Mantan Pacar

Mantan Pacar
45. Kecemburuan Dewa


__ADS_3

Setelah kurang lebih tiga hari Januari di rawat, kini laki-laki itu ubah boleh pulang hanya saja tangan kanannya masih belum bisa di gunakan sepenuhnya.


"Dady tinggalnya sama kita kan mom?" Ujar Rion yang kini menatap April dengan penuh harap.


"Tentu" April sedikit canggung dan juga bingung, namun bagaimanapun Januari masih suami sahnya dan berkewajiban menjaga juga merawatnya.


"Yeyyyyy.... Nanti aku mau main sama Dady, trus kita pergi piknik!" Rion hanyalah anak kecil pada umumnya dia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada kedua orangtuanya, namun sebisa mungkin April dan Januari memberikan pengertian dan juga kasih sayang yang berlimpah kepadanya.


Di perjalanan pulang April hanya bisa tersenyum kecil dan terus memperhatikan jalanan karena saat ini posisinya sedang menyetir mobil, sementara suami dan anaknya terus saja berceloteh gembira hingga membuat Apri tersenyum dengan tingkah ke duanya.


Setelah sampai di rumah, Januari kini sedang mengistirahatkan tubuhnya di kamar April, sedangkan Rion menemaninya dengan memainkan pesawat dan mobil mainannya.


April menghampiri keduanya dengan membawa makanan dan juga obat untuk Januari, Anak laki-lakinya terlihat sangat bahagia bahkan Rion nampak sama sekali seperti tidak terjadi sesuatu padanya beberapa hari lalu.


"Rion, makan dulu yah habis itu main lagi!" April menyodorkan sepiring nasi dan juga ayam goreng kesukaannya.


"Mom, dady juga makan?" tanya Rion yang kini melihat ibunya yang juga menyuapi sang dady.


"Iya sayang kan dady mau minum obat" balas April.


Dengan perlahan April menyuapi keduanya, tangan kanan suaminya masih belum pulih jadinya segala keperluannya dia yang siapkan, seperti makan pun April menyuapinya bersamaan dengan sang an Rion.


"Makanan yang kamu buat selalu enak, bahkan rasanya aku kangen sama masakan kamu" ujar januari.


"Bukannya dulu kamu sering makan di luar ketimbang makan masakan aku" balas April dengan sedikit menyindir sang suami.


"ngak sering ko, kan aku seringnya makan masakan kamu!"


"Iya-iya, lagian kan makan di luarnya bareng wanita lain bukan sama aku!"


"Yang, udah dong, aku jadi terus-terusan merasa bersalah sama kamu, udah yah marahnya aku minta maaf, selama ini aku sudah sangat menderita dengan kehilangan kalian, dan kali ini aku ingin memperbaikinya dan akan aku pastikan aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi!" dengan pelan Januari meraih tangan sang istri dan menciumnya, sementara April april saja diam, dengan pikiran yang masih bercabang antara memaafkan suaminya atau tidak.


"Udah ah, habisin makanannya trus minum obatnya!" April berusaha menghindar, jujur hatinya masih ragu untuk memaafkan sang suami.


Januari hanay bisa menghela nafasnya, karena ia juga tidak bisa memaksa istrinya untuk memaafkan kesalahan terbesarnya, April masih membutuhkan waktu dan berapapun waktu yang istrinya butuhkan maka Januari akan setia menunggunya.


Setelah menyuapi makan anak dan juga suaminya, kini April membersihkan piring-piring kotor dan juga beberapa perabotan lainnya.


April menatap heran Atika yang menghampirinya dengan sedikit berlari dan juga nafas wanita itu sedikit tersengal-senggal.


"Kamu kenapa tik?" tanya April


"Mbak aku izin pulang ke Jakarta yah, tadi polisi nelpon aku dia bilang Sean masuk Rumah sakit!" Atika mengatakan itu dengan raut wajah khawatir dan juga sedih.


"Astaga, trus sekarang bagaimana?"

__ADS_1


"Aku masih belum tahu mbak, aku pulang dulu yah mbak"


"Iya ngak papa lagian disini juga ada mas Januari, kamu udah mesen tiket pesawatnya?'


"Udah mbak, aku ngambil penerbangan awal"


"yaudah kalau gitu kamu siap-siap mbak anatar ke bandara"


"ngak papa mbak, aku naik taksi ajah lagian Rion sama pak Januari lebih membutuhkan mbak, aku pergi serang karena penerbangannya satu jam lagi"


"Yasudah kalau gitu, mbak doain semoga Sean baik-baik ajah"


Atika mengangguk dan pergi dari rumah itu dengan taksi, kini dia tengah berada di bandara dan menunggu pemberangkatannya, hatinya sudah sangat cemas bahkan kini dengan sebisanya dia menahan agar tidak menangis.


**


"Captain, saya duluan yah sampai jumpa minggu depan" ujar beberapa pramugari, sementara laki-laki itu hanya tersenyum.


Setelah jadwal yang padat selama tiga hari ini, akhirnya dia bisa mendapatkan libur selam seminggu dan itu membuatnya bisa menghabiskan waktu bersama sang keponakan.


