
April tersenyum melihat keakraban Dewa dan Atika ketika turun dari mobil serta Rion yang berada di gendongan Dewa.
Dari awal April memang ingin sekali mendekatkan Dewa dengan Atika, namun karena sifat dingin dan cuek seorang Dewa kadang membuat April yang sebagai sepupunya pun sedikit kesal.
"Rion nya kok tidur?" ucap April yang melihat Rion tertidur pulas di pelukan Dewa.
"Biasa habis dimanjain sama papahnya mbak, puas main sama makan tidurlah dia!" Atika membalas ucapan April dengan nada gemasnya melihat Rion yang begitu tampan meskipun sedang tertidur.
Dewa membawa Rion kedalam kamar dan menidurkannya, Rion nampak pulas sekali dalam tidurnya wajah polos dan menggemaskan itu yang selalu Dewa rindukan kala ia sedang bekerja.
"Mbak ko di tutup tokonya?" tanya Atika kepada April yang kini mereka sedang duduk di ruang tamu.
"Ngak papa lagian pesanan hari ini Ngak banyak jadi mbak tutup lebih awal!" Atika hanya bermonolog dan menganggukkan kepalanya.
"Wa, kamu beliin mainan baru lagi buat Rion?" Dewa yang kini akan ikut duduk pun sedikit tersentak mendengar ucapan April yang sedikit tidak suka, April tipikal ibu yang mengajarkan sang anak untuk mandiri dan berhemat, bukan karena April tidak punya uang, tetapi dia tidak ingin anaknya terlalu dimanja akan kemewahan.
"Iya, ngak banyak ko!" balas Dewa dengan cueknya.
"Wa, kan aku udah bilang.." belum sempat April menyelesaikan ucapannya Dewa terlebih dahulu menyelanya
"Udah lah jangan diperpanjang, aku kan Ngak setiap hari ketemu Rion, mainan segitu tidak akan membuatku miskin!" Balas Dewa yang membuat April sedikit kesal, Dewa itu bukan ayah dari anaknya namun April juga merasakan bagaimana kasih sayang Dewa yang begitu besar untuk Rion.
"Cihh, sombong!" Gerutu Atika yang mendengar penuturan dari Dewa.
"Saya bukan sombong, tapi itu faktanya!"Ucap Dewa dengan nada sombongnya.
"Udah-udah kalian selalu saja ribut, nanti jodoh baru tahu rasa!" April terkekeh mendengar pertengkaran kecil dari kedua orang dihadapannya itu.
"Mbak!"
"Pril!"
Teriak keduanya dengan kompak, April tertawa puas bahkan ia berharap kalau dugaannya itu memang benar.
"Tuh kan!, udahlah kalian itu sama-sama jomblo, Ngak ada salahnya kan buat nyoba berhubungan!" Ucap April yang kini menetralkan tertawanya.
"Ngak dia bukan tipeku!" Tukas Dewa dengan begitu dinginnya.
"Dihh emang situ tipe saya?" Atika pun menjawab dengan nada sedikit nyolot nya.
"Udah ah, mendingan kamu pulang Wa, kalau masih mau disini boleh cuman aku mau masak!" April beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur.
__ADS_1
"Aku bantuin yah mbak!" susul Atika yang merasa sedikit canggung kala di April meninggalkan dirinya dan Dewa berdua di ruang tamu.
Dewa sedikit mengangkat bibirnya, senyuman tipis ketika melihat tingkah Atika yang malu-malu itu, Atika memang bukan tipikal wanitanya, namun dia mampu membuat fikiran seorang Dewa terpaku padanya.
*****
"Aku ingin dengar laporan mu hari ini,!" Ucap seorang wanita itu dengan nada tegasnya.
"Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saham Wijaya Group sudah kita ambil sedikit demi sedikit, hampir dua bulan ini Januari tidak terlihat dikantor dan membuat celah itu semakin terbuka lebar, dan untuk hubungan Januari dengan istrinya, dia sudah bertemu dan berbicara langsung beberapa hari ini tapi sepertinya April tidak peduli akan hal itu!" Penjelasan dari sang anak buah membuat wanita itu tersenyum senang, tawa bahagia menyelimuti hatinya.
Selama lima tahun ini dia dengan susah payah membuat Wijaya Group hancur dan beberapa langkah lagi maka impiannya itu akan tercapai, dia ingin sekali melihat seorang Januari benar-benar gila dan dengan begitu dia bisa membalaskan dendamnya.
"Bagus tetap pantau mereka, terutama anak laki-laki Januari, kita bisa jadikan sebagai umpan suatu saat nanti!" Wanita itu tersenyum misterius.
"Baik, nyonya permisi!" Laki-laki bertubuh tegap dan tinggi itu keluar dari ruangan.
Setelah sedikit lama keheningan tercipta di dalam ruangan itu, meski sesekali ketukan jari terdengar.
"Well, well well, kita lihat seberapa lama kamu akan bertahan Januari, istri dan anakmu itu umpan yang pas dan sepertinya setelah ini kamu akan benar-benar hancur, ha haa haaa!" Wanita itu kembali tertawa dengan senyuman yang misterius.
