
Aku hanya bisa menatap nanar dan sesak kala seseorang yang entah siapa mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan mas Janu dengan seorang wanita yang sedang berpelukan, sampai aku ingat akan sosok wanita didalam foto itu, dia adalah Vanya, mantan kekasih sekaligus selingkuh suaminya dulu.
Sosok wanita yang dulu membuat hancur hubungan dengan pacar yang kini sudah menjadi suaminya, dan sepertinya dia akan merasakan perasaan yang lebih menyakitkan lagi, karena dia selalu ingat bahkan sebenarnya perselingkuhan itu candu, meskipun kita sudah berusaha untuk bertobat tapi perasaan candu itu yang terus menggerogoti hatinya sehingga dia tidak cukup akan satu hubungan.
Setelah pulang dari dokter tadi, aku menyempatkan untuk berbelanja karena ingin mengadakan sebuah kejutan untuk Mas Janu bahkan saat ini aku sedang duduk di meja makan yang penuh dengan menu makanan kesukaan Mas Janu.
Meskipun rasanya sudah sangat sakit tapi aku masih berfikir positif, karena Bagaimanapun sekarang hubungannya bukan sebatas pacaran melainkan pernikahan yang tidak bisa putus begitu saja ketika mengetahui sang suami berselingkuh apalagi ini hanya foto bisa saja ini hanyalah tipuan dari orang-orang yang tidak menyukai hubunganku dengan Mas Janu.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, aku masih menunggu Mas Janu pulang bahkan masakan yang ad di meja makan sudah di gin tapi aku enggan meninggalkan tempat duduk ini, sampai aku mendengar deru mobil yang bisa aku pastikan bahwa itu adalah Mas Janu.
“Loh, yang kamu belum tidur!” aku masih duduk di meja makan kala Mas Janu memasuki rumah dan berjalan menuju ruang makan.
__ADS_1
“Aku nunggu kamu untuk makan malam” jawabku.
“Emm maaf yah tadi mas ada kerjaan sekalian makan malam bareng beberapa staf dikantor, kamu belum makan?” aku hanya menghela nafas.
“Belum, tapi sepertinya aku juga tidak terlalu lapar, tadi sore aku sudah makan banyak brownies!” aku tersenyum menatap Mas Janu kemudian masuk ke kamar.
Raut wajahnya tidak ada rasa bersalah sama sekali bahkan dia tidak mempermasalahkan karena tidak makan malam, biasanya dia akan cerewet ketika aku telat makan, aku hanya tersenyum samar hingga membaringkan tubuhku dan mulai memejamkan mata.
Jujur ketika pernikahan ini terjadi aku berharap kebahagiaan yang aku dapatkan setelah banyak rasa sakit dan airmata yang aku keluarkan, namun nyatanya kini aku hanya bisa menahan sesak dan sakit jika bernar untuk kedua kalinya aku dikhianati entah apakah aku bisa memaafkannya lagi atau memelih pergi dan tidak pernah kembali.
Aku mengusap airmata ku secara perlahan, mengusap perut yang masih rata, karena meskipun nanti aku memilih pergi aku masih punya seseorang yang aku besarkan dan aku bahagia kan, setidaknya aku tidak merasakan yang namanya kesepian.
__ADS_1
__
Pagi harinya aku sudah menyiapkan kopi dan sarapan untuk Mas Janu, bahkan semalaman aku tidak tidur dan hanya bisa melamun.
“Hari ini aku pulang telat, jadi kamu jangan begadang nunggu aku!” aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku tanpa mau berdebat atau menyangga ucapannya.
Setelah kepergian Mas Janu kini aku pergi ke kamar dan mengambil beberapa baju kotor untuk aku berikan kepada pembantu, karena meskipun banyak pembantu aku sama sekali tidak memperbolehkan mereka masuk sembarangan kedalam kamarku dan Mas Jan
Kini aku mengambil sebuah kemeja yang semalam dipakai oleh mas Janu, kemeja putih dan dengan wangi yang berbeda, aku hafal akan minyak wangi kesukaan Mas Janu, namun kini wanginya berbeda seperti wangi parfum wanita.
Bahkan setelah wangi parfum itu aku dikejutkan lagi oleh noda lipstik yang menempel di kerah kemeja Mas Janu, lagi-lagi aku hanya bernafas lirih, mataku sudah berkaca dan hanya bisa menahan isakan.
__ADS_1
Bahkan pernikahan belum juga sampai setahun tetapi luka yang aku dapatkan sudah begitu banyak dan apakah aku bisa bertahan, ditambah dengan kondisiku yang sedang mengandung.