
Jika aku memutar kembali pada masa dimana kami masih menjalin hubungan aku merasa wanita paling sempurna dan paling beruntung bisa mendapatkan seorang Januari.
Selain dia primadona sekolah dan kampus dia juga selalu memperlakukanku dengan istimewa, bahkan mungkin banyak orang yang iri akan keharmonisan hubungan kami berdua.
Aku ingat betul ketika ia mengungkapkan perasaannya ketika hari kelulusan kami semasa SMA, dia membawaku ke cafenya yang sudah ia hias dengan sangat indah. Hari itu aku menerima ucapan cintanya dan kami menjadi pasangan kekasih.
Hubungan kami berjalan dengan baik, setelah lulus kami melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda. Januari melanjutkan di universitas negri yang terkenal sedangkan aku di universitas swasta biasa. Bukan karena aku tidak pintar tapi karena kondisi ekonomi keluarga yang pada saat itu hanya mamah lah satu-satunya tulang punggung dikeluarga kami.
Meskipun kami kuliah di universitas yang berbeda tetapi kami saling percaya dan hubungan itu semakin erat setiap harinya, sesibuk apapun kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu atau pergi hangout.
Setiap Anniversary kami dia selalu memberikan kejutan yang istimewa dari mulai makan malam romantis kemudian kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang aku ingin kunjungi, bahkan banyak hadiah yang dia berikan untukku mulai dari bunga, boneka sampai gaun yang indah untuk merayakan Anniversary kami.
Namun hubungan yang aku sangka indah itu akan berakhir indah pula, tapi nyatanya aku salah ketika mendekati sidang skripsi kami sama-sama sibuk dan kadang jarang sekali bertemu atau menghabiskan waktu bersama, meskipun begitu kita selalu menyempatkan diri untuk memberikan kabar satu sama lain.
Ketika kita saling sibuk aku fikir kita tidak ada waktu untuk mempunyai hubungan lain bahkan mungkin mungkin sekedar memikirkannya pun tidak, lagi-lagi aku salah besar.
Menjelang sidang ada salah satu temanku yang melihat janu berjalan dengan wanita yang pasti itu bukan aku, aku fikir ketika itu dia hanya saudara atau sahabat dekatnya saja.
Hingga untuk ketiga kalinya teman-temanku yang melihat itu dan mengatakannya kepadaku, aku berusaha berfikir positif dan aku sangat percaya dengan kekasihku itu.
Sampai dimana ketika itu aku lulus sidang skripsi kemudian aku mengajak Januari jalan namun dia menolak karena alasan sibuk, setelah itu aku pergi dengan teman-teman ku.
Sampai di mall aku begitu antusias karena sudah cukup lama aku tidak pergi jalan-jalan seperti ini karena kesibukan skripsi ku, hingga kemudian temanku melihat Januari sedang bersama seorang wanita cantik .
__ADS_1
“Pril, itu cowok Loe kan?” aku langsung memandang ke tempat yang ditunjukan oleh temanku.
“Emm.. iya”! Mataku melihat dengan jelas bahwa Januari sedang tertawa bersama wanita yang entah siapa itu.
“Dia sama siapa yah?” tanya temanku lagi
“Emm.. Saudaranya mungkin, kalian duluan ajah yah!! Aku mau nyamperin di dulu bentar!!” melihat ekspresiku yang terkejut dan terlihat sedih temanku pun menyetujuinya dan memberikan ruang untukku bertemu dengan Januari kemudian mereka pergi meninggalkanku yang sekarang sedang berusaha untuk tidak menangis dan tetap berfikir positif.
Aku menatap nanar pasangan yang sedang memadu kasih tepat didepan ku itu, senyum merekah dari sudut bibir mereka, tanpa mereka sadari disini ada seseorang yang merasakan sakit begitu dalamnya.
“Ap..ril” laki-laki itu dengan wajah terkejutnya melihat ke arahku, begitupun dengan wanita disampingnya.
Dengan pelan aku melangkah menuju dua sejoli itu dengan perasaan sakit dan perih
“Prill.. aku bisa jelasin, aku..”
“Jelaskan aku akan mendengarkan!” tukas ku dengan berusaha tersenyum
“Aku.. Emm dia pacarku” ucap pelan laki-laki dihadapan aku itu.
“Sudah berapa lama?”
“Enam.. Bulan”
__ADS_1
“Janu, sebelum kita memutuskan untuk pacaran aku sempat bilang kan sama kamu, aku benci dengan dua hal bahkan mungkin sulit untuk dimaafkan, yaitu kekerasan dan pengkhianatan. Tapi kamu melakukan salah satu dari hal yang aku benci itu..” ucapanku begitu bergetar dan parau, aku sudah berusaha menahan airmata itu, namun dia jatuh dengan sendirinya.
“Maafkan aku prill..”
“Jan, kamu juga tau kan konsekuensi ketika kamu melakukan salah satu dari itu..”
Laki-laki itu berusaha meraih tanganku dan ingin memelukku, namun aku tepis begitu saja. Meskipun aku melihat dari sorot matanya yang berair.
“konsekuensinya kamu akan kehilangan aku..”
Laki-laki itu membungkuk dan memohon-mohon bahkan aku mendengar tangisan yang menyedihkan darinya.
“Maafkan aku sayang.. aku mohon jangan tinggalin aku..” dia terus menerus mehon tanpa henti, namun bagaimanapun ini adalah konsekuensi yang harus dia terima atas perbuatannya yang melanggar janjinya sendiri.
“Makasih untuk Empat tahun lebih ini, aku harap cukup aku yang kamu khianati jangan perempuan lain, aku pergi!”
Aku berlari tanpa memperdulikan teriakan dan kejaran laki-laki itu,hatiku sudah terlalu sakit dan perih, laki-laki yang begitu sangat aku cintai dengan tega mengkhianatiku selama enam bulan lebih ini.
“Aprill... Sayang...!!!!”
Setelah itu aku pergi meninggalkan kota itu untuk beberapa waktu setidaknya untuk menenangkan hatiku yang sedang kacau itu, aku pergi menyusul mamah yang sedang bertugas disekitar daerah Bogor.
Awalnya mamah kaget dengan keputusanku menghampirinya namun karena melihatku yang sedang menangis kala itu diapun memperbolehkan ku untuk tinggal sementara bersama mamah.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi setelahnya, karena ketika aku kembali ke Jakarta, semua sudah terasa berbeda laki-laki bak ditelan bumi bahkan dia tidak mengejar ku atau menanyakan ku Kemana selama ini. Hingga ketika aku berusah kembali membangun kehidupanku yang baru dan aku mulai sibuk bekerja, dan dengan pelan-pelan aku melupakan semua yang terjadi itu, meski pada akhirnya aku tidak bisa.