Tatapan laki-laki itu kini menangkap seluet seorang wanita yang sangat dia kenali,dengan pelan dia berjalan mendekati wanita itu yang nampak kacau.


"Tik, ngapain kamu disini?"


"Mas Dewa, emmm aku mau ke Jakarta" Laki-aki itu Dewa, setengah jam tadi dia barus mendarat setelah menempuh perjalan jauh yang cukup melelahkan.


"Ngapain kesana?"


"Oh, Sean kecelakaan dan sekarang saya belum tahu keadaanya bagaimana mas" Dewa menelisik raut wajah Atika yang sangat khawatir, bahkan dia bertanya-tanya siapa itu Sean, dari namanya terlihat laki-laki dan kenapa Dewa merasa sedikit kurang suka.


"Sean? dia siapa kamu?"


"Oh, itu A..." belum selesai Atika mengatakan siapa itu Sean, kini suara pengumuman sudah terdengar beberapa menit lagi pesawatnya kan lepas landas sehingga akhirnya Atik memilih untuk pergi dan mungkin nanti dia akan menjelaskan kepada Dewa.


"mas, aku duluan yah" Atika pergi dari hadapan Dewa, sementara laki-laki itu namak kesal, entah kenapa hatinya marasa marah ketika wanita itu mengkhawatirkan laki-laki lain, apa kah dia sebenarnya sedang cemburu.


"Akhh, masa sih gue cemburu". dengan kesal Dewapun pergi.


Perjalanan berjalan dengan lancar kini Atika sudah tiba di bandara Seokarno-Hatta tak banyak barang yang dia bawa hanya satu tas kecil yang berisikan beberapa benda penting.


Atika berjalan keluar namun dia merasa heran karena tidak biasanya di depan bandara taka ada taksi.


"Butuh tumpangan?" Atika tersentak ketika seseorang berbicara di dekat telinganya, matanya membulat ketika melihat Dewa kini berada di hadapannya.


"Mas ko bisa di sini?"

__ADS_1


"Bisalah orang yang supirin pesawatnya saya!" Atika sedikit Kikuk dengan pernyataan Dewa pasalnya dia juga tahu dewa itu pilot, namun pertemuan tadi di bandar surabaya dan kini dia juga bertemu di bandara Jakarta.


"Mau ke RS kan? katanya tadi siapa itu Sean, Sean itu kecelakaan!" Atika mengangguk dan mengikuti Dewa yang kini berjalan menuju mobil hitam


Di dalam perjalan mereka berdua hanya bisa terdiam, dan keduanya masih sama-sama bingung harus memulai obarolan nya dari mana.


"Mas ngak ada kerjaan habis ini?" cicit Atika


"Ngak ada kenapa emangnya?"


"Ngak papa sih cuman masih heran ajah kita bisa samaan gini di jakarta, oh iya ini mobil siapa mas?"


"Mobil temen saya, saya ada kerjaan di Jakarta jadi stay di sini beberapa hari, itu bukan Rumah sakitnya?"


"Iya mas"


Mobil mereka berdua terparkir di halaman Rumah sakit, kini Atika keluar dari mobil dan sedikit tergesa-gesa menuju lobi rumah sakit, sementara Dewa laki-laki itu mengikuti dari belakang karena dia juga merasa penasaran dengan kondisi laki-laki yang tadi Atika sebutkan.


"Pasien atas nama Sean Geraldi, di ruangan mana yah sus?"


"yang beberapa jam lalu ke kecelakaan yah, pasien di ruang rawat kamar melati lantai 2"


"makasih yah sus" Atika dan Dewa pergi menuju lift, kini perasaan Atika sangat tidak karuan.


Ketika membuka kamar rawat, keduanya melihat seorang laki-laki yang masih terlihat muda, dengan kaki dan pelipis yang di perban.


"Kaka!" ujar laki-laki itu, sementara Dewa kini merasa heran dengan panggilan yang baru saja dia dengar.


"Dasar ceroboh, kenapa bisa gni sih hah!" Atika mendekati Sean sang adik, dia menangis melihat kondisi adiknya.


"Kalem kak, aku ngak papa ko lagian kenapa kaka disini pasti tuh polisi mendramatisir kejadiannya" Sean melihat wajah khawatir dari kakanya merasa bersalah, bahkan selama ini dia selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan kakaknya.


"Makannya kalau punya mobil itu pake, kamu sih kebiasaan pake motor terus gini kan jadinya?"


"Iya-iya aku salah, udah jangan nangis tuh di liatin sama pacarnya ngak malu apa" Atika yang awalnya menangis kini sedikit tersentak dengan kehadiran Dewa yang sedari tadi abaikan.


"Ngak papa ko!" balas Dewa dengan singkat.


"Oh ya Sean ini Mas Dewa, dia sepupunya mbak April dia yang nganterin kaka kesini, masini Sean adik aku!"


"Sean"


"Dewa"


Entah kenapa Dewa merasa sedikit senang dan juga lega ketika mengetahui kalau laki-laki yang sedari tadi dia pikirkan ini adalah adiknya Atika.

__ADS_1


__ADS_2