
Tok tok tok
Bunyi ketukan yang ku dengar mengalihkan perhatianku dari berkas-berkas yang lumayan banyak itu.
“Kenapa Tik?” tanyaku yang sudah yakin itu Atika .
“Maaf bu, pak Januari memanggil ibu untuk keruanganya!” mataku dengan cepat menatap Atika dengan penuh rasa penasaran.
“memangnya kenapa sampai dia memanggil saya!” ucapku dengan kesal.
“Kurang tau bu, bapak cuman bilang itu saja”
“Iya saya kesana sekarang” ucapku berdiri kemudian keluar ruangan untuk bertemu dengan direktur baru itu.
Jujur hatiku sangat campur aduk dengan semua ini, pasti ada yang ingin dia bicarakan namun bukan menyangkut pekerjaan.
“Ibu, sudah ditunggu didalam oleh pak Januari!” ucap sekretaris itu hingga membuat Lamunanku buyar.
Aku berjalan dan membuka pintu dengan malasnya.
“Ah kamu sudah datang? Silakan duduk!”
“Terimakasih bapak Januari, kalau boleh saya tau untuk apa bapak ingin bertemu dengan saya?”
__ADS_1
Aku duduk di sofa yang disediakan khusus untuk tamu, sebenarnya ruangan ini aku belum cukup hafal karena ketika jabatan sebelumnya oleh pak Wahyu, bisa dihitung jari aku masuk ruangan ini.
“Bagaimana kabar kamu?” aku mendecih dengan kesal, apa yng aku fikirkan tadi memang benar dia hanya menyuruh datang karena alasan pribadi.
“Baik, bisa To the poin saja pak, karena pekerjaan saya banyak dan sepertinya pekerjaan bapak juga banyak!”
“kamu masih benci sama aku Pril?”
“Maaf pak disini area saya untuk masih bekerja, kalau bapak manggil saya untuk membahas masalah pribadi saya permisi!” ucapku mulai berdiri.
“Dengarkan aku dulu Pril!” tangan itu mencegahku, bahkan sentuhannya masih terasa hangat seperti dulu. Aku kembali duduk dan menatap laki-laki itu dengan malas.
“Apa lagi?!” Tanyaku sedikit geram
“Sudahlah itu sudah lama terjadi lagian saya juga sudah melupakannya?”
“aku tau kamu masih benci sama aku dan kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu!”
“Tau apa anda tentang hidup saya!! Bahkan selama lima tahun ini saya baik-baik saja, kenapa anda datang lagi dan seakan-akan disini anda yang tersakiti!!” aku sangat murka dengan pernyataan yang laki-laki brengsek itu ucapkan.
“Maafkan aku Pril, aku bisa jelaskan dan aku mohon sama kamu untuk sekali saja percaya sama aku!”
“saya sudah bilang kan hal yang anda lakukan dulu kepada saya, anda telah melanggar dua hal yang paling saya benci. Dan andapun sudah tau dengan konsekuensinya, jadi saya permisi!”
__ADS_1
Aku pergi dengan tergesa-gesa menghiraukan panggilan dari laki-laki itu.
“Maafkan aku prill” ucapnya lirih dan masih cukup terdengar oleh telingaku.
“Pril mau Ngak jadi pacar gue?”
“Emm Gue..”
“Pril, gue sayang sama loe gue janji Ngak akan nyakitin loe!”
“Janu... Emm aku mau!”
“Bener, makasih”
“Arghhhhhhhhhh” aku berteriak dengan kencangnya, banyak sekali bayangan yang muncul ketika Januari menyatakan perasaannya, bayangan ketika Januari memelukku dengan erat karena menerima perasaannya
“Kenapa? Kenapa kamu datang lagi? Arggg!!!” aku berteriak lagi meluapkan segala rasa sakit dan kecewa yang aku dapat.
Aku melihat ke sekeliling ternyata Sekarang aku sudah berada di taman belakang kantor, bahkan akupun tidak menyadari sudah sampai disini.
Dan tanpa sepengetahuanku, diujung taman ada seorang laki-laki yang kini melihatku dengan tatapan bersalahnya, dia juga sama-sama merasakan sakit. Namun rasa sakitnya tidak sebesar apa yang di berikan kepada gadis yang dia cintainya itu.
“Maafkan aku sayang” ucapan lirih laki-laki itu dengan penuh penyesalan.
__ADS_1