Mantan Pacar

Mantan Pacar
48. Pelukan


__ADS_3

Pagi tadi Atika terbangun di kamar tamu tepatnya dalam keadaan yang masih dalam dekapan Dewa, pipinya memanas ketika mengingat lagi kejadian semalam.


Sedari tadi Atika terus tersenyum setiap kali mengingat moment yang tidak akan dia lupakan, bahkan pernyataan cinta laki-laki itu kepadanya masih memutari pikiran dan membuat hatinya selalu menghangat.


"Kak kenapa sih dari tadi senyum-senyum terus kaya habi di tembak ajah" Atika gelagapan ketika mendengar ucapan sang adik dan langsung membekap mulutnya, Atika bernafas lega karena Dewa sedang di luar menerima telpon dari temannya.


"Sstt, bisa diem ngak sih kamu itu, kalau orang-orang denger kamu bisa buat malu kaka tau!"


"Berarti bener yah, kaka habis ditembak? sama kak Dewa, Dewa itu yah?" Sean kini menjawab perkataan itu sembari membisik ke arah telinga sang kaka"


Sementara Atika hanya bisa tersenyum dan enggan menjawab perkataan sang adik karena malu, Dewa terlihat kembali memasuki kamar rawat kemudian wanita itu membenarkan sikapnya agar tidak terlihat salah tingkah.


"Sean, saya akan bawa kaka kamu pergi, kamu tidak papa di sini sendiri?" Atika sedikit terkejut dengan ucapan yang di lontarkan oleh Dewa.


"Silahkan, lagian aku juga udah membaik, jadi kalau mau kencan silahkan, bukan begitu calon kaka ipar?" pipi atika memanas mendengar jawaban sang adik, bahkan dia juga menahan agar tidak tertawa.


"Ishhh, apa sih!" Atika berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol detak jantungnya yang sudah berdebar tidak karuan.


Sementara Dewa hanya terkekeh melihat interaksi kaka beradik di hadapannya itu, kemudian mereka pergi dari Rumah Sakit itu dan memasuki mobil.


"Mas, kita mau kemana sih?" ujar atika yang sangat penasaran dengan tempat yang akan dia tuju.


"Suatu tempat, kamu akan tahu juga nanti" wanita itu hanya bisa mengikuti perkataan laki-laki di hadapannya itu.


Kini mobil melaju melewati jalanan tol, wajah Atika sangat terheran-heran karena ini sudah keluar dari wilayah Jakarta, namun dia enggan untuk terus melayangkan pertanyaan kepada Dewa.


Sampai Akhirnya mobil itu sampai di sebuah Vila, didaerah Bogor dengan keadaan yang asri dan juga penuh di kelilingi dengan pepohonan


Ketika keluar dari mobil Atika menatap takjub dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya, suasana di tempat yang dia datangi itu begitu sejuk dan nyaman.

__ADS_1


"ini Vila siapa mas?" Ujar Atika dan kini keduanya tengah masuk ke dalam sebuah Vila yang lumayan besar.


"Villa saya" ucap Dewa dengan singkat, sementara Atika terkejut dengan jawaban singkat nya, pasalnya dia tidak yakin jika memang Vila ini milik laki-laki itu.


"Yang bener mas?" tanya Atika yang kini menyakinkan lagi dengan jawaban yang dia daan, sementara laki-laki di hadapannya itu mengangguk.


Atika menatap takjub dengan desain interior di dalam Vila ini yang terlihat sederhana tetapi sangatlah mewah, dan dia juga tidak bisa membayangkan harga Vila ini sendiri.


"Kita akan menginap di sini!" Atika yang sedang melihat-lihat pun terkejut, karena dia tidak berpikiran akan menginap apa lagi disini hanya ada kita berdua.


