
Atika sedikit kesal dengan apa yang terjadi hari ini ketika mendengar adiknya kecelakaan motor apalagi penjelasan polisi yang membuatnya sangat khawatir dan tak berhentinya dia menangis ketika di pesawat.
Keadaan yang awalnya dia fikir sangat kritis atau banyak luka yang di dapatkan oleh adiknya, namu kenyataannya Sean hanya cidera kaki biasa dan tidak perlu ada yang di khawatirkan.
Setelah melihat kondisi sang adik, kini Atika memilih keluar dari ruangan sang adik dan mencari makan dengan di temani oleh Dewa, laki-laki itu masih mengintilinya sampai sekarang.
Mereka sampai di restoran dan memesan menu, perasaan Atika sekarang sedikit lega kini adiknya sudah baik-baik saja.
"Mas Dewa nginep dimana malam ini?"Tanya Atika ke laki-laki yang duduk di hadapannya itu.
"Paling nanti aku reservasi Hotel deket-deket sini, kamu mau langsung ke Rumah sakit habis ini?"
"Kayanya aku mau pulang aja deh ke rumah, lagian keadaan Sean juga sudah membaik, aku juga mau lihat-lihat rumah soalnya udah hampir setengah tahun aku juga ngak pulang" Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makan.
"Kalau mau nginep di rumah Tika juga boleh mas, lagian banyak kamar kosong ko!"
"Uhuk uhuk" Dewa sedikit terkejut mendengar ajakan dari wanita di hadapannya itu, bahkan kini da tengah meminum air putih karena rasa tersedak nya.
"Udah ngak papa kan mas?" Tanya atika yang khawatir.
"iya saya ngak papa ko, memangnya kalau saya menginap tidak papa? kamu kan gadis sementara saya pria lajang!"
"Ngak papa ko mas, lagian di rumah juga ada beberapa pembantu, ada beberapa kama yang kosong dari pada harus reservasi sayang kan uangnya, anggap saja ini ucapan terimakasih aku karena mas tadi nganterin aku ke Rumah sakit" Dewa mengangguk dan menyetujui usulan dari Atika.
Setelah menghabiskan makan malam, keduanya kini tengah berada dalam perjalanan menuju kediaman Atika, mobil masuk ke pelantaran rumah yang cukup besar.
Keduanya kini keluar dari mobil dan memasuki rumah, suasana asri di depan rumah membuat Atika rindu dengan tempat kelahirannya itu, bahkan putaran kenangan bersama mendiang kedua orangtuanya tergambar jelas.
"Makasih yah bi, maaf ngerepotin" ujar Atika ke pelayan rumahnya yang telah membukakan pintu rumah.
"Iya non, kamar tamunya sudah saya siapkan, non sudah makan? kalau belum saya siapkan makanannya"
__ADS_1
"ngak usah bi, saya sudah makan, bibi lanjut istirahat ajah!" pelayan itu mengangguk dan meninggalkan kedua orang itu.
Kini Atika membawa Dewa ke kamar tamu yang cukup besar, meskipun tak sebesar kamarnya yang berada di surabaya, namun cukup nyaman dan juga rapih.
"mas bisa istirahat disini sampai pekerjaan mas beres di jakarta juga ngak papa, lagian rumah ini juga nampak sepi penghuninya sedikit" ucap Atika yang kini menatap miris ke arah sekitar kamar.
"Aku ke kamar dulu yah, kamar mandinya udah lengkap ko, jadi mas bisa mandi sama ganti baju juga" Atika pergi dari kamar itu menuju kamarnya.
Atika hanya bisa menghela nafasnya ketika mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar yang sangat jarang dia tempati, setelah kepergian Atika ke Surabaya dia jarang sekali pulang ke rumah ini, pasalnya pulangpun semuanya akan tetap hampa seperti biasanya.
Setelah melakukan ritual mandinya, kini Atika sudah memakai piyama tidur, namun sedari tadi matanya sangat sulit dia pejamkan, bahkan kini rasa kantuknya sama sekali tidak ada.
Wanita itu menghela nafasnya dan keluar dari kamar, dia berjalan menuju dapur untuk minum, fikirannya kini berkecamuk antara ingin menangis dan marah akan takdir yang dia dapatkan.
"Belum tidur?" Atika tersentak melihat Dewa yang kini menghampirinya, laki-laki itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan juga celana panjang.
"Belum mas, mas haus juga kah?" Atika sedikit kikuk karena kini dia juga sedikit salah tingkah berhadapan dengan laki-laki dihadapannya.
"saya ngak haus, kamu kenapa belum tidur? tadi kan kamu perjalanan jauh pasti capek"
"Saya belum ngantuk, oh ya ada yang mau saya bicarakan sama kamu"
"yaudah kalau begitu kita ke ruang tamu ajah, masa bicaranya sambil berdiri begini"
Keduanya kini tengah berjalan menuju ruang tamu, setelah itu mereka duduk saling berdampingan, bahkan suasana menjadi canggung.
"Mas mau bicara apa?"
