
Proses operasi yang memakan beberapa jam itu akhirnya berjalan dengan lancar, April melahirkan seorang bayi berjenis perempuan, namun karena kelahiran yang masih belum waktunya itu membuat sang bayi harus di rawat instensif.
Begitupun dengan April yang masih belum sadarkan diri, sementara Rion keadaanya berangsur membaik meski sama belum juga bangun dari tidurnya, Januari memutuskan untuk merawat anak dan juga istrinya dalam satu ruangan, agar nantinya dia tidak merasa kerepotan harus bulak balik ke dua kamar rawat, ditambah lagi bayinya yang masih dalam masa perawatan.
Januari bernafas lega ketika anak dan istrinya bisa di selamatkan kini dia hanya menunggu Rion dan juga April membuka matanya, bahkan sudah seharian Januari memilih duduk di samping ranjang anak dan istrinya tanpa mau pergi.
"Janu, sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu, biar mamah jaga mereka bertiga, lagian sebentar lagi Dewa dan istrinya juga kesini" Ucap nyonya amelia, namun Januari masih tidak ingin meninggalkan anak dan juga istrinya, dia masih ingin tetap melihat dan duduk di samping keduanya.
"Ngak mah, aku disini sampai mereka bangun" Amelia sebagai ibu juga merasakan bagaimana kesedihan sang anak, bahkan dia juga merasa sama terlukanya melihat cucu dan menantunya masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Eungh" Lenguhan terdengar dari ranjang Rion, dengan cepat Januari menghampiri sang anak, degan perlahan Rion membuka matanya, dia melihat Dady dan Omanya yang dengan rat wajah yang khawatir.
"Kamu panggil dulu dokter sana" Januari mengangguk kini dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang anak.
"Keadaannya mulai stabil, namun karena keretakan tulang kakinya, anak bapak sementara harus menggunakan kursi roda terlebih dahulu" Januari mendesah sedih, namun dia juga sedikit lega ketika kondisi anaknya sudah membaik.
"Dady.." Ucap lirih Rion, Januari langsung mendekat ke arah sang anak dan menggenggam tangannya.
"Iya sayang ini dady, kamu jangan takut yah" Bocah laki-laki itu nampak ketakutan apalagi kilasan ketika kecelakaan itu terngiang di kepalanya.
"Momy.. adik.." Januari menenangkan sang anak yang sedari tadi menanyakan ibu dan adiknya.
__ADS_1
"Itu momy, momynya lagi tidur, adik juga masih tidur nanti kita lihat kesana kalau Rion sudah membaik yah sayang" Rion mengangguk dan melihat kesamping kanannya ada sang ibu yang tengah berbaring.
Kemudian Rion sadar dengan sebelah matanya yang ditutupi oleh perban "Dady ko, mata ion ditutup sebelah?"
Januari mendengar itu sedikit terenyuh dia menahan agar tidak menangis, karena anak dan istrinya membutuhkan dirinya yang kuat bukan lemah.
"Iya, kan mata Rion lagi sakit, nanti kalau udah sembuh dibuka lagi seperti biasa" Rion lagi-lagi hanya mengangguk patuh, namun tanpa dia sadari dampak dari kecelakaan ini merenggut semua mimpinya.
Januari menatap sedih ke arah sang anak yang selalu ceria, kini dia merasakan luka dan sakit yang mungkin akan mempengaruhi dirinya setelah kesembuhannya karena bayangan kecelakaan itu akan membuatnya selalu terbayang.
Dia merasa gagal menjadi suami sekaligus ayah, karena selama bertahun-tahun istri dan anaknya hidup tanpa dia mereka terlihat baik-baik saja, namun setelah kembali kepadanya banyak kejadian dari mulai penculikan hingga kecelakaan.
Setelah menyuapi Rion dan memberikannya obat, bocah itu hanya terdiam tak seperti sebelumnya yang selalu antusias, ketika tadi Dewa dan Atika datang dia melihat raut wajah Rion yang nampak beda dari biasanya dan itu membuat semua orang sangat khawatir.
Tak lama dari sadarnya Rion, kini April pun menyusul da kembali sadar, mekipun kondisinya masih memerlukan perawatan, Januari merasa bahagia.
"Rion ngan papa sayang, dia lagi tidur, baby kita juga lagi di rawat, kamu jangan sedih lagi yah" Januari berusaha menghibur istrinya yang menatap sendu dirinya.
Wanita itu hanya bisa mengangguk, dia melihat ke arah Rion yang tengah tertidur, hatinya sakit ketika dia mengulang lagi bayangan kecelakaan yang mengerikan, dia takut itu akan menjadi trauma nantinya bagi sang anak.
Dia bersyukur karena memiliki suami yang kuat da siaga, dia tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini adalah musibah dan dia yakin mereka bisa melewati ini semua.
__ADS_1
"Makasih, kamu suami dan ayah yang hebat" Januari tertegun mendengar ucapan sang istri, dia bukan suami atau ayah yang hebat namun nyatanya dia gagal menjaga keluarga kecilnya.
"Tidak sayang aku suami dan ayah yang gagal, aku tak mampu melindungi kalian" Januari terisak, dia meluapkan segala perasaan sedih marahnya lewat tangisan.
"No, kamu sudah melakukan sebaik mungkin, ini musibah kita tidak akan tahu musibah datangnya kapan kan, jangan menyalahkan diri kamu" April mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Januari, dia memberikan kekuatan dan juga semangat untuk sang suami.
"Jadi putri kita akan diberikan nama apa? kamu kan dady nya" April mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.
"Entahlah, aku bingung tapi aku ingin memanggilnya Queen, nama itu begitu saja terlintas di kepalaku" April tersenyum mendengar jawaban dari sang suami.
"Baiklah kita beri nama putri kita Queen, dan Rion pasti senang mendengarnya" Mereka berdua tersenyum, Januari mengecup kening sang istri dia merasa sangat beruntung mendapatkan istri sebaik April.
"Aku setuju, sekarang kita hanya menunggu kondisi kalian membaik, setelah itu kita akan kembali seperti dulu lagi"April mengangguk, mereka harus kuat menghadapi setiap masalah yang menerpa keluarga kecilnya.
Setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing hanya saja mereka mampu menghadapi masalah itu atau tidak.
Di luar ruangan rawat terdapat Nyonya Amelia dan suaminya yang kini juga saling menguatkan, mereka begitu sakit melihat anak menantu dan cucunya mengalami hal seperti ini, apa lagi Atmaja dia rasanya tidak bisa memaafkan dirinya karena gagal juga dalam menjaga mereka.
Orang yang berada di balik kecelakaan itu adalah rekan kerjanya yang sangat dia percayai, bahkan awalnya dia merasa tidak percaya namu terkadang anjing yang paling setia pun bisa menggigit tuannya, dan itu juga berlaku bagi mereka yang mengatakan setia namun sebenarnya licik dan juga pengkhianat
Rasanya menyakitkan apalagi melihat cucunya yang harus memakai kursi roda sementara kemudian cucunya satu lagi masih dalam perawatan, kesedihan terus menghantui mereka namun keduanya juga tidak larut terus menerus dalam kesedihan itu karena memang ini hanyalah musibah dan kita tidak akan tahu datangnya musibah itu.
__ADS_1
Yang harus mereka lakukan adalah berlapang dada dan memberikan semangat kepada anak cucu mereka,