Tangannya terkepal sementara itu hatinya penuh dengan kepuasan, yang selama bertahun-tahun ini dia pendam dan rasakan.
***
Beberapa hari ini ada masalah yang terjadi di perusahaannya mau tidak mau Januari harus pergi untuk sementara waktu. Namun dia sebelum pergi ke Jakarta dia ingin sekali melihat anak dan istrinya secara langsung.
Dengan memberanikan diri Januari mengetuk pintu rumah itu dengan perasaan was-was takut sang istri akan mengusirnya.
Pintu terbuka namun bukan sosok sang istri yang dia lihat tapi sosok laki-laki yang diucapkan oleh detektif itu sebagai sepupu istrinya.
"Mau apa anda kesini?" Januari menghela nafas kala laki-laki itu menyentak dengan tatapan dinginnya.
"Saya ingin bertemu anak dan istri saya!" Jawab Januari dengan begitu yakinnya.
Bughh
Satu pukulan mendarat di wajah Januari yang membuatnya meringis, Januari menatap kesal dan marah tapi dia urungkan untuk membalas pukulan itu karena takut nanti April semakin membencinya.
"Pergi!" Seru Dewa dengan tegasnya.
"Saya hanya ingin bertemu dengan anak dan istri saya hanya sebentar!" Januari masih tidak mau pergi, rasa rindunya teramat besar akan sang istri.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya April yang kini tatapannya tertuju kepada dua lelaki dihadapannya itu.
"Pril aku mau ketemu kamu sama Rion!" Seru Januari dengan memelasnya.
"Mau apa lagi sih mas, Rion Ngak ada dia sudah tidur!" Jawab April dengan begitu kesalnya.
"Lebih baik anda pergi sekarang juga!" Dewa seperti merasa habis akan kesabarannya, hingga dia berniat akan memukuli Januari lagi namun dihentikan oleh April.
"Wa, udah jangan bikin keributan aku Ngak mau nanti Rion bangun! Kamu kedalam dulu aku mau bicara sebentar!" Dewa sedikit tidak terima dengan ucapan April, namun dia juga tidak bisa terus-terusan disini karena sepertinya mereka berdua akan membicarakan hal serius.
Sepeninggal Dewa, kini kedua manusia itu masih berdiri di teras depan rumah, April melihat luka lebam yang ada di wajah Januari itu dengan sedikit kesal.
"To the poin ajah!" Ucap April dengan dinginnya.
"Di kantor sedang ada masalah, aku akan pergi ke Jakarta cukup lama untuk menyelesaikan masalah itu!" Jelas Januari dengan tatapan tulusnya.
"Lalu hubungannya dengan semua ini apa?" Tanya April
"Aku... maksudnya kita pasti tidak akan bertemu dalam waktu dekat jadi aku mau lihat kamu sama Rion sebelum aku pergi!" April menghela nafasnya dengan sesak.
"Selama lima tahun ini aku dan Rion tidak kenapa-kenapa kan bahkan tanpa kamu! Jadi kalau mau pergi yah tinggal pergi!" Ucap April dengan nada kesalnya.
"Aku tau, tapi aku sebenarnya masih rindu dengan kalian untuk itu izinkan aku bertemu dengan Rion, setelah masalah selesai aku akan secepatnya kembali!" Januari menjawab dengan lugasnya dan menunggu jawaban dari April apakah di memperbolehkan untuk bertemu sang anak atau tidak.
"Hanya sebentar, dan jangan samapi Rion terbangun!" Januari mengangguk dengan bersemangat, laki-laki tersenyum bahagia mendengar jawaban sang istri.
Januari masuk kedalam rumah sederhana itu, terlihat di ruang tamu Dewa dudindengan tatapan dinginnya, sementara itu Januari masih mengekori April yang membawanya kedalam kamar sang anak.
Januari melihat Rion tertidur dengan begitu nyenyak dan damainya, perlahan Januari mendekati Rion dan mengelus rambutnya secara perlahan.
"Daddy pasti akan rindu sekali sama kamu, tapi Dady janji setelah urusan selesai Dady akan kembali lagi sayang!" Ucap Januari dengan lirih.
April yang melihat itupun matanya berkaca-kaca, hatinya begitu sakit melihat ayah dan anak itu yang tidak bisa bersama-sama.
Kini Januari menatap sang istri yang berada dihadapannya, wanita yang selalu dia rindukan di setiap harinya itu.
"Aku pergi jaga diri kamu baik-baik, aku akan tetap memantau kalian dari jauh, dan maaf untuk dosa-dosaku dimasa lalu!" April hanya tertunduk mendengar penuturan Januari, matanya sudah ingin menumpahkan air yang membendung dimatanya, namun dia menahan agar laki-laki itu tidak melihatnya menangis.
"Pergilah!" Ucap April dengan pelan.
Januaripun pergi dari ruangan itu, meninggalkan April yang menahan sesak di dadanya dan juga Rion yang seperti tidak terganggu akan tidurnya.
__ADS_1