"Saya hanya penasaran, April bilang kamu dari keluarga biasa kedua orangtua kamu sudah meninggal dan kamu ikut ke surabaya karena ingin membiayai adikku kuliah, tapi setelah apa yang aku lihat sepertinya kamu bukan dari keluarga biasa apalagi adik mu, aku pernah melihatnya ketika seminar dia menjadi salah satu narasumber pembisnis muda, jadi bisa kamu jelaskan?"
Atika sedikit tertegun mendengar ucapan Dewa, pasalnya dia awalnya tidak ingin bohong namun dia juga malas jika harus menceritakan perihal keluarganya.
__ADS_1
"Maaf jika kesannya membohongi mas ataupun mbak April, Apa yang da dalam pikiran mas tentang aku berasal dari keluarga berada memang benar, ayahku seorang pembisnis bahkan kekayaannya cukuplah luas dan banyak, sedangkan mamah dia hanya ibu rumah tangga biasa selain itu beliau juga seorang desainer karirnya tak sebagus ayah, di masa ke jayaan nya, tanpa sepengetahuan mamah, dia menikah lagi dengan wanita lain, hingga ketika itu aku berada di bangku SMP dan mendengar langsung dari ayah, bahwa dia mempunyai istri selain mamah, mereka bertengkar hebat, keluarga yang aku pikir harmonis dan baik-baik saja ternya memberikan luka yang cukup dalam bagiku, Sean sebenarnya dia adalah adik tiri ku dari istri kedua ayah, namun isti kedua ayah meninggal saat melahirkan Sean, singkat cerita ayah membawa pulang seorag anak laki-laki yang masih berumur 8 tahun, beberapa minggu setelah mendengar kenyataan itu mamh mengajukan perceraian yang berujung bunuh diri, dan dua bulan setelahnya ayah meninggal karena kecelakaan, tinggal lah aku dan Sean setelah kejadian itu aku lebih menutup diriku dan enggan menceritakan kehidupan pribadiku ke semua orang, karena pada akhirnya aku hanya seorang gadis yatim piyatu dan mempunyai seorang adik laki-laki itu saja"
Dewa tertegun mendengarkan kisah hidup wanita yang ada di hadapannya itu, bahkan sampai saat ini dia masih bisa tersenyum meskipun banyak rasa sakit yang dia rasakan.
"Maaf, saya ngak bermaksud untuk membuka luka lama kamu" cicit dewa
"Ngak papa ko mas, aku juga tidak akan mungkin menutupi ini selamanya bukan, lagian aku juga sudah berbaikan dengan masa lalu jika dulu aku sempat membenci Sean, namun kini aku sangat menyayangi adik kecilku itu"
"lalu kenapa kamu lebih memilih ikut April dari pada adikmu"
"saat itu Sean sudah SMA, awalnya juga aku sedikit berat, namun Sean lah yang menyarankan aku untuk pergi ke Surabaya, dia bilang aku butuh suasana baru, meskipun aku sudah memaafkan semuanya tetap Sean sering melihatku melamun dan menagis kemudian dengan adanya kehadiran mbak April juga Rion memberikanku banyak warna di setiap harinya, dan sekarang aku juga tidak khawatir perusahaan sudah Sean pegang."
Dewa menatap prihatin ke arah Atika, wanita itu terlihat menahan tangis bahkan dia terus tersenyum meskipun Dewa tahu hatinya tidak baik-baik saja. Perlahan Dewa meraih tubuh Atika ke dalam pelukannya terlihat tubuh wanita itu bergetar.
"Menangis lah" ujar Dewa
Atika wanita itu kini tengah menagis meluapkan segala rasa sedih dan marahnya, bahkan kini tangisannya mulai kencang dari dulu yang dia butuhkan adalah sandaran, namun dia sama sekali tidak menemukan tempat itu, arena dia selalu berusaha terlihat bahagia di hadapan adiknya karena bagaimanapun dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya meskipun Sean sering melihat tangisan diam-diamnya.
"Kamu punya saya sekarang, jadi jika kamu butuhkan sandaran maka saya siap menjadi temat sandaran kamu"
Perlahan Atika melepaskan pelukannya dia menatap ke arah Dewa "tapi ini salah mas, lagian kita bukan siapa-siap jadi rasanya akan..."
belum selesai Atika menjawab namun kini laki-laki di hadapannya itu sudah mencium bibirnya, bahkan ciuman itu sudah menjadi ******* yang membuat keduanya terhanyut, Atika yang awalnya kaget merasakan ciuman yang Dewa berikan namun kini dia menikmatinya.
Deru nafas keduanya terdengar, bahkan kini mereka seperti enggan melepaskan ******* di bibir keduanya.
"Eunghhh, mas ini..."
"Sttt" kini ucapan Atika ditahan oleh telunjuk Dewa, dia tahu wanita itu ingin protes.
"mulai sekarang kamu milik saya, jadi stop protes" Atika mendelikan alisnya namun pipinya terasa memanas mendengar ucapan dari Dewa.
__ADS_1
Dewa kembali ******* bibir Atika, keduanya semakin terhanyut dengan setiap cumbuan dan sepertinya duni sekarang hanay milik mereka berdua.
"Saya cinta sama kamu"