Mantan Pacar

Mantan Pacar
42. Balikan?


__ADS_3

Januari hanya bisa menutup matanya ketika moncong pistol itu mengarah ke kepalanya, dia hanya bisa berdoa dan kini di pikirannya hanya ada sang istri dan juga Rion sang anak.


DORR


ARGHHHH...


Bunyi tembakan itu menggema di dalam ruangan itu, namun Januari sama sekali tidak merasakan ada peluru yang mengenai anggota badannya.


Perlahan matanya dia buka dan melihat Vanya yang sudah bersimbah darah dengan peluru yang mengenai dadanya.


"Kalian sudah kami kepung!" Januari menatap beberapa pengawal yang tadi memukulinya di sergap oleh polisi, dan tatapannya kini dia alihkan ke seorang lelaki yang masih memegang pelatuk pistol yang tak lain adalah Dewa.


Beberapa anak buah Januari datang dan melepaskan ikatan yang ada di badannya, sementara para polisi mengamankan Vanya dan anak buahnya.


"Anda sudah aman sekarang!" Januari hanya mengangguk dan menahan sakit, kini darahnya sudah mengalir deras di tangan kanannya.


"Rion...!"


"tenang mereka sudah aman, kalian!, bawa bos mu ini ke ambulan!" beberapa anak buah Januari mengangguk, Januaripun merasa lega ketika anak dan juga istrinya kini baik-baik saja.


"Terimakasih!" Ucap Januari sementara Dewa hanya mengangguk.


Vanya dan beberapa anak buahnya sudah di amankan oleh pihak berwajib, dan kini Januari tengah mendapatkan perawatan dari pihak medis untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kanannya.


Kejadian hari ini tentulah sangat berat apalagi dia mendapatkan fakta bahwa selama ini Vanya yang dia anggap sebagai sahabatnya dulu itu, ternyata hanya ingin membalas dendam kepadanya dan juga April, bahkan perbuatannya yang mengakibatkan Januari dan Aril putus adalah wanita itu, kemudian lima tahun yang lalu wanita itu juga yang menghancurkan pernikahannya dengan sang istri April. bahkan kenyataan yang harus dia terima perusahannya pun berusaha di hancurkan oleh wanita itu, hingga menculik Rion dan menjadikannya umpan.


Setelah pemeriksaan selesai dan peluru di lengannya berhasil di ambil, kini Januari masih dalam keadaan terbaring akibat obat bius.


Jika di tanya keadaan April bagaimana, maka jawabannya wanita itu tidak baik-baik saja, bahkan ketika tahu sang suami terkena tembakan dia kembali menangis dan mengkhawatirkan laki-laki yang selama ini ia berusaha benci.

__ADS_1


"Udahlah jangan sedih mulu, lagian suamimu itu udah baik-baik ajah!" Tukas Dewa yang menatap kesal sang sepupu, pasalnya selama ini dia mengungkapkan kebenciannya terhadap suaminya, namun kini dia yang paling menyedihkan ketika tahu suaminya masuk rumah sakit.


"Iya mbak, udah ya jangan nangis terus sekarang Rion udah sama kita, lagian kita juga tinggal nunggu pak Januari siuman!" april hanya bisa mengangguk ketika mendengar ucapan dari Dewa dan Atika, kini dia mengusap Rion yang tidur di pelukan Dewa dengan pulas nya.


Januari perlahan membuka matanya, pandangannya sedikit terasa silau ketika melihat suasana yang begitu terang, kini di tersadar dan kondisinya perlahan membaik.


"Mas kamu udah sadar!" April begitu senang melihat sang suami yang kini telah sadar


"Jangan banyak gerak dulu yah!" Dengan perlahan April membantu Januari yang ingin duduk, bahkan laki-laki itu masih menggunakan selang infus.


"Rion?" Ujar Januari


"Itu, dia tadi ketiduran!" tunjuk April ke arah Dewa dan Atika yang kini tengah duduk di sofa dan menjaga Rion yang masih tertidur.


"Maaf, gara-gara aku semuanya jadi kacau begini!" Januari sangat menyesal dengan semuanya, bahkan mungkin ini bisa di katakan karmanya dulu yang sering gonta ganti pacar, dan apa yang di katakan oleh istrinya dulu itu memang adanya jika dirinya itu seorang playboy, sebelum mengenal April.


