
Rutinitas pagi ini sedikit berbeda karena ke hadiran Januari yang membuat rumah sedikit ramai oleh celotehan ayah dan anak itu.
"Rion sayang, cepet mandinya nanti ke siangan loh pergi kesekolah nya" Teriak April di arah dapur, pasalnya ayah dan anak itu kini sedang mandi bersama, awalnya April menolak karena kondisi Januari belum sembuh sepenuhnya, namun laki-laki itu terus ngotot untuk ikut mandi bersama sang anak.
April menata menu sarapan pagi di atas meja, pagi tadi dia mendapatkan kabar dari Atika jika keadaan adiknya sudah membaik, bahkan hanya luka ringan April merasa lega karena bagaimanapun Atika kini telah dia anggap sebagai adiknya.
Dan yang sedikit mengejutkan adalah ketika menelpon Atika tadi terdengar suara Dewa, dan benar saja sepupunya itu tengah di jakarta dan menginap di rumah Atika, April hanya tersenyum karena dia juga tahu sepupunya itu menyukai Atika hanya saja sikap dinginnya yang kadang sering menutupi perasaannya itu.
April berjalan ke arah kamar dan melihat kini suaminya tengah memakaikan baju Rion dengan sebelah tangan, sementara April hanya terkekeh dengan keduanya.
"Sini aku bantuin, tangan kamu kan lagi sakit" Atika mengambil baju Rion dan memakaikannya, sementara anak itu hanya menurut dengan apa yang orangtuanya lakukan.
""Sekarang kita sarapan yah sayang, takutnya nanti telat ke sekolahnya" bocah itu mengangguk dan pergi ke dapur kemudian di susul oleh ayahnya, April hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keduanya yang sebelas dua belas.
Kini ketiganya menikmati sarapan pagi dengan begitu nikmat, setelah itu April dan juga Januari mengantarkan Rion ke sekolah.
"Nanti mamah jemput nya ngak akan telat lagi ko, jadi kalau kamu belum ketemu sama wajah Momy, jangan jauh-jauh dulu dari bu gurunya yah" April masih trauma sebenarnya dengan ke jadian beberapa hari lalu, namun dia juga tidak harus terus menerus melarang Rion sekolah dulu, pasalnya anak satu-satunya itu nampak biasa-biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu.
"Yes Mom" Balas Rion dengan anggukannya, kemudian Rion mencium pipi keduanya dan pergi menuju kelas nya.
__ADS_1
Perasaan Januari menghangat ketika mendapatkan ciuman dari sang anak, hatinya terenyuh karena penantiannya kini terbayar meskipun masih ada satu rintangan lagi yaitu menaklukan istrinya kembali.
"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Januari ke arah istrinya.
"Ke toko, hari ini lumayan banyak pesanan bunga karena Atika masih di jakarta jadi yah kamu bantuin aku rangkai bunga nya"
April dan Januari kini tengah berada di dalam perjalanan menuju toko bunga milik sang istri, toko yang bisa di katakan penyambung hidupnya setelah kepergiannya kini ke Surabaya, meskipun sebenarnya Dewa banyak membantunya dalam semua hal bahkan dia sempat melarang untuk membuka toko, namun April tidak ingin terus-terusan merepotkan sepupunya itu.
Dengan cekatan April merangkai bungan mawar dan tulip sesuai dengan pesanan pelanggannya, Januari lagi-lagi menatap sendu hatinya merasakan sakit ketika sang istri harus bekerja sebegitu kerasnya di tambah lagi dengan mengurus anaknya, Januari tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya sang istri.
"Toko ini udah lama yang?"
"lumayan dari awal kepindahan ku ke sini, aku sudah merencanakan pembukaan toko bunga di bantu Dewa sama Atika"
"Pengennya sih gitu, tapi selama ini aku dan tika bisa menghandle ini semua, lagian kalau aku nambah karyawan aku harus hitung-hitung lagi untuk gajinya"
"Maaf yah semua gara-gara aku kamu harus cape kerja begini, aku emang bodoh banget dan jujur ini sangat menyakitkan melihat kamu harus bekerja ekstra di toko dan juga mengurus Rion"
"Aku udah biasa ko, lagian aku juga ngak sendiri ada Tika dan Juga Dewa yang selalu membantu aku"
__ADS_1
"Pril, kita mulai dari awal lagi yah, aku ingin perbaiki semuanya, kita pulang lagi ke Jakarta, mau kan?" April menghela nafasnya dia ingin sekali meyakini ucapan suaminya lagi, namun terkadang banyak kenangan-kenangan menyakitkan yang bermunculan.
"Mas, kita sudah bahas ini kan" gumam April.
"Aku tahu sayang, tapi aku juga tidak bisa lama-lama di sini, maaf bukannya aku egois tapi banyak karyawan yang membutuhkan aku juga di Jakarta"
"Trus Rion bagaimana, aku tidak yakin dia mau pergi ke Jakarta karena di sinilah Kehidupan nya dan juga teman-temannya".
"Kita bisa yakini dia yang, aku mohon, lagian tika juga tidak akan selamanya nemenin kamu, dia juga punya keluarga sendiri apalagi adik yang harus dia rawat, kalau untuk toko ini semisalnya kamu masih ingin tetap membuka toko, kita bisa serahkan ke orang kepercayaan ku, mau yah" Januari menggenggam tangan sang istri, dia sangat berharap istrinya dapat memaafkan segala dosa dan kesalahannya.
"Yaudah kita bilang pelan-pelan dulu ke Rion nya" Januari memekik bahagia kini usahanya tidak sia-sia, Januari memeluk sang istri dengan eratnya, dia menyalurkan perasaannya selama ini.
"Makasih yah" April hanya bisa mengangguk, karena dia juga ingin terus terusan egois, Rion butuh sosok sang ayah, kemudian dia tidak merepotkan Dewa lagi dan juga Atika, mereka mempunyai keluarganya masing-masing yang harus di perhatikan.
Semoga ini awal yang baik bagi keduanya, dan hal yang sudah terjadi di masa lalu tidak terulang lagi, April hanya bisa berharap akan kebahagiaan keluarga kecilnya yang selama ini banyak mendapatkan cobaan yang begitu besar.
April membalas pelukan suaminya, mereka seperti tengah meluapkan perasaan satu sama lain, pada akhirnya mereka masih dengan perasaan yang sama baik April maupun Januari keduanya masih saling mencintai hanya saja ego April lebih tinggi di tambah banyak rasa khawatir yang menghantui perasaan.
"Aku tunggu pembuktian kamu mas dan aku harap kamu tidak akan mengecewakan aku lagi" Januari mengeratkan pelukannya dia merengkuh tubuh sang istri yang sudah lama dia rindukan.
__ADS_1
"Pasti sayang, aku akan buktikan dan aku akan terus berusaha untuk tidak mengecewakan kali lagi baik sekarang ataupun nanti"
"Aku pegang kata-katamu itu"