Mantan Pacar

Mantan Pacar
44. Jatuh cinta?


__ADS_3

Pagi ini ruangan rawat Januari terkesan sedikit ricuh karena celotehan Rion, bahkan anak itu dengan kemampuan yang cerdas namun polosnya membuat semua orang yang berada di ruangan itu sukses terhibur.


"Jadi om pesawat ini Dadynya ion?" tanya Rion yang masih sedikit bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh sang momy.


"Iya sayang" jawa Januari dengan senyum bahagianya, kerena pada akhirnya April memberikan penjelasan kepada Rion tentang Dadynya.


"Mom, kan ion kan udah punya Papah Dewa, emang beda?" April juga sedikit bingung dengan apa yang harus dia jelaskan kepada sang anak, karena sedari kecil yang Rion tahu Dewa adalah papahnya.


"Rion, papah Dewa itu bukan papah kandung Rion, nah papah kandung Rion itu Dady!" jelas April dengan penuh pengertian.


"Jadi ion punya dua papah dong? yeyyy!" April dan Januari hanya bisa mengangguk saja karena mereka juga nampak masih bingung harus menjelaskan hal ini kepada Rion yang masih kecil.


"Kalau om pesawat Dadynya ion, ko dady ngak kaya papahnya Luna yang selalu jemput dan ajak Luna main?" perkataan polos Rion mampu membungkam mulut Januari, pasalnya dia adalah sosok ayah yang brengsek untuk Rion i masa lalu.


"Emm, dady kerja sayang!" ucap Januari dengan pelannya.


"Kerjanya Jauh ngak Dad, apa kaya Papah Dewa yang suka terbang!"


"Iya sayang papah kerjanya jauh, harus naik pesawat dulu biar cepet sampai, nanti Rion mau ngak ikut ke tempat kerja papah dan naik pesawat?"


"Mau,mau,mau aku kan mau terbang sama seperti papah Dewa, yey.... terbang!" Januari tersenyum melihat Rion yang nampak bahagia.

__ADS_1


Setelah drama yang terjadi selama ini Januari berharap semuanya bisa membaik, juga dia bisa kembali kepada sang istri.


"Mbak ini makanannya, aku ulang dulu yah!" April menatap Atika yang kini sudah membawa beberapa kantung kresek yang berisi makanan.


"Iya Tik, kamu pulangnya sama siapa? ngak bareng sama Dewa?"


"Sendiri mbak, mas Dewa kayanya udah pergi duluan mbak, Rion mau pulang bareng tante ngak?"


"Ngak usah tik, Rion mau di ajak main sama opa omanya!"


"yaudah aku duluan yah mbak, pak Januari, dadah Rion!"


Dengan langkah pelan Atika meninggalkan ruangan rawat Januari, perasaanya kini lega ketika melihat Rion sudah kembali.


Atika bersenandung kecil melewati koridor Rumah Sakit, entah kenapa hatinya menghangat ketika ia mengingat kembali hal semalam, dia yang terbangun dalam keadaan bersandar di bahu Dewa dan juga pelukan Dewa di bahunya yang masih dia rasakan sampai saat ini.


Atika tidak pernah merasakan hal yang senyaman ini, karena dari dulu dia sudah menjadi wanita yang mandiri sehingga dia banyak mengesampingkan urusan laki-laki.


"Mau pulang!?" Atika tersentak ketika mendengar ucapan seseorang di hadapannya, orang itu Dewa masih dengan stelan tadi atau mungkin laki-laki itu memang belum pulang.


"Mas Dewa belum pulang?" tanya atika sedikit heran pasalnya laki-laki itu sudah izin keluar dari tadi pagi.

__ADS_1


"Belum, mau ikut apa ngak?" dengan antusias atika mengangguk, karena dia juga malas bila harus naik angkutan umum.


Mobil melaju membelah jalanan kota Surabaya, kini matahari sudah cukup meninggi dan memancarkan cahayanya, entah mengapa perasaan Atika menjadi tidak karuan ketika berdekatan dengan Dewa, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Kenapa tik, muka kamu memerah seperti itu?" tanya Dewa yang sedikit heran dengan tingkah Atika.


""Ngak papa mah, mungkin kurang enak badan ajah!" jawabnya dengan sedikit lirih, karena dia juga bingung dengan kondisi tubuhnya saat ini, padahal ketika tadi berhadapan dengan April maupun Pak Januari dia baik-baik saja.


"Yaudah habis ini kamu langsung istirahat jagan ke toko!" Atika hanya bisa mengangguk karena dia juga masih enggan untuk menyampaikan hal hal yang lain, takutnya debaran jantungnya tidak bisa kontrol.


"Mas Dewa sehabis ini mau langsung ke bandara?"


"Iya, saya ada jadwal terbang jam 11 nanti!" Keduanya terlihat kaku dan juga bingung, mungkin hal itu juga di rasakan oleh Dewa, sosok laki-laki yang mungkin sangat dingin terhadap perempuan, namun ketika berhadapan dengan Atika, terkadang dia selalu ingin tertawa sendiri melihat tingkahnya yang sedikit konyol apalagi kalau sudah berhadapan dengan Rion.


Mobil sudah terparkir di depan halaman rumah yang kini di tinggali oleh April, Rion dan juga Atika.


"Makasih yah mas" Ujar Atika kemudian di keluar dari mobil.


"Iya sama -sama" laki-li itu langsung melajukan mobilnya lagi, sementara atika masih terlihat memandangi kepergian mobil itu dengan perasaan yang sulit di artikan.


"Apa aku jatuh cinta dengan Mas Dewa" gumam Atika

__ADS_1


__ADS_2