"Tapi Pril, aku adalah suami dan ayah yang buruk bagi kalian, bahkan aku sudah membahayakan nyawa anak kita!"


"Sudah ya mas, lagian Rion juga baik-baik ajah sekarang dia sudah sama kita, oh iya aku ingin tanya perihal Vanya, yang sedikit buat aku kaget juga"


"Mas juga ngak tahu awalnya kaya gimana, tapi dia menyalahkan mas atas kematian adiknya yang bunuh diri, kamu tahu kan teman sekelas kamu yang namanya Rani, mantan mas sebelum sama kamu" April berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Vanya bilang kematian Rani itu di akibatkan oleh mas, karena dia bunuh diri itu tidak terima di putuskan oleh mas dan kemudian mas pacaran sama kamu, dia depresi hingga kahirnya bunuh diri, kepergian adiknya sangat mengguncang keluarganya, terutama ibunya vanya, dia bilang ibunya masuk Rumah Sakit Jiwa karena stres dan depresi melihat kepergian anaknya, dan sebenarnya aksi Vanya bukan hanya ini saja, alasan putus kita dulu itu semua rencananya, bahkan lima tahun yang lu juga, dan yang terakhir dia mulai menghancurkan perusahaan mas dan menculik Rion".


Penjelasan Januari membuat April sedikit takut dengan Vanya, karen perasaan dendamnya itu begitu besar sehingga dia tidak segan-segan menghancurkan dan membunuh Januari.


"Tapi aku jadi merasa bersalah juga dengan kepergian Rani, karena ketika itu kita tahu kalau Rani hanya Overdosis obat bukan bunuh diri!"


"Yang, ini bukan salah kita, lagian aku sama Rani putusnya udah lama, bahkan sebelum aku pacaran sama kamu juga, sekarang kita hanya bisa mendoakan Rani saja, itu yang terbaik untuknya" April hanya mengangguk, dia juga tidak bisa menyalahkan dirinya karena, masalah ini juga sudah bertahun-tahun berlalu.

__ADS_1


"Jadi kamu maafin aku?" April mencebikan bibirnya, dan tatapan yang awalnya sedih dan khawatir berubah kesal.


"Ngak yah!" Tegas April, karena bagaimana pun dia masih merasakan sakit akan kejadian lima tahun yang lalu.


"Anak sialan!!" April dan Januari terkejut dengan kedatangan papah dan juga mamahnya, dengan keadaan wajah yang kesal dan emosi.


"Pah, mah" Cicit Januari


Buk Buk


"Anak sialan, berani sekali kamu menutupi penculikan cucuku, bahkan sekarang kamu hampir saja mati, dasar anak sialan!"


"Aw, aw, mah sakit ih aku baru selesai operasi loh!" ucap Januari dengan ringisan.


"Pril, mana cucu papah?"


"Itu pah!" tunjuk april kearah sofa, kini mereka tersenyum melihat Rion yang tertidur di pangkuan Dewa, sementara laki-laki itu juga tertidur dengan posisi duduk dan Atika menyandarkan kepalanya yang ikut tertidur juga.


Cekrek


"Mah, kenapa di foto?" tanya April


"Mereka udah kaya keluarga kecil yang bahagia yah, aduh manis sekali" April, Januari serta papahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang ibu yang ajaib.


"Pah, kenapa malam-malam sih kesini nya, kan bisa besok pagi" Ujar Januari ke arah sang ayah yang kini menduduki kursi disamping brankar.


"Salahin mamah mu yang panik ngak karuan ketika tahu cucunya di culik dan kamu di tembak, papa bela-bela terbang malam ke sini, tapi syukurlah Rion baik-baik saja, kenapa Rion yang harus di culik sih kalau mangsanya kamu, kalau kamu ke tembak, papah mah bodo amat, tapi kalau Rion udah papah bunuh tuh sekarang wanita itu!"


"Iya-iya tahu, sekarang aku bukan lagi anak mamah sama papah, jadi kalau aku matipun, kalian ngak peduli!" April terkekeh melihat suaminya yang merajuk, bahkan kini wajah suaminya terlihat sangat lucu ketika merajuk.

__ADS_1


__ADS_2