Mantan Pacar

Mantan Pacar
Penjelasan atau pertengkaran


__ADS_3

“Selamat pagi mbak!”


Aku tersenyum melihat Atika yng sepertinya senang aku hari ini kembali ke kantor.


“Pagi!” jawabku dengan penuh ketulusan.


“Mbak udah baikan?”


“Kalau saya udah ke kantor berarti saya baik-baik ajah”


“Syukurlah mbak, aku khawatir banget denger mbak sakit apalagi mbak sendiri di rumah. Oh ya mbak tau ngak ketika kemarin pak Januari tau mbak sakit dia kaya kelimpungan gitu maksa-maksa aku untuk ngasih tau alamat mbak dia kayanya khawatir banget sama mbak”


Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Atika itu.


“Oh gitu, yaudah mbak ke dalem dulu yah!” aku pergi dengan decakan dari Atika yang masih merasa penasaran dengan kejadian yang dia ceritakan.


“Ishh mbak April mah suka gitu kan aku jadi penasaran!” aku memasuki ruangan dengan tersenyum kecil melihat kekesalan Atika


Pekerjaanku tidak terlalu banyak hingga aku memutuskan untuk pergi makan siang diluar, dan sekarang aku sedang duduk di restoran depan perusahaan.


“Ehemm!” aku terlonjak kaget mendengar deheman yang sedikit keras itu.


“Pak Karen, mengagetkan saja!” ucapku sedikit kesal dengan laki-laki yang lebih tua dua tahun diatasku itu.

__ADS_1


“Kamu sendiri?”


“Kelihatannya?” aku memutar bola mataku dengan malas.


“Aku kira berdua sama siapa gitu”


“Kalau mau makan bareng bilang ajah pak!”


“Hehe kamu tau ajah kalau aku makan siang ini sendiri!”


“Kemana cewek-cewek yang biasa bapak ajak makan itu?”


“Ahh aku sudah insyaf sekarang aku hanya menikmati kesendirian sampai aku menemukan tambatan hati untuk selamanya!”


“Ckk, Emang playboy kaya bapak bisa insyaf juga?” aku sedikit berdecak dan meledeknya.


“Udah ya pak pesanan saya udah datang saya mau makan dulu!”


“Cihh” aku hanya diam dan tidak menghiraukan laki-laki itu.


Setelah makan siang aku kembali ke kantor dan mengerjakan kembali pekerjaan yang sempat tadi aku tunda itu.


Tidak terasa waktu sudah hampir malam alhasil aku membereskan tugasku kemudian pulang, sampai parkiran aku melihat salah satu ban mobilku kempes.

__ADS_1


“Ahh sial” aku menggerutu karena ini sudah mau malam lagian kalau menunggu orang untuk memompa banku pasti akan lumayan lama.


“Butuh tumpangan?” aku cukup terkaget melihat sosok yang kini berdiri tegak disamping kananku.


“Tidak terimakasih!” akupun berjalan pergi meninggalkan sosok laki-laki yang aku benci itu.


“Ini sudah malam biar aku antar!” dengan kesal aku melepas tangannya yang menarik tanganku.


“Ngak!” akupun dengan keras menolak


Dengan cepat laki-laki itu menarik tanganku dan memasukan ku kedalam mobil, aku berusaha untuk keluar tapi pintunya sudah dikunci alhasil aku hanya berdecak kesal didalam mobil.


“Sekali ini ajah kamu dengerin aku, ini udah malam bahaya kalau kamu pulang sendiri!” aku memutar bola mataku dengan malas.


“Yaudah Cepet jalan!” laki-laki itu tersenyum tipis dan menjalankan mobilnya, didalam perjalanan aku hanya terdiam dan enggan untuk mengeluarkan suara.


“Maaf.. mungkin kata maaf ku Ngak akan bisa memperbaiki kekecewaan kamu” aku hanya terdiam enggan membalas ucapan laki-laki itu.


“Wanita itu Vanya.. teman sekelas ku sebenarnya dia gencar mendekatiku namun aku tidak menyukainya, hingga pada saat itu kita sama-sama disibukan dengan sidang skripsi dan dia selalu ada untuk aku.., setelah itu kami dekat dan kami menjalin hubungan, dia tau kalau aku sudah punya kamu.. maaf jujur sampai saat ini aku masih cinta sama kamu, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah bahkan selama lima tahun ini aku terus menerus memikirkan mu!” penjelasan seorang Januari membuatku menggeram marah.


“kamu taukan dulu kita sudah membicarakan tentang kesibukan itu, bahkan kita pun berjanji untuk saling mengerti dengan situasi apapun itu, aku fikir dengan kita sama-sama sibuk kamu ataupun aku tidak akan pernah sampai berfikiran untuk selingkuh atau bahkan melakukan itu, hingga berkali-kali temanku melihat kamu jalan sama perempuan itu aku tetap diam dan berusaha percaya kalau itu hanya teman atau saudara kamu!, Bahkan ketika aku pergi pun kamu Ngak ada usaha pun untuk cari aku, apa itu yang kamu katakan kamu masih mencintainya aku?!!!!” aku menjerit meluapkan beban yang terasa menyakitkan selama ini.


Mobil berhenti dan Januari memelukku aku berusaha melepaskan pelukannya namun kekuatanku kalah hingga aku hanya bisa menangis meronta-ronta, hatiku terasa sakit sekaligus lega karena rasa sakit yang aku pendam ini bisa aku luapkan.

__ADS_1


Setelah puas menangis akupun melepaskan pelukan itu, dan berusaha keluar dari mobil mengingat kini aku sudah sampai di depan rumahku.


“Lepas..!!” akupun keluar dan berlari masuk kerumah dalam keadaan hatiku yang kacau, tubuhku lemas dan aku hanya bisa menangis dengan semua yang sudah terjadi selama ini.


__ADS_2