Mantan Pacar

Mantan Pacar
17. berubah


__ADS_3

Hubunganku dengan mas Janu beberapa hari kurang baik, karena permasalahan tempo hari itu, mungkin juga mood ku yang sedikit memburuk akhir-akhir ini.


Kini aku hanya bisa menatap makanan yang sedari tadi hanya aku aduk-aduk enggan untuk dimakan, aku kembali mengambil nafas mengingat semalam Mas Janu pulang larut lagi, dan malam inipun dia belum pulang padahal ini sudah hampir jam 10.


Aku menyimpan piring di dekat wastafel, dan berjalan menuju sofa aku hanya ingin melihat jam berapa malam ini Mas Janu pulang. Bahkan aku mungkin akan menunggunya tanpa memperdulikan rasa lelah.


Jam pun berdenging menunjukan angka 12 terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, aku hanya dia dan menunggu sampai laki-laki itu masuk ker rumah.


Ceklek


Pintu terbuka dan terdengar langkah kaki yang kini semakin mendekatiku, aku hanya mengambil nafas pelan agar tidak terpancing akan emosi.


“Dari mana kamu Mas!” ucapku yang kini bergerak berdiri melihat mas Janu dengan pakaian yang agak kusut.


“Aku ada janji sama temen!” jawabnya tanpa menghiraukan aku.


“Temen siapa?, Sampai kamu pulang malam dan bau alkohol seperti itu Mas!” aku sedikit berteriak dan menatap kesal laki-laki dihadapanku itu.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih!, Aku capek baru pulang, aku Ngak mau debat!” dia juga sama meneriaki bahkan membentakku dengan kencangnya dan masuk kedalam kamar.


Aku hanya menatap punggung laki-laki itu dengan nanar, bahkan airmata sudah mulai menetes, aku tertawa lirih dengan sikap Mas Janu yang semakin sulit sekali ditebak.


“Padahal kita baru nikah tiga bulan, tai kau sudah seperti ini mas!” Aku hanya bisa tertunduk pilu dengan isakan tangisku.


Pagi ini aku sudah rapih dengan pakaian kantor ku saat ini, mataku menerawang melihat mas Janu keluar dari kamar dengan pakaian rapih pula, aku menyediakan makanan untuk kami berdua.


Aku dan dan Mas Juna menikmati sarapan pagi dengan diam, bahkan aku masih kesal dengan apa yang dia lakukan semalam, membentakku.


“Maaf” mulutku yang sedang mengunyah itu kini berhenti melihat mas Janu.


“Aku maafin, tapi aku mau tau apa yang kamu lakukan diluaran sama akhir-akhir ini!” Balasku


“Aku ketemu temen-temen lama aku pas kuliah, kita cuman habisin waktu ajah Ko!” jawabnya.


“Dimana, di Club?!”

__ADS_1


“Semalam iya, kalau kemarin hanya di Cafe punya temenku!”


“Ada Vanya dong?”


“Emm iya ada, tapi aku Ngak ngapa-ngapain ko yang, cuman minum trus ngobrol sama yang lain!”


“Hebat yah, kamu pergi main sama temen kau sementara, aku disini udah hampir Tiga malam nungguin kamu yang sedang asik bermain sama temen-temen kamu!”


“Maaf, Yang. Aku janji ini terakhir kalinya, aku hanya terbawa suasana karena udah lama ngak kumpul bareng mereka!”


“Terserah, kalau sampai aku tahu kamu ulangi kesalahan kamu yang dulu, kamu akan tahu akibatnya!” hardikku.


“Iya, yang aku udah janji kan sama kamu ngak akan melakukan kesalahan yang sama!”


“Siapa tahu, kita Ngak ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya!”


Pagi itu dihabiskan dengan perdebatan alot yang membuatku semakin hanya semakin kesal dengan apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Aku hanya bisa menarik nafasku dengan dalam, dan berharap semua kegelisahan dan kekacauan ini bisa cepat selesai.


__ADS_2