
Hanya bisa mengobrol ringan saja sudah sangat membuat Januari bahagia, setidaknya sekarang bisa sedikit demi sedikit memberikan pendekatan kepada sang anak meski harus menjadi orang lain.
Kegiatan itu berlangsung cukup lama, sebulan lamanya Januari menguntit kegiatan istri dan anaknya, terkadang juga ketika sang istri terlambat menjemput maka ia akan dengan senang mengobrol dengan sang anak meski sebentar.
Namun, sekarang suasana menjadi aneh amarah dan rasa kesal nampak diwajah seorang Januari kala melihat sang istri bersama seorang laki-laki yang ia ketahui yaitu Karen sepupunya.
Gejolak amarah dan mungkin dia ingin sekali menghajar sang sepupu karena dengan lancangnya mendekati keluarganya.
"Loh ko bukan papah Dewa sih Mom?" tanya Rion yang kini sedang melirik kearah Kenan
"Kan papah masih terbang sayang, memangnya kenapa om Kenan juga baik loh, dia bawain mainan buat Rion!" jelas April, sementara Karen hanya tersenyum
"Ihh Momy tuh ngak peka sama sekali, yaudah sekarang ion mau pulang setelah itu mau main sama tante Tika!" sepertinya Rion merajuk dan memberikan tatapan tidak suka terhadap Karen
"Yasudah kalau begitu kita pulang yah!" Usap lembut yang April lakukan dan bocah itu hanya mengangguk.
Mereka seperti sebuah keluarga bahagia, api cemburu pun terkobar dalam hatinya bahkan mungkin kini api itu sudah membara dan ingin meledak-ledak.
"Halo mah!" ucap Januari yang kini sedang menelpon sang ibu.
"Iya kenapa?"
"Mah ko bang Karen bisa sama mereka sih! Mereka nempel lagi kaya prangko!"
"Yang mamah tau memang Karen juga sempat cari istri kamu, mungkin hubungan mereka juga sudah lama soalnya ketika istrimu habis melahirkan dia datang ke RS waktu itu!"
"Ahh Bangsat!!," Januari langsung mematikan telpon kini amarahnya semakin menjadi-jadi, dia terus mengikuti mobil hitam yang membawa istri dan juga anaknya.
"Ngak akan gue biarin lu dapetin keluarga gue bang!" gumam Januari
__ADS_1
Kini mereka sampai di sebuah restoran, terlihat istri dan juga anaknya memasuki restoran tersebut, sementara Januari masih menatap mereka dari kejauhan.
"Momy katanya mau pulang ko mampir kesini?" ucap Rion dengan nada tidak sukanya.
"kita makan dulu yah, soalnya kan momy Ngak masak sayang!" dengan pelang Aprilpun menjawab sang anak.
Kini mereka duduk dimeja dekat sekali dengan kaca yang mempermudah Januari untuk memantau pergerakan istri dana anaknya.
"Om ngapain sih deket-deket sama momy!" karena yang diajak biacara itu sangat kaget dengan ucapan Rion, yang memang sedari dulu memperlihatkan wajah tidak sukanya.
"Om kan temen momy kamu, ngak boleh yah kalau temenan?" Ujar Karen
"Boleh sih, tapi Om kaya mau nembak mamah jadi pacal Om, kaya ion sama Luna dan ion tuh ngak suka tau!" Entah sejak kapan ketidak sukaannya anak itu muncul, namun sepertinya itu adalah hal yang baik untuk seorang Januari.
"Loh, kenapa Ngak suka?" Kini April yang menjawab pernyataan sang anak.
"Om Pesawat itu siapa sayang?" tanya April
"Adalah pokonya temen ion, yang kemarin ngasih tiga pesawat Bali, orangnya asik cuman gitu kaya waltawan nanya mulu!" Kini April mengalihkan tatapannya kepada Karen, karena ucapan sang anak membuatnya merasa malu, apalagi melihat perjuangan Karen yang baik terhadapnya.