"Jangan khawatir saya sudah siapkan semua keperluan kita selama menginap" Dewa merengkuh tubuh gadisnya itu dengan erat, dia tahu bahwa Atika terkejut dan juga kaget dengan apa yang tenga dia lakukan, namun dia juga tidak ingin menyia-nyiakan liburannya kali ini.


"Mas, memangnya ngak kerja, bukannya mas bilang ke Jakarta itu ada pekerjaan?"


"Maskapai memberikan saya libur seminggu, lagian pekerjaan saya di Jakarta juga untuk ini" Atika menyergitkan keningnya.


"maksudnya apa sih mas, aku ngak faham?"


**


Setelah menjemput Rion dari sekolahnya, kini keluarga kecil itu tengah menikmati kebersamaanya di toko bungan, April tersenyum melihat suami dan anaknya yang tengah bermain, hatinya terasa menghangat dan semoga saja ini awal yang baik untuk seterusnya.


"Dady geli tau.. haha haha" Rion tertawa lepas ketika ayahnya menggelitik perutnya, kini keduanya tengah bermain pesawat dan juga mobil mainan yang baru saja di belinya.


"Rion katanya mau kan ketempat Dady bekerja, trus naik pesawat?" Bocah itu mengangguk antusias


"Mau Dady!"


"Kalau gitu Rion harus tinggal di sana dengan waktu yang lama ngak papa?" bocah itu kemudian mengangguk lagi.

__ADS_1


"Emm.. Rion juga harus pindah rumah sama sekolah ngak papa kan?" Rion tampak sedang berpikir.


"Pindahnya lama Dady?"


"Iya sayang"


"Trus kalau aku ngan bisa ketemu sama Luna dan temen-temen dong!" Januari menghela nafasnya dan berusaha memberikan pengertian kepada sang anak.


"Iya sayang, tapi nanti di sana juga Rion bakal punya temen baru ko"


"Kalau aku kangen Luna gimana?"


"Kalau Rion kangen Luna, nanti kita vidio call, atau ke sini lagi untuk liburan" Januari menatap ke arah sang istri yang tengah memberikan pengertian kepada Rion.


Bocah itu hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang di katakan oleh orangtuanya, sementara April dan Januari selaku orang tua hanya bisa memberikan pengertian kepada Rion, karena bagaimanapun secepatnya mereka akan kembali ke Jakarta.


April sudah memberikan keputusan jika dia kan kembali da memaafkan suaminya, karena dia juga tidak bisa egois sementara itu dia juga ingin melihat usaha suaminya dalam menyakini dirinya.


"Yang kita akan pergi lusa, aku sudah memberitahukan ini juga ke mamah sama papah, dan untuk semua keperluan kalian sudah aku siapkan" April hanya mengangguk ketika mendengar ucapan suaminya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan beri tahu Atika dan Dewa nanti, jadi dia ngak harus kembali lagi ke sini"


"Besok kita ke sekolah Rion untuk kepindahannya, sementara toko aku sudah menyerahkan ke orang kepercayaan ku besok mereka mulai kerja, dan kamu tidak usah repot-repot membereskan barang-barang aku sudah menyewa beberapa pelayan juga, aku ingin besok menikmati kebersamaan kita bertiga dan menghabiskan waktu sebelum pergi ke Jakarta"


"Baiklah kalau begitu, besok aku juga ingin tahu siapa yang akan mengurus toko ini" Januari mengangguk dan memeluk sang istri.


"Ihh, momy sama day ko ngak ajak aku kalau mau pelukan!" Januari terkekeh melihat anaknya yang merajuk karena tidak di peluk.


"Kalau begitu Rion nya kesini biar dady dan momy peluk" Januari merentangkan kedua tangannya, kemudian bocah itu berlari dan memeluk erat sang ayah.

__ADS_1


April melihat itu hanya bisa tersenyum kemudian mereka bertiga tertawa lepas dalam dekapan pelukan yang terasa hangat dan mungkin ini adalah moment yang mereka impikan sedari dulu, terutama Januari.


__ADS_2