dia menjemput Rion, matanya terbuka lebar jalan Rion berbicara dengan seorang lelaki yang sangat dia kenali.


Tubuhnya menegang bahkan laki-laki baru saja semalam menghampirinya dan sekarang dia juga mengusik sang anak.


"Momy!!" Teriak Rion yang kini mengalihkan pandangan Januari kearah istrinya.


Dengan canggung April hnaya terdiam ketika sang anak memeluknya.


"Mom, ini Om pesawat yang kemarin aku ceritain, ganteng kan? kaya ion!" Ucap Rion dengan begitu semangatnya memperkenalkan Januari ke pada sang ibu.


"Hai!" Sapa Januari dan kini tatapan April menajam ketika laki-laki itu menyapanya.


"Sayang masuk mobil dulu yah, momy mau bicara sama Om ini!" Rion mengangguk dan pergi kedalam mobil, sementara Januari hanya tersenyum miris ketika sang istri memperkenalkan dia sebagai orang asing kepada sang anak.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kamu sering bertemu diam-diam dengan Rion!" April mengucapkan kalimat itu dengan nada tajamnya


"Satu bulan, maaf sebenarnya aku ingin menemui kalian secara langsung, tapi setelah mendapatkan informasi dari detektif yang aku sewa, mamah melarangku untuk bertemu dengan kamu, jadinya aku hanya melihat kalian dari jauh!" Januari menjelaskan setiap katanya kepada April, rasa rindunya membucah dan ingin sekali memeluk sang istri namun lagi-lagi itu adalah sebuah ketidakmungkinan.


"Mulai sekarang jangan urusin aku dan Rion lagi!" Tukas April sedangkan Januari hanya bernafas lirih


"Tapi aku masih suami kamu, dan Rion juga anakku Pril, kamu jangan egois!" kesabaran Januaripun meledak, karena bagaimanapun mereka masih Keluarga dan pernikahannya masih sah di mata agama dan hukum.


"Baik kalau begitu, aku akan segera menyerahkan surat gugatan cerai jadi, stop ganggu kehidupan ku lagi!" Amarah April meledak, bahkan mungkin mereka sama-sama egois dalam hal ini, karena ketika amarah menguasai seseorang maka banyak hal yang mereka lakukan atas dasar tindakan tanpa pemikiran.


"Plis jangan egois, Rion masih membutuhkan sosok ayahnya, dia masih kecil, sudah cukup Lima tahun ini kamu hukum aku, Aku hanya ingin memperbaikinya lagi Pril!" Januari kini hanya bisa terisak dengan penuturan yang diberikan oleh April yang akan menggugat cerai dirinya.


"Memperbaiki? Setelah apa yang kamu lakukan dan sekarang kamu bilang ingin memperbaiki! Bahkan aku sudah memberikan kamu kesempatan saat itu, tapi kamu juga menyia-nyiakannya Mas, dan sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi!" Aprilpun meledakan amarahnya dan pergi meninggalkan Januari dengan tubuh yang melemah dengan ucapan April.


April mempercepat jalannya dan memasuki mobil, Rion yang tampak aneh dengan sikap Momynya tersebut hanya bisa menyergitkan keningnya.


"Momy kenapa, kok kaya marah?" April membuang nafasnya perlahan, dia mencoba tersenyum dan menutupi amarah juga kekesalannya.


"Momy ngak papa ko!" April mencoba tersenyum seperti semua baik-baik saja padahal dalam hatinya dia ingin meraung-raung dan menangis.


"Apa om itu nakal, tapi menurut aku Om itu baik, ganteng lagi, cuman agak ngeselin sih!" Ucap Rion yang santai dan memainkan mainan pesawatnya


"Momy ngak papa sayang!" Rionpun sepertinya tidak terlalu perduli dengan kondisi momynya didalam mobil tersebut, dia bahkan asik dengan dengan dunianya sendiri.


Sesampainya di toko bunga, Rion menghampiri Atika dan mengajaknya bermain, bahkan dia mengeluarkan banyak mainan pesawat koleksinya.

__ADS_1


"Rion, Momy kamu kenapa ko kaya beda dari biasanya tante lihat?" Tanya Atika yang sedikit mengintrogasi Rion.


"Ngak tau, tadi juga pas di tanya katanya ngak papa, biasalah momy kan suka ngambekan!" Rion dengan enteng dan santainya mengucapkan kalimat tersebut.


"Kamu ngak boleh gitu loh, nanti dikutuk jadi batu mau?" Semprot Atika yang terkadang kesal dengan ucapan polos sang keponakan.


"Huaaa, ion ngak mau batu tante, mau jadi Iron Man Ajah!" Rion merengek mendengar ucapan tantenya.


"Kalau ngak mau jadi batu makannya kamu harus sopan dan jadi anak yang baik!" Ucap Atika memberikan nasihat kepada Rion


"Iya tante aku janji bakal jadi anak yang baik, biar Luna makin sayang saya aku hehe!" Atika langsung mendelikan matanya dengan sempurna kala mendengar jawaban dari Rion yang membuatnya selalu kesal.


"Ihh kamu itu masih kecil, jangan sayang-sayangan kaya gitu, tugas kamu itu belajar yang rajin!" Atika sedikit geram namun dia juga tidak bisa marah terhadap anak kecil.


"Biarin Wlee, dari pada tante jomlo akut hahaha!" Rion mengejek sang tante dan tertawa lepas, dan Atika hanya bisa mengelus dadanya dengan pelan karena ucapan Rion memang ada benarnya juga.


"Awas yah kamu! Sini tante kejar nih!" Ucap Atika sementara Rion lari dengan penuh tawa serta mengejek Atika, pemandangan itu tak luput dari perhatian April, dia tertawa kecil melihat sang anak yang begitu bahagia.


Namun perasaan takut muncul kala dia mengingat lagi dengan kehadiran sang suami, yang mungkin akan terus mengusiknya lagi.


Dia tidak bisa membohongi dirinya jika selama ini juga terkadang merindukan sosok Januari, bahkan ketika Rion menanyakan sang ayah dia hanya bisa diam membisu dan sulit sekali untuk menjelaskannya.


Dia tidak tahu apa yang harus dia jelaskan kepada Rion, kala orangtunya ternyata terpisah dan mungkin takutnya akan memberikan efek buruk bagi sang anak, karena pada masa pertumbuhan ini dia sangat membutuhkan sosok orangtua yang lengkap terutama sang ayah, yang akan memberikan dia dorongan dan contoh bagi anak lelakinya.


"Rion Momy, harus gimana? Momy sayang sama kamu tapi rasa sakit Momy juga masih sangat besar dan suit untuk di sembuhkan, Ning harus gimana Rion?" Ucap April engan nada lirihnya

__ADS_1


__ADS_2