"Maaf yah mas!" ucap April kepada Karen
"Ngak papa, namanya juga anak kecil!" Karen hanya bisa tersenyum kecil sedangkan April dengan penuh penasaran bersalahnya, sementara Rion anak kecil itu enggan lahapnya memakan makanan yang dipesan tadi.
*
Kini langkah Januari tidak beraturan, setelah melihat kebersamaan istri dan anaknya bersama laki-laki lain, dia sudah merasa tidak tahan dengan keadaan seperti ini, rasa cemburu dan amarahnya tidak bisa ia kontrol.
April masih menjadi istri sahnya, dan selamanya akan menjadi istrinya, tidak akan ada orang lain yang bisa mendekati selain dirinya.
__ADS_1
Dengan perlahan Januari kini meyakini untuk bertemu dengan sang istri secara langsung dan dia akan menanggung semua konsekuensi yang akan dia dapatkan.
"Tik, kamu duluan yah pulangnya tidurin Rion, mbak harus ngurus beberapa pesanan dulu!" Kini mereka berada di toko bunga April, setelah makan siang tadi dia kembali ke toko bersma Rion yang bersemangat untuk bermain dengan tentenya.
waktu sudah menunjukan pukul 7 malam dan Rion sudah tertidur akibat lelahnya bermain, kini dia sudah dibawa pulang oleh Atika ke rumah untuk ditidurkan. Dan di toko bunga ini hanya ada April seorang yang sebentar lagi dia akan segera menutup tokonya.
Setah sedikit berkutat dengan pesanan, kini April menutup toko tersebut dan bersiap pulang, karena lokasi toko dan rumahnya juga berdekatan jadi mempermudah April dalam melakukan apapun.
"April" Wanita itu tersentak kala seseorang memanggilnya, bahkan yang membuatnya kaget adalah suara dari laki-laki yang sudah lama ia tidak dengar.
April menoleh keasal suara, tubuhnya menegang melihat sosok laki-laki yang masih menjadi suaminya itu kini berdiri dihadapannya.
"Mau apa kamu?!" Suara April menajam dan tatapannya kini penuh dengan rasa sakit dan amarah.
"Maafkan aku April, aku mohon kembali, tidak kah cukup lima tahun ini kamu menghukum ku!" Januari hanya bisa menunduk dan memohon, suara lirihnya penuh dengan penyesalan yang mungkin tidak akan termaafkan.
"Pergi kamu dari sini!" Teriak April, situasinya kini menjadi mencekam wajah bersalah Januari pun ia sama sekali tidak dihiraukannya.
"Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon!" Januari berusaha menggenggam tangan sang istri, namun langsung ditolak keras.
"Kesempatan?, Bahkan dulu kamu mengatakan hal yang sama Mas, lalu ketika aku beri lagi kesempatan dengan mudahnya pasti kamu akan menyakiti aku lagi, Pergi dari sini!!" Januari menggeleng lemah
"Aku akan pastikan tidak akan menyakiti kamu lagi, Mas mohon berikan mas kesempatan lagi, mas masih mencintai kamu Pril, mas mau ketemu sama anak kita!" April kembali mendorong tubuh Januari.
"Pergi!!, Sebelum aku benar-benar benci dan tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan anakku!" ucapan tajam yang April berikan membuat Januari mundur, dia tidak mau semakin di benci oleh istrinya.
"Ok, aku pergi, tapi kamu jangan pernah berdekatan dengan laki-laki sialan itu, ingat Pril kamu itu masih istriku!" Januari pasrah dia akan pergi untuk kembali, kali ini mungkin istrinya masih syok, namun lambat lain dia akan berusaha untuk meluluhkan hatinya lagi.
Persetan dengan pekerjaannya dia akan pastikan dalam waktu dekat ini istri dan anaknya kembali dalam genggaman, tidak akna ada satu orangpun yang akan bisa mendekati mereka, karena mereka adalah masih miliknya, baik Karen ataupun yang lainnya.
__ADS_1