Mantan Pacar

Mantan Pacar
22. Enggan


__ADS_3

Semua sudah tidak lagi sama, laki-laki yang menjanjikan lagi sebuah kebahagiaan dan kesetiaan kini nyatanya hanya omongan belaka. Bahkan sudah sebulan lebih setelah kejadian luka lebam di wajah Mas Janu, kali ini aku bukan lagi prioritasnya, aku bukan lagi wanita satu-satunya yang dia datangi ketika merasa butuh.


Bahkan dia membelikan sebuah Apartment mewah untuk wanita itu, dan aku tentu saja tidak tinggal diam, aku terus memantau kegiatan Mas Janu dengan menyewa detektif.


Kenapa aku tidak langsung pergi setelah tau perselingkuhan Mas Janu seperti Lima tahun yang lalu? Jawabnya aku hanya menungggu waktu yang benar-benar tepat, waktu dimana ketika aku pergi maka dia akan benar-benar terluka, sama seperti yang aku rasakan saat ini.


“Kamu sebenarnya ada hubungan apa dengan Vanya?” tanyaku kepada Mas Janu yang kini sedang memangku Laptopnya.


“Hubungan apa sih Pril, dari awal kan aku sudah bilang, aku hanya membantunya saja!” jawaban Mas Janu Membuatku semakin geram, bahkan ketika pertama aku melihat langsung kemesraan mereka, bahkan sempat meminta penjelasan kepada Mas Janu namun jawabannya membuatku tidak masuk akal.


“Tapi Mas, Ngak gini juga! Bahkan sekarang yang kamu sering prioritaskan itu Vanya bukan aku, jelas-jelas dia hanya orang luar, dan kalaupun kamu ingin membantunya, kamu bisa bantu secukupnya saja, kita ini sudah menikah, Bagaimana tanggapan orang lain mengenai ini!” ucapanku sedikit meninggi, rasanya aku sudah muak dengan hubungan mereka berdua.


“Kamu itu kenapa sih!!, Tiba-tiba marah Ngak jelas, harus kamu tau, aku melakukan semua itu karena ingin membantu Vanya, dia itu temanku bahkan ketika masa kuliah dia yang sering membantuku, wajarlah kalau sekarang aku juga membantunya!” nada suara Mas Janu pun kini meninggi dia sepertinya tidak terima dengan apa yang aku ucapkan.


“Iya dia sering membantu kamu, sampai-sampai kamu selingkuh dengan dia!” aku berucap dengan nada sinis.


“Aku Ngak mau berdebat yah!, Aku capek mau istirahat kalau pembahasan kamu selalu itu-itu saja, lama kelamaan aku juga muak dengernya!” mas Janu pergi keluar Kamara dan banting pintu dengan kencangnya.


Badanku tertunduk, ini aku hanya bisa terisak dengan penuh rasa sakit dan luka. Bahkan sekarang sepertinya memang aku sudah tidak ada artinya dimata seorang Januari, dan sepertinya waktu itu akan segera datang, waktu dimana akhirnya aku memilih menyerah dan mungkin tidak akan pernah mau kembali lagi.

__ADS_1


“Halo, Bang sepertinya aku akan pergi secepatnya, jadi tolong persiapan semua keperluan aku yah, jujur aku sudah tidak tahan lagi!” ucapku kepada seseorang dibalik telepon itu.


“Baik, kalau itu keputusan kamu, Abang akan tunggu kamu!”


Clik


Akupun mematikan panggilan telpon itu, dan kini aku hanya bersiap-siap dan menunggu waktunya tiba setelah itu aku hanya berharap tidak akan pernah kembali lagi ke dalam jurang dan kesedihan yang sama.


__


Suasana restoran tidak terlalu ramai bahkan keadaanya santai, aku menyesap minumanku dengan tenang dan menunggu seseorang yang berjalan menuju arahku.


“Selamat sing juga, Vanya!” balasku dengan senyuman kecil.


“Aku sudah pesankan makanannya!” aku kembali bicara kala seorang pelayan datang dan meletakan makanan dimeja.


“Oh, terimakasih seharusnya tidak perlu repot-repot!” jawabnya.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum, pagi tadi aku menelpon Vanya dan meminta untuk bertemu, Bagaimanapun aku harus sedikit demi sedikit menyelesaikan ini.

__ADS_1


“Sepertinya kamu masih tertarik terhadap suamiku, sampai-sampai dibelikan apartment baru bahkan kamu sepertinya dilindungi sekali oleh Mas Janu!” aku berucap sambil memotong steak, bahkan aku berusaha untuk santai dan tidak terpancing.


“Ahh, sepertinya yang sangat tertarik itu suami kamu deh, soalnya kan aku sudah suruh dia untuk ngak ngurusin masalahku, tapi dia dengan lantangnya membelaku dan berjanji melindungi ku!” aku tersenyum tipis mendengar penuturan seorang Vanya.


“Emm, memang suamiku itu terlalu bodoh, bahkan selama ini dia sebenarnya hanya diperalat saja, ck ck kasihan sekali!” wanita yang penuh keangkuhan tadi pun merasa aneh dengan sikapku, terlihat dari cara dia menatapku.


“Ya dia terlalu bodoh, mau saja dimanfaatkan olehku!” aku hanya tertawa kecil


“Sepertinya sangat gampang sekali, menyingkirkan lawan sepertimu, Vanya!” aku lagi-lagi tertawa bahkan raut wajahnya sudah terlihat kesal dan marah.


“Dan sepertinya sebelum aku tersingkirkan, aku akan menyingkirkan kamu terlebih dahulu!” ucapnya dengan nada tajam.


Prok


Prok


Prok


“kamu itu sama sekali tidak pandai menyembunyikan belang mu, emm silahkan singkirkan aku, aku tunggu itu!” aku merapihkan bajuku dan pergi dari restoran itu dengan penuh gemeteran, bahkan aku sama sekali tidak menyangka bisa sehebat itu dalam menjatuhkan lawan.

__ADS_1


__ADS_2