Mantan Pacar

Mantan Pacar
40. Rencana


__ADS_3

Waktu sudah menjelang pagi namun keberadaan Rion masih belum diketahui, bahkan semalaman April sama sekali tidak tidur dan kondisinya juga semakin memprihatinkan, Januari beberapa kali berusaha membujuk April makan dan juga beristirahat tapi April menolak.


Atika merasa sedih melihat wanita yang dia anggap kakanya itu terlihat kacau, dia juga khawatir dengan kondisi Rion yang keberadaanya entah dimana, meskipun anak itu kadang membuat Atika kesal tapi Rion adalah anak yang lucu dan juga pintar.


"Bagaimana apakah sudaha ada perkembangan?" Januari terus memantau anak buahnya yang sampai sekarang masih belum menemukan titik keberadaan sang anak.


"Pak kami menemukan dua titik, namun sepertinya penculik itu ingin mengelabuhi kita sehingga mobil yang membawa tuan muda kemarin terdapat di dua titik, dengan nomor plat yang sama pula!"


"Cepat cari di kedua tempat itu, kerahkan seluruh anggota!"


Januari nampak frustrasi dengan sang anak yang masih juga belum menemukan titik terang.


Tatapan Januari teralih melihat kondisi sang istri yang terus meracaukan nama sang anak dan memeluk foto Rion.


"April, April!" Fokus Januari teralih ketika mendengar seseorang meneriaki nama sang istri.


Seorang laki-laki yang masih mengenakan baju pilot itu terlihat panik, dia berlari menghampiri April.


"Dewa... Ri..on" ucap Apri dengan nada lirihnya, Laki-laki itu langsung memeluk April dengan eratnya dan membuat hati Januari sedikit memanas.


"Kenapa ini bisa terjadi, tadi setelah landing aku diberi tahu oleh Atika"


"Aku juga ngak tahu, dia tidak ada ketik aku menjemputnya di sekolah, ini juga salah aku yang terlambat menjemputnya, salah aku, ini saah aku Wa!" April meracau dan terus menangis


"Anak buah ku sudah menemukan dua titik tapi itu belum pasti soalnya penculik itu sepertinya menjadikan Rion sebagai umpan, dan yang di inginkan oleh penculik itu sepertinya aku"


"Maksud anda apa tuan Januari?" Dewa masih bingung dengan kondisi yang baru dia ketahui itu.

__ADS_1


"Selama hampir lima tahun ini, perusahaan saya hampir terancam bangkrut dan juga di miliki oleh orang lain, selama dua minggu ini saya di jakarta mengurusi semua masalah itu, bahkan dalam kasus ini banyak yang janggal sehingga membuat saya harus bekerja ekstra, dan perusahaan saya sekarang sudah mulai membaik, mungkin karena itu orng dibalik terancamnya perusahaan saya menculik Rion sebagai umpannya."


"Tapi kenapa harus Rion mas, dia masih kecil hikss hikss!"


"karena kalian berdua kelemahan aku Pril!" januari tertunduk, bahkan hatinya sama hancurnya seperti sang istri, barus saja beberapa bulan ini dia merasakan kehadiran


sang anak dan sekarang harus terpisahkan lagi.


Dewa hanya terdiam, namun dia nampak terpikir dengan pesawat mainan kesayangan Rion yang selalu dia bawa kemanapun.


"Pril, apa kemarin Rion membawa pesawat kesayangannya ke sekolah?" tanya DEwa memastikan


" Tentu dia selalu membawanya kemanapun, memangnya kenapa Wa?"


"Aku baru ingat, pesawat itu aku beli di Prancis, dan mainannya itu disertai dengan chip kita bisa melacak chip itu jika memang benar Rion membawanya!" penjelasan Dewa membuat sedikit harapan bagi April dan juga Januari.


**


"Bibi, Momy kapan jemput aku sih! kan aku bosen, mau makan masakan momy!" Rion terlihat kesal dengan keberadaanya kini yang tanpa sang momy.


"Sebentar lagi mungkin, sekarang mending kamu main!" wanita yang di panggil bibi itu nampak kesal juga karena Rion tipikal anak yang bawel dan juga sering mengoceh.


"Yaudah ion main dulu ah sama paman!" anak laki-lak itu berlari ke halaman rumah dan melihat beberapa pengawal yang sedang memangku senjata api.


"Yuhuuu, pama main yuk!" Teriak Rion kearah para pengawal, sementara mereka yang di teriaki oleh Rion sebagiannya berusaha kabur, karena malas jika harus bermain dengan anak seperti Rion.


"Tuh anak ngak ada bosen nya apa, main mulu!" gerutu seorang lelaki dengan perawakan besar dan kulit hitam

__ADS_1


"Paman, ayuk main pesawat sama ion!" Rion memeluk pesawat mainannya dan mengajak beberapa para pengawal untuk bermain dengannya.


"Kamu main sendiri aja sana, paman lagi ada tugas nih!" Jawab salah satu dari mereka.


"Yah, ngak bibi, ngak paman semuanya ngeselin huaaaa!"


"E..ee..h kenapa nangis nih anak, bisa berabe kalau sampai bos denger!"


"Yaudah kita main, tapi jangan nangis!"


"yeyy!!"


Bocah itu nampak senang dan menerbangkan mainan pesawat dengan tangannya, dan seorang pengawal memangku Rion.


"Pesawat terbang tinggi, huuusssss!" Rion tertawa bahagia, bahkan anak itu tidak pernah memikirkan bagiamana sang ibu yang kini kewalahan mencari keberadaanya.


**


Januari, Dewa dan juga April melihat layar Laptop, seorang anak buah Januari sedang meng operasikan nya dan mencari keberadaan Rion.


Mereka nampak serius melihat layar Laptop itu, dan sebuah titik merah muncul di yang menandakan letak keberadaan sang anak.


"letaknya sama engan apa yang anak buah ku beritahu tadi!" ucap januari


"Kita jemput Rion sekarang, mas!" April sudah sangat bahagia akhirnya dia menemukan titik keberadaan sang anak.


"Kita atur strategi dulu, karena penculik itu membuat dua titik, aku takutnya dia akan memberikan jebakan" Dewa memberikan saran agar tidak langsung pergi ke tempat itu.

__ADS_1


"Dewa benar, kita harus lebih pintar dari si penculik agar tidak membahayakan Rion!" April hanya bisa mengikuti saran dari kedua laki-laki itu, karena dia juga tidak bisa gegabah apalagi keselamatan sang anak adalah hal yang paling penting.


__ADS_2