
Sebuah pesawat pribadi ini tengah terparkir di area yang sangat luas, hari ini tepat kepulangan mereka ke Jakarta, sedari Rion sangat antusias dengan apa yang dia lihat.
Rion yang awalnya selalu melihat pesawat mainan kini dia terkagum-kagum dengan pesawat nyata yang sangat besar, Januari terkekeh melihat sang anak yang begitu sangat menyukai pesawat.
Mereka bertiga masuk ke dalam pesawat, dan duduk di kursi yang begitu nyaman juga pelayanan dari pramugari yang spesial untuk melayani keluarga kecil itu selama perjalan.
"Dady, kalau nanti ion sudah besar, ion mau terbangkan pesawatnya boleh?" Januari tersenyum dengan ucapan polos sang anak.
"Sure son, dady akan dukung apapun itu keinginan kamu!" Rion bersorak semangat, dia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela pesawat, Rion begitu menikmati pemandangan yang memperlihatkan awan da juga terdapat rumah-rumah yang terlihat sangat kecil.
...(Visual Rion)...
April tersenyum ke arah putranya yang sangat antusias jika berhubungan pesawat, dia sangat bersyukur memiliki putra sepertinya yang penurut, pintar dan juga selalu membuatnya tertawa.
"Kenapa sayang?" Tanya Januari yang kini menatap sang istri tengah memperhatikan putra mereka.
"Aku hanya bahagia melihat Rion yang sangat antusias, apa lagi jika berurusan dengan pesawat!"
"Aku juga sangat bahagia, dan mungkin aku bisa memastikan putraku itu akan menjadi pilot yang handal nantinya!"
"Tentu semoga saja, tapi kamu ngak paa kan Rion menjadi pilot, bukannya kebanyakan orang itu menginginkan anak lelakinya sebagai penerus bisnis mereka?"
"Aku belum kepikiran sampai sana sayang, karena aku tidak ingin menghambat impian putra kita, lagian selagi aku masih hidup kamu jangan khawatirkan apapun, mungkin kita bisa memberikan adik untuk Rion sebagai penerus bisnisku nantinya" April memutar bola matanya dengan malas, kini ucapan sang suami sudah merambat sangat jauh.
"Itu mah mau kamu!" Januari tertawa mendengar jawaban sang istri yang terlihat kesal.
Setelah cukup lama, kini pesawat mendarat dengan selamat, keluarga kecil itu keluar dari pesawat dan menatap sekeliling tempat itu, mereka telah sampai di Jakarta.
"Mbak April, Rion!" Atika melambaikan tangannya dari kejauhan, Rion tersenyum lalu berlari ke arah Atika yang kini juga tengah berlari juga ke arah Rion.
__ADS_1
"Tan Tik!" Rion memeluk wanita yang sudah beberapa hari ini dia tidak temui.
"Huhu huhu, tante kangen sama kamu" ujar Atika yang terlihat memendam perasaan rindu yang teramat besar kepada bocah satu ini.
"Gimana perjalannya, seru ngak?" Rion mengangguk ketika mendengar pertanyaan dar Dewa dan kini bocah itu sudah berada di pangkuannya.
"Seru banget pah, pesawatnya besar, trus ion lihat awan, sama laut, trus dady juga bolehin ion terbangin pesawat kalau udah besar" Ucap Rion dengan begitu semangat.
"Baguslah, jadi kita nanti bisa menerbangkan pesawatnya bareng-bareng sama papah" Rion kembali mengangguk dan merapatkan pelukannya.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, mereka tengah berada di dalam mobil menuju kediaman mansion orangtuanya Januari.
"Jadi apakah ada kabar bahagia dari kalian?" Ujar April menghentikan keheningan di dalam mobil.
Atika hanya tersenyum mendengar ucapan April, kini da duduk di jok depan dengan Dewa yang menyetir mobil, sementara keluarga kecil itu duduk di jok belakang.
"Secepatnya kamu akan mendapatkan undangannya Pril" sungguh pipi Atika sudah memerah mendengar jawaban dari kekasih atau lebih tepatnya calon suami.
"Baguslah, mba turut seneng tik, semoga berjalan dengan lancar yah"
Mobil yang mereka kendari telah sampai di mansion yang begitu besar dan mewah, ketika mereka turun dari mobil, lagi-lagi Rion di buat takjub dengan rumah yang sangat besar.
"Mom, ini rumah opa sama oma?" tanya Rion
"Iya sayang, ini ruah opa, oma kita masuk dulu yah ke dalam" Rion mengangguk dan kini mengikuti arah sang dady menuju ke dalam mansion.
"Opa, oma!" teriak Rion ketika melihat keda orang yang sudah lanjut usia itu meyambut kedatangan sang cucu.
"Aduh, cucuku opa sangat rindu!" Rion masuk dalam pangkuan sang opah, kini mereka berdua tengah melepas rindu dengan sang cucunya.
"Bagaimana tadi seru ngak naik pesawatnya?"
__ADS_1
"Seru oma, nanti kalau ion udah besar, ion mau terbangin pesawat sama kaya papah dewa"
"Wah, cucu oma ini mau jadi pilot yah" Rion mengangguk, sementara oma dan opanya hanya bisa tersenyum dengan ucapan dan tingkah cucunya.
"Kalian istirahat dulu yah, biar Rion kami yang jaga" Januari dan April mengangguk.
"Mbak kami pulang dulu yah, soalnya hari ini Sean pulang dari rumah sakit"
"Ngak mau istirahat dulu di sini tik?'
"Ngak usah mbak, kasian juga bocah itu kalau harus nunggu sendirian di kamar rawat"
"Yaudah, tapi besok-besok kamu main kesini yah" Atika mengangguk dan kini pasangan itu pamit undur diri.
Januari merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, sementara April wanita itu hanya duduk di samping suaminya sambil memainkan ponsel.
"Ponselnya lebih menarik yah ketimbang suami tampan mu ini?" April mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang tengah merajuk.
"Apa sih mas, aku kan lagi nanya soal toko" Januari kini mendekati sang istri dan memeluknya, dia membenamkan kepalanya di tekuk sang istri.
"Mas, apaan sih geli tahu" April sedikit kesal dengan tingkah manja suaminya.
"Yang, buat adik untuk Rion yuk!" April melebarkan matanya ketika mendengar ucapan sang suami.
"Ingin nolak suami itu dosa loh yang" Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, selama hampir enam tahun ini baik Januari maupun dirinya tidak pernah lagi melakukan hubungan intim, namun jika kini dia menolak sang suami maka juga akan merasa bersalah.
"Ok, cuman sekali yah, lagian kita baru nyampe mas, kamu ngak cape apa?" Umpat April dengan kesal, suaminya hanya menghiraukan dan kemudian menghimpit tubuh istrinya dan menghujami ciuman di setiap wajah dan tekuk sang istri.
**
Minta pendapatnya dong, aku bingung soalnya beberapa chapter lagi tamat. Tapi aku udah bikin sinopsis dan juga beberapa bab mengenai perjalanan kisah cinta Rion.
__ADS_1
Baiknya ada Season dua atau aku buat judul baru lagi, sequel dari novel Mantan Pacar ini.
Minta sarannya dong guys🙏🙏