Mantan Pacar

Mantan Pacar
34. Cemburu


__ADS_3

Hari weekend ini April dan Rion pergi ke taman bermain dengan di temani oleh Karen, seperti janji awal Karen yang ingin lebih dekat dengan Rion, sementara April hanya mengiyakan saja meskipun terkadang dia juga bingung karena dirinya masih berstatus istri orang.


Rion sedang menikmati setiap permainan yang ada di taman itu, sedangkan April dan Karen menunggu juga memperhatikan Rion dari kursi taman.


"Jadi gimana jawaban tentang keseriusan saya Pril?" April sedikit terhenyak kala mendengar ucapan Karen, jujur dia masih belum mau dan. sanggup memulai hubungan batu sedangkan hubungannya masih terikat dengan Januari.


"Kita sudah bicara ini sejak awal kan mas, aku masih istri orang dan kalaupun aku bercerai nantinya, aku masih belum mau berhubungan. Fokusku sekarang hanya Rion!" Balas April sedangkan Karen hanya bisa menghela nafasnya.


"Tapi kita bisa mencoba Pril, sedikit demi sedikit, aku janji kalau memang akhirnya kamu tidak mau, aku juga tidak akan maksa!"


"Sepertinya akan sangat sulit mas, kemarin mas Janu datang dia juga sepertinya sudah dekat dengan Rion, aku belum bisa janji mas, karena sekarang banyak hal yang harus aku selesaikan dengan mas Janu, aku tidak ingin lari lagi, maaf yah mas!"


Sangatlah sulit berada di kondisi ini, Karen memang baik tetapi selama bertahun-tahun dia mendekatinya, April hanya merasakan kenyamanan seperti seorang adik kepada kakaknya.


April juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika kalau perasannya terhadap Januari masih ada, meskipun rasa benci yang mendominasi hatinya, tapi Januari bukanlah sosok yang bisa dengan mudah dilupakan, banyak kenangan-kenangan didalamnya, walaupun hampir semua kenangan itu menyakitkan.


"Baik, tapi kalau begitu, selesaikan dulu permasalahan kamu, saya akan menunggu dan jika Januari kembali menyakiti kamu, saya Ngak akan segan-segan untuk membalasnya!"


April dengan penuh perasaan bingung yang menyelimutinya, disatu sisi dia tidak ingin menyakiti Karen yang selama ini baik terhadapnya, tapi disisi lain di juga tidak mencintai Karen, bahkan juga juga masih ragu akan statusnya kini yang masih menjadi istri seorang Januari.


Dari jauh sepasang mata terus memperhatikan dua sejoli itu dengan perasaan cemburu dan marah, ingin sekali dia memukul laki-laki yang berani mendekati istrinya itu.


Namun dia berusaha untuk tidak melakukan hal gegabah yang akan membuat sang istri semakin membencinya.


"Awas Loe bang, gue ngak akan biarin Loe untuk dekati April!" Januari menatap dengan rahang yang mengeras serta wajah penuh emosi.


Sungguh Januari sudah tidak tahan dengan semua ini, bahkan dia ingin sekali mengatakan kepada semua orang bahwa April adalah istrinya. Hingga tidak akan ada orang yang berani dan mencoba mendekati miliknya.

__ADS_1


Januari masih mengikuti kegiatan ketiga orang itu hingga waktu menjelang sore, setelah melihat Karen pergi dengan mobilnya, Januari memutuskan untuk bertemu dan membicarakan tentang ketidak sukaannya terhadap Karen.


"Om Pesawat!" Teriak Rion yang membuat April langsung menoleh kepada orang yang dipanggil oleh anaknya itu


"Haiii!" Rion berlari menghampiri Januari dan langsung memeluknya.


"Jagoan Om habis dari mana? hemm!" ucap Januari dengan nada lembutnya.


"ion habis sama jalan-jalan Momy dan Om Karen!" Jawab Rion terlihat anak laki-laki sangat bahagia kala menceritakan kegiatannya hari ini.


"Rion masuk dulu yah, om mau bicara dulu sebentar sama Momy Rion, Boleh kan?" Rion langsung mengangguk dan turun dari pangkuan Januari kemudian masuk kedalam rumah.


"Apalagi sihh!" Tanya April dengan wajah ketusnya itu.


"Pril kamu itu masih istri sah aku, jujur aku Ngak suka kamu jalan sama bang Karen, atau laki-laki lain!" Kini Januari berucap dengan nada yang sedikit tegas.


"Tapi dia juga suka sama kamu!" Januari merasa kesal dan ingin sekali meluapkan amarahnya namun, dia juga tidak ingin April semakin membencinya.


"Dan aku juga Ngak suka sama Mas Karen! Aku hanya anggap dia sebagai pamannya Rion itu saja!, Lebih baik kamu pergi!'" April menatap laki-laki didepannya dengan kesal.


"Aku Ngak akan pergi Pril, aku ingin memperbaiki semuanya, Rion butuh sosok ayahnya Pril, aku mohon kali ini kamu jangan egois yah!"


"Egois kamu bilang? Apa kamu pernah mikir ketika dulu kamu lebih membela wanita lain dibandingkan istri kamu sendiri, apa kamu juga pernah mikir ketika kamu sakiti aku berulang kali! Ngak kan? bahkan ketika kamu lakukan itu pernah ngak kamu mikirin dulu perasaan aku!" April terlanjur emosi sejadi-jadinya.


"Aku minta maaf Pril, aku ingin perbaiki semuanya, bahkan setelah kamu pergi hari itu, aku tersiksa dengan kesalahan yang aku buat, aku nyesel Pril !" Mata Januari sudah berkaca-kaca, laki-laki itu menunduk dengan segudang penyesalan.


"Setelah aku maafin kamu untuk kesekian kalinya, lalu kamu sakitin aku lagi gitu!" Ucap April dengan nada sinisnya

__ADS_1


"Ngak Pril aku janji!" Januari memohon penuh dengan tatapan memelasnya


"Dulu juga kamu janji!, tapi buktinya apa? kamu lagi-lagi nyakitin aku, bahkan lebih sakit dari perbuatan kamu sebelumnya!" April berteriak, kesabarannya sudah habis, rasa sakitnya tidak akan pernah bisa terobati begitu saja.


"Aku.. janji, aku akan buktikan semua itu Pril, maafin aku yah, kita kembali lagi kaya dulu, aku cinta sama kamu, aku Ngak mau kehilangan kamu lagi!"


"Sebaiknya kamu pergi!" ujar April dengan begitu dinginnya.


April meninggalkan Januari yang masih memohon kepadanya, tatapannya mungkin seperti sudah tidak peduli, namun hatinya berkata lain, rasa benci dan cintanya masih mendominasi hati kecilnya.


Grep


Tubuh April menegang kala ia ingin membuka pintu namun Januari memeluknya dari belakang, pelukan itu masih terasa hangat dan nyaman.


April tidak bisa membohongi hatinya lagi kala mendapatkan pelukan itu, meskipun kenangan tentang Januari lebih banyak rasa sakitnya, namun dulu mereka saling jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.


Apalagi ketika mengenang masa ketika mereka menjadi pasangan kekasih, banyak hal indah yang mereka lewati, dan kenangan-kenangan itu akan sangat sulit dilupakan begitu saja.


"Maafkan aku, sayang!" Januari menangis kala memeluk istrinya, rasa rindu dan penyesalan memenuhi dirinya.


"Aku cinta sama kamu, aku Ngak ingin kehilangan kamu, aku nyesel, maafin aku yah!" April hanya mematung tanpa mau membalas pelukan atau ucapan Januari.


Dirinya hanya masih belum siap untuk menghadapi semua ini lagi, apalagi ketakutan yang masih di rasakan akan rasa sakit.


"Lepas!" Ucap April dengan lirihnya, dia berusaha untuk melepaskan pelukan Januari.


"Pergilah, aku harus menyiapkan makan malam untuk Rion!" Ujar April dengan dinginnya dan masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Januari menatap lekat pintu yang sudah tertutup itu, dia hanya tersenyum lirih


__ADS_2